Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Di atas langit ada langit dan di atas puncak masih ada puncak. Di atas gaib ada Yang Maha Gaib (sir al-asrar / the sacred of the sacred). Dia bukan alam tetapi Sang Pencipta alam.
Dia memiliki dua dimensi, yaitu dimensi Wahidiyyah dan dimensi Ahadiyah. Ilustrasinya, ibarat satu lembar kertas yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya berisi identitas dan pada sisi lainnya kosong. Sisi yang berisi identitas bisa difahami dan dijelaskan.
Baca juga : Babak Awal Drama Kosmos (Bagian 2)
Dan inilah yang disebut Maqam Wahidiyyah, yang di dalamnya ditemukan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, sebagaimana dalam artikel terdahulu (Ontologi al-A yan al- Tsabitah). Sedangkan sisi yang kosong, tanpa identitas, inilah disebut Maqam Ahadiyyah (the Divine Nothingness/ Sir al-Asrar). Maqam Ahadiyyah juga sering disebut ”Gudang yang Tersembunyi” (al-Kanz al-Makhfi) atau “Gayb al-Guyub”, “Haqiqat al-haqaiq”. Sedangkan Maqam Wahidiyyah dapat dikatakan sebagai manifestasi sempurna (kamal al-istijla’) dari Maqam Ahadiyyah.
Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di dalam Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakekat yang menyingkapkan diri-Nya (madhahir al-asma’). Kita tidak mungkin mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah. Maka Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri melalui Maqah Wahidiyah. Dari sini difahami bahwa 99 Nama Indah Tuhan yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna, bisa merupakan jendela untuk mengintip, mengenal, dan mendekati Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu” (QS Al-A’raf/ 7:180).
Baca juga : Babak Awal Drama Kosmos (Bagian 1)
Manifestasi Maqam Ahadiyah ke Maqam Wahidiyyah diterangkan dalam hadis Qudsi bahwa: “Aku pada mulanya harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.”
Dalam beberapa kitab tasawuf dijelaskan ketika Allah SWT sedang menyadari diri-Nya (subject conciusness) maka saat itu muncul subjek dan obyek dan muncul determinasi (mu’ayyan), manifestasi, spesifikasi.
Baca juga : Penciptaan Kosmos (Bagian 3) Perspektif Sufisme
Ketika itu Tuhan tanazul (descended) dari kemutlakan-Nya menjadi partikularisasi. Ada yang sadar ada yang disadari meskipun subyek dan obyek tersebut masih tetap satu (Tunggal). Namun ketunggalan di sini oleh Ibnu ’Arabi disebut Ahadiyyah al-Wahid, yaitu ketunggalan relatif atau ketunggalan dari yang banyak. Berbeda di level Ahadiyyah, Allah SWT betul-betul berada dalam ketunggalan atau keesaan mutlak sehingga disebut Ahadiyyah al-Ahad.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.