RM.id Rakyat Merdeka - Kawasan Arktik kini bukan lagi sekadar wilayah es dan salju. Perebutan pengaruh, sumber daya alam, jalur pelayaran, hingga kepentingan keamanan membuat kawasan di lingkar kutub tersebut semakin panas. Rusia, Amerika Serikat (AS), China dan negara-negara Eropa berlomba-lomba memperkuat kepentingannya di kawasan tersebut.
Di tengah situasi itu, sejumlah pemimpin Uni Eropa (UE) berkumpul merapatkan barisan di Rovaniemi, Finlandia bagian utara, Senin (14/9/2026). Mereka membahas cara memperkuat keamanan Arktik.
Pertemuan digelar di tengah meningkatnya persaingan geopolitik di kawasan tersebut. Terlebih, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menempatkan Greenland, wilayah otonom Denmark, di bawah kendali Washington DC, telah memicu ketegangan di antara negara-negara sekutu.
Penasihat senior urusan Eropa bagi Perdana Menteri (PM) Finlandia Petteri Orpo, Tuomas Tikkanen, mengatakan bahwa pertemuan tersebut bertujuan memperkuat sikap bersama UE terhadap kawasan Arktik.
“Inti gagasannya adalah memperkuat pendekatan strategis bersama Uni Eropa terhadap Arktik dalam situasi saat ini. Signifikansi geopolitik dan ekonomi kawasan tersebut kian meningkat pesat,” ujar Tikkanen dikutip kantor berita Prancis Agence France-Presse (AFP), Senin (14/9/2026).
Tidak ada keputusan formal yang diharapkan dari pertemuan tersebut. Namun, agenda yang dibahas cukup luas. Mulai dari kepentingan ekonomi, perubahan lingkungan, hingga keamanan kawasan.
Para pemimpin juga dijadwalkan menyampaikan pernyataan bersama dalam jamuan makan malam setelah pertemuan, Senin (14/9/2026).
Baca juga : Kirana Larasati Menang Dibenci, Kalah Diomongin
Pertemuan para pemimpin Eropa ini juga menjadi pemanasan sebelum Komisi Eropa meluncurkan strategi Arktik baru dalam beberapa pekan mendatang. Strategi tersebut akan menjadi panduan UE dalam menyikapi perkembangan kawasan Arktik untuk tahun-tahun mendatang.
Berbagai negara masih diberi kesempatan menyampaikan masukan yang dapat mempengaruhi dokumen akhir strategi tersebut.
Perhatian UE terhadap Arktik meningkat tajam sejak kebijakan terakhir mengenai kawasan itu diadopsi pada 2021.
“Situasi keamanan telah banyak berubah dan belakangan ini terdapat minat yang besar terhadap kawasan tersebut,” kata Tikkanen.
Adu Kepentingan
Arktik sedang berubah cepat. Pemanasan di kawasan tersebut berlangsung hampir empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Perubahan iklim ini tidak hanya mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat. Tetapi juga membuka akses lebih luas terhadap wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Bagi negara-negara besar, perubahan tersebut juga menghadirkan peluang baru. Es laut yang menyusut membuat sejumlah jalur pelayaran lebih mudah diakses dalam periode tertentu. Kondisi itu membuka kemungkinan baru bagi aktivitas perdagangan dan eksplorasi sumber daya.
Kesempatan tersebut langsung dilirik sejumlah kekuatan besar, Rusia, China dan AS. Kepentingannya beragam, mulai dari keamanan, sumber daya alam, hingga jalur perdagangan.
Baca juga : Prabowo Tak Mau Didikte oleh Negara Mana Pun
Jalur Laut Utara atau Northern Sea Route menjadi salah satu contohnya. Rute yang membentang di sepanjang pesisir utara Rusia tersebut selama ini terkendala kondisi es dan cuaca ekstrem. Kini, periode perairan bebas es yang lebih panjang membuat sejumlah negara mulai menguji kelayakan jalur tersebut.
Moskow selama bertahun-tahun mengembangkan infrastruktur, pelabuhan, armada pemecah es, serta kemampuan militernya di kawasan tersebut.
China dan Korea Selatan bahkan mengirimkan kapal peti kemas pada Agustus 2026 untuk melintasi Jalur Laut Utara di perairan Rusia. Keduanya tengah menguji kelayakan jalur tersebut. Periode bebas es yang semakin panjang setiap tahun membuat Jalur Laut Utara berpotensi menjadi rute perdagangan penting.
Meski bukan negara yang berada di kawasan Arktik, Beijing menyebut dirinya sebagai negara “near-Arctic” dan terus memperluas kepentingan ekonomi serta ilmiahnya di kawasan.
AS tidak mau tertinggal. Washington DC memandang Arktik sebagai kawasan penting bagi keamanan nasional. Terutama karena letaknya yang strategis dan kedekatannya dengan Rusia.
Di sinilah persoalan Greenland ikut masuk.
Trump berulang kali menyatakan AS perlu menguasai Greenland dengan alasan keamanan nasional. Pada awal 2026, Trump kembali menegaskan kepentingan Washington terhadap wilayah otonom Denmark tersebut.
Baca juga : Setelah Beras, Bawang Juga Ekspor: Sektor Pangan Membanggakan
Meski begitu, Trump kemudian mengesampingkan gagasan untuk mengambil alih Greenland dengan kekerasan.
Belajar dari kondisi tersebut, membuat Eropa waspada. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pun meluncurkan misi baru untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik.
Uni Eropa juga menunjukkan dukungannya terhadap Greenland. Saat mengunjungi Greenland pada 7 September 2026, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan paket bantuan senilai 200 juta euro atau sekitar Rp 4 miliar (kurs Rp 20.401) untuk Greenland.
“Ini bukti komitmen serius kami untuk lebih hadir dalam melindungi keamanan Greenland dan wilayah Arktik,” tegas von der Leyen.
Arktik yang selama ini identik dengan dinginnya suhu, justru berubah menjadi salah satu arena paling panas dalam persaingan geopolitik dunia. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 15 September 2026 dengan judul "Jadi Rebutan Rusia, AS & China, UE Rapatkan Barisan Suhu Arktik Yang Beku Kini Berubah Memanas"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.