RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) mengundang Venezuela menghadiri pertemuan tingkat menteri energi Group of 20 (G20) di Houston, Texas, AS, pada 14-16 September 2026. Undangan tersebut dinilai menjadi sinyal pergeseran pusat pasokan minyak bumi dunia dari kawasan Timur Tengah (Timteng).
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menegaskan, pergeseran tersebut diperlukan untuk menekan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timteng.
“Ini mengenai pergeseran pusat geopolitik minyak dari Timur Tengah yang mengalami gangguan di kawasan tersebut, menuju belahan bumi Barat,” ujar Burgum kepada Fox Business, dikutip AFP, Selasa (15/9/2026).
Baca juga : Maudy Ayunda , Minta Maaf Usai Dikritik Nirempati
Pertemuan di Houston digelar ketika negara-negara Eropa tengah berupaya mengisi kembali fasilitas penyimpanan gas menjelang musim dingin. Langkah itu dilakukan di tengah gangguan yang terjadi di pasar energi global.
Pertemuan itu dihadiri delegasi dari sejumlah negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Termasuk China, India, Jepang dan Jerman. Produsen minyak utama seperti Kanada dan Arab Saudi juga dijadwalkan hadir.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (14/9/2026), delegasi Venezuela diwakili Menteri Perminyakan Paula Henao dan Wakil Presiden perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, Jovanny Martinez.
Baca juga : Suahasil Ditugasi Kelola APBN Lebih Sehat & Kredibel
Venezuela bukan anggota tetap G20 sehingga kehadirannya berstatus sebagai tamu undangan.
Delegasi Venezuela tidak mengikuti sesi tertutup tingkat menteri. Namun, mereka tetap berpartisipasi dalam sejumlah pertemuan bilateral, forum sektoral dan agenda industri.
Undangan tersebut menjadi sorotan karena menandai pemulihan hubungan diplomatik yang berlangsung cepat antara Washington dan Caracas setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026. Langkah tersebut juga menyusul kesepakatan besar terkait sektor energi.
Baca juga : Warning BPOM Ke SPPG: Lebih Dari 4 Jam, MBG Basi
AS disebut mengamankan kendali mayoritas atas 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela yang tersebar di 17 ladang minyak melalui kepemilikan saham di perusahaan North American Blue Energy Partners (NABEP).
Pemerintah AS membutuhkan pasokan minyak Venezuela untuk meredam tingginya harga bahan bakar domestik yang melonjak akibat dampak perang AS-Iran.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.