BREAKING NEWS
 

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (57)

Mengakomodasi Kearifan Lokal

Selasa, 25 Juli 2023 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Keunikan yang dimiliki ­Islam, sebagaimana umumnya ­agama-agama lain, sering berhadapan dengan masalah kontekstual dan kontemporer rumit. Namun perlu dicatat ­bahwa meskipun Islam memiliki kekuatan toleransi dan adaptasi terhadap nilai-nilai kearifan lokal tetapi tetapi tegak di atas perinsip Ajaran Dasarnya.

Adsense

Kearifan lokal yang tidak sejalan atau bertentangan ­dengan Ajaran Dasarnya ­dengan tegas Islam menolaknya. Islam menge­nal dan memperjuangkan toleransi tetapi Islam juga memiliki konsep bid’ah, yaitu sebuah kriteria yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan ajaran mana yang perlu ditolak dan yang dapat diterima. Ajaran yang menyim­pang dari perinsip ajaran atau Ajaran Dasar maka itulah disebut bid’ah.

Baca juga : Menyesuaikan Trend Globalisasi Umat Islam

Memang tidak mudah dan sekaligus memerlukan waktu untuk menciptakan harmoni­sasi antara ajaran dan kearifan lokal. Seperti halnya dengan agama-agama lain, per­soalan yang sering muncul ialah mestika keharmonisan diper­tahankan sekalipun ditegakkan di atas landasan yang batil? Atau mestikah harmonisasi itu dikorbankan demi menegakkan ajaran yang haq? Di sinilah seninya mengembangkan ajaran agama di atas nilai-nilai lokal yang sudah mapan.

Satu sisi kita harus mengembangkan ajaran agama secara utuh (kafah) tetapi di sisi lain harus tetap melestarikan kearifan lokal. Di sinilah salahsatu fungsi negara bagaimana menjembatani ketegangan konseptual yang berhadap-hadapan satu sama lain di dalam Negara.

Baca juga : Dasar Toleransi Dalam Bernegara

Islam tidak bermaksud menaiki level Ajaran Dasar, apalagi menggesernya, karena kalau hal itu terjadi maka persoalan sinkretisme dan khurafat akan muncul, padahal keduanya ditolak oleh Ajaran dasar Islam. Ajaran-ajaran khurafat bid’a dan sejenisnya dapat diselesaikan melalui mekanisme budaya.

Mungkin ada dimensi ajaran khurafat berduplikasi dengan kearifan lokal, misalnya praktek perdamaian konflik dengan melibatkan benda-benda yang dianggap sacral, untuk sementara waktu dapat ditolerir jika memang ada unsur khurafatnya.

Baca juga : Mengedepankan Pemimpin Adil

Pengalaman Walisongo menyebarkan Islam di kepulauan Nusantara sudah cukup menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa tanpa harus membongkar nilai-nilai tradisional yang hidup di dalam masyarakat tetap Islam dengan segenap ajarannya dapat diterapkan tanpa harus melalui konfrontasi nilai.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Selasa, 25 Juli 2023 dengan judul Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (57), Mengakomodasi Kearifan Lokal

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense