Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Serial Netflix YOU menyuguhkan potret mengerikan dari wajah cinta yang berujung kekerasan. Karakter Joe Goldberg, dengan kedok romantisme, sebenarnya melanggengkan kontrol, manipulasi, bahkan kekerasan terhadap perempuan—praktik yang sejatinya tak jauh berbeda dari fenomena misogini yang kian marak di era digital. Ketika dunia maya menawarkan ruang untuk berekspresi, ia juga membuka jalan bagi bentuk baru kekerasan berbasis gender, yang semakin sulit dikenali dan dilawan.
Laporan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indonesia tetap tinggi, bahkan mengalami peningkatan di sektor tertentu. Catatan Tahunan 2024 menunjukkan 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, naik hampir 10 persen dari tahun sebelumnya. Dalam lanskap ini, kekerasan berbasis gender online (KBGO) menjadi salah satu kategori dengan lonjakan signifikan, dengan lebih dari 1.200 kasus tercatat. Fakta ini mengonfirmasi apa yang ditekankan Lara Fontanella dkk. (2024) dalam risetnya: bahwa misogini kini berkembang pesat di ruang digital, dengan pola yang lebih agresif dan masif daripada sebelumnya.
Tren serupa juga terjadi di tingkat global. Survei terbaru Association of American Universities mengungkapkan bahwa lima dari tujuh universitas Ivy League melaporkan, tingkat pelecehan seksual yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata 27 kampus yang berpartisipasi. Di antara sesama institusi Ivy League, Yale mencatat tingkat kekerasan seksual tertinggi terhadap mahasiswi, dengan 28,1 persen responden melaporkan pengalaman "perlakuan seksual tanpa persetujuan yang melibatkan paksaan fisik atau ketidakmampuan". Angka ini 5 persen lebih tinggi dari rata-rata nasional (23,1 persen) di antara kampus-kampus yang disurvei pada April 2024.
Baca juga : Kartini 4.0: Menjadi Ibu Pejuang, di Medan Perang Digital
Misogini, atau kebencian terhadap perempuan, tidak lagi hanya hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia bertransformasi menjadi komentar seksis, doxing, pelecehan siber, hingga glorifikasi kekerasan terhadap perempuan di forum-forum daring. Studi dari Ming Morssinkhof (2021) bahkan mengungkapkan bahwa komunitas Incel (involuntary celibates)—yang mengakar pada rasa entitlement seksual dan isolasi sosial—mendorong reproduksi sikap misoginis yang ekstrem dan berpotensi memicu kekerasan nyata
Lebih mengkhawatirkan lagi, bentuk kekerasan ini bukan hanya datang dari luar perempuan, tapi juga dari dalam dirinya sendiri. Konsep internalized misogyny, sebagaimana dijelaskan Maria Evteeva (2024), memperlihatkan bagaimana perempuan pun bisa tanpa sadar mengadopsi nilai-nilai patriarkal yang merendahkan sesama perempuan. Fenomena ini memperumit upaya pemberdayaan, karena tidak semua perempuan sadar bahwa sikap mereka turut memperkuat struktur opresif yang menindas diri mereka sendiri
Dalam serial YOU, Joe membungkus obsesinya dengan bahasa cinta dan perlindungan. Ia mengawasi, mengontrol, bahkan membunuh dengan dalih "demi kebaikan" perempuan yang ia cintai. Inilah cerminan wajah baru misogini: kekerasan yang disamarkan dalam narasi cinta, perlindungan, dan moralitas. Di dunia nyata, bentuk kekerasan serupa terjadi ketika perempuan dipaksa mengikuti peran sosial tertentu, diancam jika menyimpang, atau diperlakukan sebagai objek kepemilikan laki-laki.
Baca juga : ITEC, 6 Dekade Menguatkan Kolaborasi Indonesia-India
Serial seperti YOU memperlihatkan bagaimana seorang pelaku kekerasan tidak selalu tampil seperti "monster". Ia bisa hadir sebagai "kekasih perhatian" atau "pria baik-baik"—persis seperti yang banyak ditemui dalam laporan-laporan kekerasan nyata. Di dunia digital, misogini mendapatkan panggung baru, mempercepat penyebaran kebencian dan memperbesar dampaknya.
Lebih dari seabad yang lalu, R.A. Kartini telah berseru: "Habis gelap terbitlah terang, tetapi tidakkah lebih baik mencegah gelap itu sama sekali?"
Pertanyaan retoris Kartini ini masih relevan hingga hari ini. Jika Kartini memperjuangkan kesetaraan pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan di zamannya, tantangan di era digital justru lebih kompleks: kebebasan berekspresi di satu sisi, tetapi juga ancaman misogini yang mengintai di balik layar. Kartini mengkritik budaya yang membelenggu perempuan dengan adat dan norma patriarkal—mirip dengan bagaimana misogini digital saat ini membelenggu perempuan dengan narasi kebencian, objektifikasi, dan kekerasan terselubung.
Baca juga : Prabowo Saksikan Serah Terima Kepemimpinan Kaukus ASEAN-ABAC dari RI ke Malaysia
Terinspirasi dari Kartini: "Perempuan harus mandiri, bukan karena tidak butuh laki-laki, tetapi karena haknya sebagai manusia harus diakui". Meneruskan perjuangan Kartini di abad ke-21 berarti tidak hanya menuntut terang, tetapi juga menciptakannya—dengan melawan kegelapan misogini di mana pun ia bersembunyi, termasuk di balik layar gawai kita.
Dr. Devie Rahmawati, CICS
PengajarVokasiUniversitasIndonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.