Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika segalanya masih merupakan sebuah Titik. Tidak ada apapun dan siapapun selain diri-Nya. Ia masih diliputi dengan misteri dan rahasia sehingga disebut al-Sir al-Asrar, Gaib al-Guyub, Haqiqah al-Haqaiq /The Sacred of The sacred). Ia yang disebut dengan Ahadiyyah (the Divine Nothingness) yang oleh Agama Yahudi menyebutnya Ain Sof. Hindu menyebutnya Atma atau Nir Gina, Tao menyebutnya Yin.
Sang Titik ingin mengenal dan sekaligus memperkenalkan diri-Nya, maka pertama kali mengenalkan dirinya sebagai Tuhan (al-Rab) berikut nama-nama-Nya, yang kemudian popular dengan al-Asma’ al-Husna’. Inilah yang dijelaskan dalam hadis Nabi dalam sebuah hadis Qudsi: “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu” (QS Al-A’raf/ 7:180).
Nama-nama inilah yang pertama kali diajarkan Adam oleh Allah SWT yang membuat para malaikat takjub kepadanya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Aku pada mulanya harta yang tersembunyi (kanzan makhfiyyan), kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.” Sang Titik sedang menyadari diri-Nya (subject conciusness) maka saat itu muncul subjek dan obyek lalu muncul determinasi (mu’ayyan), manifestasi, dan spesifikasi.
Baca juga : Peristiwa Tanazul dan Taraqqi
Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Ibarat selembar kertas yang mempunyai dua sisi. Satu sisinya kosong dan sisi lainnya berisi catatan. Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah (reality), ‘ain (entity), sya’i (thing), dan ma’lum (pengetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui (unknowable).
Sedangkan di level Wahidiyyah ialah Wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Maha Tinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak. Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya.
Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab, dan seterusnya.
Baca juga : Titik Balik Perjalanan Spiritual Manusia
Dalam tahap inilah bermula pembicaraan tentang perkembangan dan proses perjalanan wujud (al-qaus al-wujud) yang dalam artikel mendatang akan dibahas tentang perjalanan turun (al-Qaus al-tanzil), sebuah pergerakan menjauh dari Tuhan (centrifugal) dan perjalanan naik (al-Qaus al-Shu’ud), sebuah pergerakan mendekat kepada Tuhan (centripetal).
Pembahasan tentang al-Qaus al-Nuzul (descending process) berawal dari ”harta tersembunyi” (kanzan makhfiyyan) di Maqam Ahadiyyah, yang biasa disebut Ta’ayyun Pertama (The First Entity) lalu muncul manifestasi Maqam Wahidiyyah, yang kemudian disebut Ta’ayyun Kedua (The Second Entities).
Di dalam Maqam Wahidiyah ini muncul konsep entitas-entitas permanen (al-A’yan al-Thabitah/ Permanent Entities) berupa nama-nama dan sifat-sifat Tuhan yang populer dengan (al-Asma’ al-Husna’).
Baca juga : Turun Ke Alam Sensorial (Alam Syahadah)
Ketika dalam Ta’ayyun Pertama (Ahadiyyah) nama-nama dan sifat-sifat Tuhan belum teridentifikasi dengan jelas dan semuanya masih tenggelam dalam keesaan diri-Nya. Makanya itu, Maqam Ahadiyyah oleh Ibn ’Arabi dalam kitab Fushush al-Hikam-nya disebut Maqam Jam’ al-Jam’ atau Ahadiyyah al-Ahad. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakekat yang menyingkapkan diri-Nya, yang dalam ilmu tasawuf disebut madhahir al-asma’ atau al-a’yan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.