BREAKING NEWS
 

FBI Turun Tangan Hadapi Modus Baru Kejahatan Digital

AS Dan Indonesia Sinergi Perkuat Benteng Siber

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 8 Agustus 2026 06:30 WIB
Acting Director INL Kedubes AS Jakarta Justin Brown (ketiga kanan), FBI Law Enforcement Attaché Kedubes AS Jakarta Robert Lafferty (keempat kanan), Sekretaris Ditjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi Mediodecci Lustarini (kedua kanan), Kepala Direktorat Penanganan Aktivitas Keuangan Ilegal OJK Hudiyanto (kanan), praktisi keamanan siber dari Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Satriyo Wibowo (keempat kiri), Government Affairs and Public Policy Manager Google Indonesia Agung Pamungkas (ketiga kiri), dan jurnalis senior CNN Indonesia Rully Kurniawan pada acara diskusi publik soal pemberantasan kejahatan siber di america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id

 Sebelumnya 
Dalam sesi panel, para pembicara sepakat pola kejahatan siber di Indonesia mengalami pergeseran. Jika sebelumnya serangan lebih banyak menyasar sistem atau infrastruktur teknologi, kini pelaku lebih memilih mengeksploitasi kelemahan manusia melalui rekayasa sosial, penipuan digital, dan berbagai modus manipulatif.

Adsense

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Mediodecci Lustarini mengatakan, perlindungan individu kini menjadi prioritas Pemerintah.

Menurutnya, selain meningkatkan literasi digital masyarakat, Pemerintah juga mendorong platform digital membangun sistem keamanan sejak tahap perancangan (safety by design).

Baca juga : Pram Bongkar Penyebab SDN 01 Cipete Mangkrak

“Kita tidak hanya menuntut masyarakat melek digital, tapi juga mewajibkan platform memiliki tanggung jawab menghadirkan sistem perlindungan bagi penggunanya,” ujarnya.

Ancaman penipuan digital juga menjadi perhatian serius sektor jasa keuangan. Kepala Direktorat Penanganan Aktivitas Keuangan Ilegal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hudiyanto mengungkapkan, Indonesia menerima sekitar 1.000-1.300 laporan penipuan digital setiap hari.

Untuk memutus aliran dana hasil kejahatan, Pemerintah membentuk Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) serta Anti-Scam Center yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Baca juga : Sepakbola Korsel Sarang Nepotisme

Di samping itu, sektor swasta juga memperkuat perlindungan digital. Government Affairs and Public Policy Manager Google Indonesia Agung Pamungkas menjelaskan, pemanfaatan kecerdasan buatan dan sistem keamanan bawaan kini menjadi garda terdepan dalam mendeteksi aplikasi maupun tautan berbahaya secara otomatis.

Menurutnya, pelaku penipuan digital tidak hanya mengincar masyarakat yang aktif menggunakan teknologi, juga kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia) dan masyarakat dengan akses digital terbatas.

Praktisi keamanan siber Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Satriyo Wibowo mengingatkan masyarakat agar lebih disiplin menjaga data pribadi dan tidak mudah merespons pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Baca juga : Susul Jannik Sinner, Zverev Kantongi Tiket ATP Finals

“Jika menerima pesan mencurigakan dari nomor asing tanpa identitas yang jelas, sebaiknya tidak perlu dibalas. Abaikan, tutup, atau langsung hapus,” imbaunya. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 8 Agustus 2026 dengan judul "FBI Turun Tangan Hadapi Modus Baru Kejahatan Digital AS Dan Indonesia Sinergi Perkuat Benteng Siber"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense