Sebelumnya
Dari itu jika Trisakti adalah filosofi dasar, maka Asta Cita merupakan agenda operasional yang ditawarkan oleh pemerintahan dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Asta Cita mencakup delapan prioritas pembangunan yang saling terkait: mewujudkan keamanan nasional, membangun pemerintahan yang bersih, membangun Indonesia dari pinggiran, meningkatkan kualitas hidup manusia, meningkatkan produktivitas dan daya saing, mewujudkan kemandirian ekonomi, merevolusi karakter bangsa, serta memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial.
Penerapan Asta Cita dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan pengejawantahan praktis dari Pancasila dan Trisakti. Pembangunan dari pinggiran mencerminkan semangat keadilan sosial dan desentralisasi politik. Program Dana Desa, penguatan kewenangan daerah, serta pendekatan pembangunan berbasis wilayah adalah upaya konkret dalam mengurangi ketimpangan antarwilayah.
Baca juga : Revitalisasi Birokrasi Dalam Pemerintahan Pusat Dan Daerah
Dengan demikian, Asta Cita bukanlah agenda pusat semata, tetapi menjadi kerangka kerja bersama seluruh elemen bangsa. Implementasi Trisakti dan Asta Cita memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Dalam era otonomi daerah, desentralisasi bukan berarti fragmentasi, melainkan koordinasi yang kokoh dalam kerangka visi kebangsaan. Visi Indonesia Emas 2045 menuntut adanya integrasi perencanaan pembangunan, harmonisasi regulasi, dan keselarasan antara RPJMN di tingkat pusat dan RPJMD di tingkat daerah. Pemerintah pusat harus menjadi fasilitator yang membuka ruang kolaborasi, bukan dominator yang mendikte arah pembangunan daerah. Penguatan kapasitas aparatur daerah, pemanfaatan teknologi digital, serta pemberdayaan partisipasi masyarakat sipil merupakan langkah penting dalam membangun tata kelola yang inklusif dan adaptif. Dalam konteks Indonesia Raya, kekuatan bangsa terletak pada kemampuan menyatukan keragaman dalam satu semangat yang sama, yaitu gotong royong untuk mewujudkan keadilan sosial.
Baca juga : Etika Tata Kelola Pemerintahan Dan Memperkokoh Ideologi Pancasila
Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, Pancasila, Trisakti, dan Asta Cita berfungsi sebagai jangkar ideologis yang menjaga arah pembangunan nasional agar tidak kehilangan orientasi kebangsaan. Tantangan seperti disinformasi, polarisasi identitas, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial hanya dapat diatasi bila seluruh elemen bangsa menjadikan Pancasila sebagai landasan etik dan filosofis dalam pengambilan kebijakan.
Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi panggilan untuk merefleksikan dan mengonsolidasikan seluruh agenda kebangsaan dalam satu arah, yaitu mewujudkan Indonesia Raya yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Pancasila bukanlah simbol masa lalu, tetapi panduan masa depan. Dan melalui Trisakti serta Asta Cita, kita dapat menata ulang tata kelola pemerintahan menuju Indonesia yang kuat, adil, dan bermartabat di tengah dinamika dunia yang terus berubah. Selamat merayakan Hari Lari Pancasila.
Baca juga : Geopolitik Berubah, RI Berpeluang Maju
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur Lemhannas RI (2001-2005) dan Direktur Jenderal Sosial Politik Depdagri RI (1998-2000). Dewan Pakar BPIP RI Bidang Geopolitik dan Geostrategi Manajemen Pemerintahan. Ketua Dewan Pembina Center for Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.