Dark/Light Mode

Kemurahan Hati (Al-Jud)

Minggu, 20 Oktober 2024 05:34 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Indahnya kepribadian yang diperkenalkan Al-Qur’an, yaitu kemurahan hati. Suatu saat Abdullah bin Ja’far pergi menengok kebunnya. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang budak hitam yang tengah bekerja di kebun kurma.

Budak itu membawa tiga potong roti sebagai bekal makanannya. Lalu seekor anjing mendekatinya, dan Budak itu melemparkan sepotong rotinya kepada anjing itu dan dimakannya. Kemudian setelah habis dimakan, ia melemparkan sepotong lagi dan anjing itu melahapnya. Kemudian ia melemparkan sepotong rotinya yang ketiga pada anjing itu dan anjing itu melahapnya hingga habis.

Baca juga : Berkepribadian Qana`ah

Abdullah bertanya: “Berapa bekal makananmu setiap hari?” Jawabnya: “Hanya tiga potong roti.” Abdullah bertanya lagi: “Mengapa engkau memberikan semuanya kepada anjing itu, dan engkau sendiri tidak makan?” Ia menjawab: “Sebab di daerah kami tidak ada anjing, jadi aku pikir anjing ini pasti datang dari jauh dalam keadaan lapar, dan aku tidak mau mengusirnya.” Tanya Abdullah lagi: “Lalu, apa yang engkau makan hari ini?” Ia menjawab: “Aku berlapar saja sampai besok.” Kata Abdullah: “Benar-benar inilah yang namanya dermawan yang murah hati, dan budak ini lebih dermawan dari pada aku. Akhirnya, aku membeli kebun itu dan segala isi dan peralatannya serta budak itu, lalu aku memerdekakannya dan kuberikan semuanya kepada si budak tadi.

Cerita ini menggambarkan sifat-sifat kemurahan hati (al-jud), seorang yang rela mengorbankan harta dan miliknya lebih banyak ketimbang yang ia miliki sendiri. Orang yang sampai kepada maqam al-jud posisinya lebih tinggi dari pada dermawan biasa (al-sakha’), yang dapat mengorbankan sebagian kecil hartanya tetapi masih menyimpan sebagian besar lainnya. Kerendahan hati biasa juga disebut al-muatstsir yaitu orang yang sanggup menanggung segala kesulitan dan bahaya demi mengorbankan segala kemampuannya.

Baca juga : Berkepribadian Tawadhu

Dengan demikian, al-Itsar (mengutamakan orang lain) merupakan peringkat tertinggi, kemudian urutan berikutnya adalah al-sakha’, sebagaimana firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr/59: 9).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.