Dark/Light Mode

Memperkukuh Trisakti Dan Asta Cita Di Momentum Hari Lahir Pancasila

Senin, 2 Juni 2025 07:45 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Dari itu jika Trisakti adalah filosofi dasar, maka Asta Cita merupakan agenda operasional yang ditawarkan oleh peme­rin­tahan dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Asta Cita mencakup delapan ­prio­ritas pembangunan yang saling terkait: mewujudkan kea­manan nasional, mem­bangun pemerintahan yang bersih, membangun Indonesia dari ­pinggiran, meningkatkan kualitas hidup manusia, mening­katkan produktivitas dan daya ­saing, mewujudkan kemandirian ekonomi, merevolusi karakter bangsa, ­serta memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial.

Penerapan Asta Cita dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan penge­jawantahan praktis dari Panca­sila dan Trisakti. Pembangunan dari pinggiran mencerminkan semangat keadilan sosial dan desentralisasi politik. Program Dana Desa, penguatan kewe­nangan daerah, serta pen­dekatan pembangunan berbasis wilayah adalah upaya konkret dalam mengurangi ketimpangan ­antarwilayah.

Baca juga : Revitalisasi Birokrasi Dalam Pemerintahan Pusat Dan Daerah

Dengan demikian, Asta Cita bukanlah agenda pusat semata, tetapi menjadi kerangka kerja bersama seluruh elemen bangsa. Implementasi Trisakti dan Asta Cita memerlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Dalam era otonomi daerah, desentralisasi bukan berarti fragmentasi, melainkan koordinasi yang kokoh dalam kerangka visi kebangsaan. Visi Indonesia Emas 2045 menuntut adanya integrasi perencanaan pem­bangunan, harmonisasi regulasi, dan keselarasan antara RPJMN di tingkat pusat dan RPJMD di tingkat daerah. Pemerintah pusat harus menjadi fasilitator yang mem­buka ruang kolaborasi, bukan dominator yang mendikte arah pem­bangunan daerah. Penguatan kapasitas aparatur daerah, peman­faatan teknologi digital, serta pemberdayaan partisipasi masyarakat sipil merupa­kan langkah penting dalam membangun tata kelola yang inklusif dan adaptif. Dalam kon­teks ­Indonesia Raya, kekuatan ­bangsa terletak pada kemam­puan menyatukan ­keragaman dalam satu semangat yang ­sama, yaitu gotong royong ­untuk mewujudkan keadilan sosial.

Baca juga : Etika Tata Kelola Pemerintahan Dan Memperkokoh Ideologi Pancasila

Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, Pancasila, Trisakti, dan Asta Cita berfungsi sebagai jangkar ideologis yang menjaga arah pembangunan nasional agar tidak kehilangan orientasi kebangsaan. Tantangan seperti disinformasi, polarisasi identitas, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial hanya dapat diatasi bila seluruh elemen ­bangsa menjadikan Panca­sila ­sebagai landasan etik dan filosofis dalam pengambilan kebijakan.

Momentum Hari Lahir Panca­sila menjadi panggilan untuk merefleksikan dan mengonsolidasikan seluruh agenda kebangsaan dalam satu arah, yaitu mewujudkan Indonesia Raya yang berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam ke­budayaan. Pancasila bukanlah simbol masa lalu, tetapi panduan masa depan. Dan melalui Trisakti serta Asta Cita, kita dapat menata ulang tata kelola pemerintahan menuju Indonesia yang kuat, adil, dan bermartabat di tengah dinamika dunia yang terus berubah. Selamat me­rayakan Hari Lari Pancasila.

Baca juga : Geopolitik Berubah, RI Berpeluang Maju

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah ­Gubernur ­Lemhannas RI (2001-2005) dan ­Direktur Jenderal Sosial Politik ­Depdagri RI ­(1998-2000). ­Dewan Pakar BPIP RI Bidang Geopolitik dan Geostrategi ­Manajemen Pemerintahan. Ketua Dewan Pembina Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.