Sebelumnya
Di COP26, Biden menegaskan kembali komitmen AS untuk bergabung dalam pembicaraan perubahan iklim. Ucapan itu semakin memperlihatkan keinginan AS untuk menantang China di kepemimpinan global.
Biden selalu menekankan, dirinya ingin bersaing dengan China dengan menghindari konflik. Tapi, pidatonya justru menunjukkan, ia menggunakan isu perubahan iklim sebagai senjata melawan Beijing.
Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, China memiliki kewajiban meningkatkan kepedulian terhadap isu perubahan iklim. AS akan terus menekan Beijing. Salah satu alatnya mungkin adalah sanksi ekonomi.
Baca juga : Presiden Jokowi Akan Hadiri KTT COP26 dan Sejumlah Pertemuan Bilateral
Biden juga menengahi kesepakatan dengan Uni Eropa (UE) untuk memblokir udara kotor yang mungkin diakibatkan pembangkit listrik tenaga batu bara China.
China dan AS berbeda pandangan tentang isu perubahan iklim. Biden melihat, upaya membatasi pemanasan global sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lewat inovasi.
Sementara China, masih melihat batu bara dan minyak bumi sebagai kebutuhan untuk terus mendorong ekonominya yang sekarang terbesar kedua di dunia. Xie Zhenhua, negosiator utama negara itu di COP26 mengatakan, China harus terlebih dahulu menjadi lebih kaya sebelum dapat bertransisi lebih cepat ke energi terbarukan.
Baca juga : Simulasi Beregu PBSI, Jonatan Dan Putri Menangkan Tim Harimau Atas Banteng
“Jadi mengenai fakta bahwa China adalah penghasil emisi terbesar saat ini, itu karena China berada pada tahap pengembangan khusus,” kata Xie.
AS juga masih memiliki banyak PR. Itu karena mereka mendapatkan sebagian besar energinya dari gas alam, dan batu bara dari negara lain. Biden mengakui, AS mendorong Negara Teluk untuk memompa lebih banyak minyak demi mengurangi harga bensin.
China telah berkomitmen memiliki ekonomi netral karbon pada 2060. Ini 10 tahun setelah AS. Pertanyaan untuk Biden mungkin adalah, seberapa besar perbedaan 10 tahun itu bagi dua kekuatan utama dunia itu. [PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.