Tausiah Politik
Sebelumnya
Kita tidak mungkin bisa mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah maka Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri melalui martabat Wahidiyyah.
Dari sinilah Tuhan mulai dikenal sejauh Ia memperkenalkan diri-Nya melalui al-Asma’ al-Husna. Sesungguhnya Tuhan bukan pelit memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya tetapi, seperti kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya: ”Apa arti sebuah piala untuk menampung samudra”. Dalam bahasa mekanik, kapasitas memori dalam hard disk kita tidak akan pernah sanggup menampung diri-Nya.
Entitas-entitas permanen itu terus berkembang. Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan.
Baca juga : Peristiwa Tanazul dan Taraqqi
Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah (reality), ‘ain (entity), sya’i (thing), dan ma’lum (penegetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui (unknowable).
Sedangkan di level Wahidiyyah ialah Wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Maha Tinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak.
Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya. Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab.
Baca juga : Titik Balik Perjalanan Spiritual Manusia
Manifestasi dan tajalli dari Ahadiyyah ke Wahidiyyah dan seterusnya ke wujud aktual menjadi pangkal permulaan makhluk. Berawal dari potensi wujud (wujud al-’ilmiy) atau yang di atas disebut al-A’yan al-Tsabitah, kemudian menjelma menjadi wujud aktual (wujud al-khariji/external existence).
Wujud al-khariji dan seterusnya sampai kepada alam syahadah mutlak disebut makhluq atau maj’ul. Wujud (al-wujud) dan maujud (al-maujud) terus berkembang menurut kadar dan kodrat Ilahi.
Ada yang berkembang secara linear dan ada yang berkembang secara fluktuatif. Kelanjutan perkembangan wujud melahirkan berbagai efek dan akibat, termasuk di antaranya diferensiasi martabat.
Baca juga : Turun Ke Alam Sensorial (Alam Syahadah)
Nabi mengatakan: Likulli syai’in maratib (segala sesuatu mempunyai martabatnya masing-masing). Tentu ada martabat utama yang lebih tinggi (al-martabat al-ula) dan ada martabat rendah (al-matabat al-sufla). Kenyataan ini disinggung juga di dalam ayat: Sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) (QS al-Isyiqaq/ 84:19). BERSAMBUNG
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Sabtu, 31 Mei 2025 dengan judul "Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (15) Transformasi Wujud Spiritual Manusia (Bagian 1)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.