Tausiah Politik
Sebelumnya
Kata Lailah al-Qadr diperoleh perdebatan yang sangat mendalam. Apakah kata lailah yang secara harfiah berarti malam atau menekankan makna simbolik (majazi). Dalam bahasa Arab, khususnya dalam syair-syair bahasa Arab, kata lailah bisa memiliki makna. Lihat saja sebuah novel fenomenal berjudul Laila Majnun, sebuah Novel sufistik yang ditulis oleh seorang sufi bernama Syekh Maulana Hakim Nidhami (1155-1223M).
Dalam Novel ini Laila memang nama putri seorang bangsawan tetapi kata lailah diimajinasi sedemikian rupa sehingga lailah menyimpan makna cinta sedemikian dalam. Perhatikan cuplikan syair dalam buku tersebut:
“Oh, lilin jiwaku. Jangan kau siksa diriku ketika aku mengelilingimu. Kau telah memikatku, merampas tidurku, akalku juga tubuhku.”
Laila adalah cahaya malam, Majnun adalah sebatang lilin. Laila adalah keindahan, Majnun adalah kerinduan. Laila menabur benih cinta, Majnun menyiraminya dengan air mata. Laila memegang cawan cinta, Majnun berdiri mabuk oleh aromanya.
“Aku bagaikan orang yang kehausan. Kau pimpin aku menuju sungai Eufrat, lalu sebelum sempat aku minum, kau menarikku dan kembali ke kawasan panas membara. Padang pasir yang tandus. Kau mengajakku ke meja jamuan, tapi tidak pernah mempersilakanku makan! Mengapa kau menampakkannya kepadaku di awal, jika tidak pernah berniat untuk membiarkan aku memiliki hartaku.?”
Perhatikan juga syair pendek seorang pengantin baru yang takut kehilangan malam:
“Ya laila thul, ya shubh qif!” (Wahai malam bertambah panjanglah, wahai subuh berhentilah).
Kedua syair di atas mengambil makna simbolik (majazi) dari lailah. Syair pertama lailah lebih ditekankan kepada makna siboliknya sebagai cinta yang sangat mendalam, keindahan, kepasrahan, keheningan, dan ketulusan. Syair kedua malam melambangkan kebahagiaan dan kemsraan yang amat mendalam sehingga takut dipisahkan oleh keringnya siang.
Baca juga : Misteri Air (Bagian 1)
Dalam Lisan al-‘Arab, kamus bahasa Arab paling standard (15 jilid), kata lailah juga diartikan banyak arti. Selain berarti malam juga bisa berarti gelap, hening, dan bahkan salahsatu artinya ialah perempuan.
Jika lailah menjadi pangkalan pendaratan sesuatu yang bersifat sakral, yang datang sekali setahun di dalam bulan Ramadhan, maka patut dipertanyakan, lailah dalam arti apa yang lebih tepat menjadi pangkalan pendaratan dhamir hu itu? Apakah lailah dalam arti fakta, yaitu menanti terbenamnya matahari dan menunggu larutnya malam, atau lailah dalam arti simbol, yaitu terwujudnya suasana lailiyyah di dalam jiwa hamba-Nya berupa keheningan, kepasrahan, keakraban, kedamaian, kerinduan, cinta kasih amat mendalam, dan kekhusyukan.
Jika merujuk kepada makna kedua (simbolik), maka tidak mesti harus menunggu terbenamnya matahari dan larutnya malam. Bukankah suasana hening, pasrah, akrab, damai, rindu, keheningan, kepasrahan, keakraban, kedamaian, cinta kasih, dan khusyuk bisa muncul di siang hari. Bukankah tidak ada jaminan jika suasana batin seperti itu mesti muncul di malam hari. Betapa banyak orang merasakan amarah dan dendam kusumat (nahariyyah) di malam hari dan betapa banyak juga orang merasakan kedamaian, kepasrahan, kerinduan, dan kekhusyukan (lailiyyah) di siang hari.
Lagi pula, jika LQ acuannya adalah malam, pertanyaan berikut akan muncul. Bagaimana sekiranya LQ turun bertepatan pukul 02 malam waktu Indonesia, sementara belahan bumi lain seperti Amerika Serikat berada pada posisi jam 02 siang? Bagaimana jika LQ turun pukul 02 waktu Saudi Arabia, berarti di Indonesia keburu pagi, tidak lagi malam. Padahal kita semua tahu bahwa waktu turunnya LQ hanya sekejap (lailan), yakni sebagian kecil dari malam (qith’un min al-lail). Sudah pasti Allah SWT Maha Adil, tidak membeda-bedakan antara hambanya yang taat di berbagai tempat, baik di Indonesia, Saudi Arabia, maupun di AS.
Baca juga : Misteri Angin (Riyah) dan Penyerbukan
Bagi para sufi, mengejar peristiwa LQ tidak terlalu penting, karena bagaimanapun LQ hanya bagian dari makhluk, sama dengan surga juga makhluk. Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta LQ dan syurga. Apakah masih perlu LQ dan syurga di dalam pelukan Sang Pencipta segalanya?
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Rabu, 16 April 2025 dengan judul "Keajaiban Al-Qur’an (34) Misteri Lailah al-Qadr"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.