Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Salah satu spirit yang disugestikan Al-Qur’an ialah sikap konsisten (istiqamah). Jika sikap ini dipertahankan, seorang muslim akan mendapatkan keberutungan di luar perkiraan.
Dalam satu hikayat dikisahkan, seorang ibu selalu mengucapkan shalawat kepada Nabi. Dalam keadaan apapun, senang atau sedih, siang dan malam dan sesibuk apapun, tidak pernah meninggalkan shalawat kepada Nabi. Suatu ketika, ia sedang mencuci pakaian di pinggir sumur atau telaga dalam, tiba-tiba anak kecilnya jatuh ke sumur.
Sang ibu secara spontanitas meneriakkan shalawat “Allahumma shalli ‘alaih” sambil berusaha menolong anaknya yang jatuh di sumur dalam. Orang-orang lain datang menolong anak kecil dari sang ibu tadi. Alangkah kagetnya orang-orang tersebut, ternyata anak kecil itu tidak tenggelam dan selamat, bahkan dalam riwayat disebutkan rambut anak itu pun tidak basah.
Setelah ditanya apa amalan ibunya yang membuat anaknya selamat, sang ibu dengan tawadhu menjawab saya bukan ahli zikir, saya hanya istiqamah selalu membaca shalawat Nabi sepanjang hari sampai malam dan sepanjang tahun.
Istiqamah menjalankan kebaikan ternyata mendatangkan banyak keuntungan dan keberuntungan.
Kata istiqamah berasal dari bahasa Arab dari akar kata qama-yaqumu berarti berdiri, menegakkan. Dari akar kata ini melahirkan kata istiqamah berarti lurus, konsisten; lawannya bengkok dan tidak konsisten.
Menurut istilah ahli hakekat, istiqâmah ialah memenuhi segala janji yang telah diikrarkan dan tetap berada di atas jalan lurus (shirath al-mustaqim). Jalan lurus yakni memelihara batas-batas penengah dan keadilan dalam segala urusan, baik dalam hal makan, minum, pakaian, sampai pada urusan rumah tangga seperti perkawinan. Tegasnya, istiqamah mencakup urusan agama dan dunia.
Barangsiapa diberi petunjuk mengetahui jalan lurus (shirath al-mustaqim) di dunia, maka hal itu akan menjadi penyebab suksesnya dia melewati jalannya menuju akhirat. Petunjuk mengetahui jalan lurus merupakan nikmat Allah yang sangat besar terhadap hamba. Petunjuk ini hanya hamba pilihan Tuhan yang berhak mendapatkannya, sebagaimana firman-Nya: “Allah menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. Yunus/10: 25).
Orang-orang yang mendapatkan petunjuk berupa istiqamah, maka betul-betul ia harus bersyukur karena Allah memberikan jaminan keberuntungan: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqâf [46]: 13).
Dalam ayat lain dikatakan: “Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (QS. Al-Jinn [72]: 16).
Baca juga : Tahap Kedua: Dari Tuhan Menuju Tuhan Bersama Tuhan (Min al-Haq ila al-Haq bi al-Haq) (2)
Makna istiqamah ditegaskan oleh Nabi: “Beristiqamahlah dan jangan menghitung-hitung (amalmu). Ketahuilah sebaik-baik amal kamu ialah salat.” Orang yang suka menghitung amalnya bukan hanya istiqamahnya bermasalah, tetapi juga keikhlasannya dalam beramal.
Kita tidak pernah dan tak akan mungkin kita menghitung seluruh nikmat yang Allah berikan kepada kita, tapi kenapa kita mau menghitung apa yang kita persembahkan kepada Allah.
Kata Abu Ali ad-Daqqaq, istiqamah itu ada tiga tingkatan: 1. Taqwim (penegakan) sebagai proses latihan nafsu, 2. Iqamah (berdiri) sebagai pendidikan hati, dan 3. Istiqamah sebagai pendekatan rahasia-rahasia.
Orang yang istiqamah berarti tangguh dalam perinsip, dapat dipercaya, amanah, dan memiliki banyak sifat terpuji di dalam dirinya. Istiqamah hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar. Sebab, istiqamah mempunyai berbagai tantangan.
Istiqamah bukan hanya untuk orang perorangan, tapi juga untuk suatu komunitas atau masyarakat. Jika suatu komunitas tidak punya istiqamah, sama dengan tidak punya visi dan misi, tidak jelas ke mana arah dan tujuannya.
Baca juga : Tahap Kedua: Dari Tuhan Menuju Tuhan Bersama Tuhan (Min al-Haq ila al-Haq bi al-Haq) (1)
Jika suatu komunitas tanpa tujuan, ajalnya akan terancam. Dalam Al-Qur’an, bukan hanya orang yang punya ajal tapi juga suatu komunitas atau orde, sebagaimana firman Allah: Likulli ummatin ‘ajal (setiap suatu komunitas punya ajal). Kita dianjurkan bermohon agar usia diri dan komunitas kita bertambah panjang.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 30 Oktober 2024 dengan judul "Menjadi Muslim Berkepribadian Istiqamah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.