Pengamat Sosial
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 20 Mei bukan sekadar pengingat sejarah. Ia adalah pengingat jiwa: bahwa kebangkitan sejati tidak terjadi karena teknologi, tetapi karena kesadaran manusia akan harga dirinya.
Hari ini, kita hidup dalam revolusi yang jauh lebih sunyi dari perang kemerdekaan, namun dampaknya bisa mengguncang peradaban: ledakan kecerdasan buatan (ArtificialIntel ligence/AI). AI menjanjikan efisiensi, kecepatan, dan keajaiban. Tapi di balik algoritma dan chatbot, muncul pertanyaan mendasar: jika mesin bisa menulis puisi, melukis, dan mengajar—apa yang tersisa untuk manusia?
AI, Kreativitas, dan Krisis Identitas Manusia
Artikel riset dari Oxford Centre for AI Ethics menyebutkan bahwa generative AI membawa ancaman eksistensial terhadap kreativitas manusia. AI dapat meniru bentuk—tetapi tidak bisa menciptakan dari luka, cinta, atau makna. Kreativitas bukanlah proses teknis, tapi ekspresi sanubari.
Baca juga : Mencerdaskan Akal, Menguatkan Mental: Pendidikan Indonesia di Persimpangan Digital
Studi dari Syracuse University menyatakan bahwa “kreativitas manusia itu unik karena melibatkan kepekaan moral, pengalaman eksistensial, dan subjektivitas.” Artinya, kita tidak hanya menciptakan karena bisa—tapi karena kita butuh memberi makna pada dunia yang kompleks.
Namun ironisnya, di berbagai industri, manusia mulai kehilangan panggungnya. Riset dari Harvard Business Review memperingatkan bahwa AI mendorong pekerja kreatif menjadi “asisten algoritma”—kehilangan otoritas dan orisinalitas, karena tuntutan pasar terhadap konten cepat dan murah.
Bukti Lapangan: Ketika Mesin Tak Mampu Menggantikan Manusia
Tapi sejarah tidak diam. Klarna, perusahaan fintech asal Swedia, mengganti 700 staf dengan AI. Dua tahun berselang, mereka menyadari: AI gagal membangun hubungan dengan pelanggan. Maka manusia pun dipanggil kembali. Sebuah pengakuan bahwa kecepatan bukanlah segalanya—kehadiran manusia tetap tak tergantikan.
Baca juga : Ketika Kebencian Berpindah ke Layar: Anatomi Misogini Digital
Penelitian dari Carnegie Mellon juga menunjukkan, ketika seluruh perusahaan dijalankan oleh agen AI, hanya 24 persen tugas berhasil diselesaikan. Bukti bahwa mesin tanpa hati hanyalah simulasi; bukan solusi.
Kebangkitan Nasional: Jangan Serahkan Masa Depan ke Tangan Mesin
Kebangkitan bukan hanya tentang bangkit dari keterpurukan, tetapi juga menolak tunduk pada determinisme teknologi. Sebagai bangsa yang sedang membangun masa depan, kita harus bertanya: apakah kita sedang mengadopsi AI untuk membebaskan manusia—atau justru mempercepat keterasingan manusia dari dirinya sendiri?
Kebangkitan Nasional hari ini harus ditandai dengan perlawanan:
- Perlawanan terhadap homogenisasi pikiran oleh algoritma.
- Perlawanan terhadap logika ekonomi yang mengabaikan empati.
- Perlawanan terhadap anggapan bahwa yang efisien selalu lebih baik.
Baca juga : Kartini 4.0: Menjadi Ibu Pejuang, di Medan Perang Digital
AI boleh hebat, tapi ia tidak bisa mencintai, tidak bisa menyesal, tidak bisa memaafkan. Dan selama manusia masih ingin dimengerti, pekerjaan manusia tidak akan pernah selesai.
Penutup: Bangkit, Bukan Tersingkir
Mari kita jadikan Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tapi titik balik untuk menegaskan bahwa manusia bukan pelengkap algoritma. Kita adalah pusat dari semua teknologi yang diciptakan. Maka kitalah yang harus tetap memegang kendali, bukan menyerahkannya bulat-bulat pada mesin.
AI mungkin bisa meniru tulisan ini. Tapi hanya manusialah yang bisa menulisnya dengan tangis dalam getir dan tawa berbalut harapan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.