BREAKING NEWS
 

“Dashboard” Virus Penyakit Paru

Jumat, 11 Juli 2025 08:35 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Seperti kita ketahui bersama, Indonesia telah berpindah dari WHO South-East Asia Regional Office (SEARO) (Asia Tenggara) ke WHO Western Pacific Regional Office (WPRO) (Pasifik Barat). Tentu diharapkan kita dapat berperan penting di WHO WPRO ini sebagaimana yang pernah kita lakukan di WHO SEARO di masa lalu, di mana saya pernah menjadi Direktur di sana.

Salah satu bentuk peran kita adalah bila mungkin menginisiasi atau mempelopori suatu program tertentu sesuai kebutuhan kawasan ini. Kita tahu bahwa berbagai penyakit paru dan pernapasan/respirasi merupakan salah satu masalah kesehatan utama kita. Baik yang berhubungan dengan kejadian luar biasa, wabah, maupun pandemi.

Tentu akan sangat baik kalau kejadian penyakit paru dan pernapasan/respirasi ini dapat diawasi dengan ketat. Sehingga jika ada perubahan situasi dapat segera ditangani dan tidak menimbulkan masalah kesehatan masyarakat bagi kawasan Western Pacific atau Pasifik Barat, di mana kita sekarang menjadi anggotanya.

Sebagai gambaran pembanding (benchmark) yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk diangkat oleh Kementerian Kesehatan ke WHO WPRO, perlu disampaikan bahwa pada 8 Juli 2025 lalu, WHO kawasan Amerika yang disebut Pan American Health Organization (PAHO) meluncurkan sebuah dashboard interaktif baru untuk secara langsung memantau sirkulasi virus penyebab penyakit paru dan pernapasan/respirasi di kawasan Amerika.

Dengan adanya dashboard ini, situasi dapat dipantau dengan lebih mudah. Tujuannya tentu untuk memperkuat pemantauan dan analisis melalui surveilans yang seksama, sehingga tindakan segera dapat dilakukan. Akan sangat baik jika Indonesia dapat menginisiasi dan mempelopori pembentukan dashboard serupa untuk kawasan Pasifik Barat, tempat kita sekarang bergabung.

Baca juga : Dengue Dan SBM

Yang dilakukan di Amerika, antara lain menyajikan data virologi dari FluNet dan data epidemiologi dari FluID, sesuatu yang juga dapat kita lakukan di kawasan Pasifik Barat. Artinya tidak harus benar-benar mulai dari nol. Data virologi dan epidemiologi ini kemudian digabungkan dengan data regional melalui AMart, sehingga dihasilkan platform yang intuitif dengan berbagai indikator kunci yang penting.

Dashboard di Amerika ini memiliki tiga sektor yang dapat juga dikembangkan di kawasan kita. Pertama adalah surveilans virologik yang menyajikan data laboratorium dan persentase positifnya dari semua negara di kawasan. Termasuk data sub-kawasan, yang memungkinkan pelacakan sirkulasi virus penyebab penyakit paru dan pernapasan di benua Amerika.

Sebagai contoh, pada minggu epidemiologi ke-25 tahun 2025 (15–21 Juni 2025), virus yang beredar di kawasan Amerika adalah influenza dan respiratory syncytial virus (RSV), dengan aktivitas tinggi di belahan bumi selatan (Southern Hemisphere) dan aktivitas rendah di belahan bumi utara (Northern Hemisphere) kawasan Amerika. Untuk virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, penyebarannya terdata rendah kecuali di wilayah Karibia.

Sektor kedua adalah surveilans sindromik (gejala penyakit), yang menampilkan data kasus penyakit paru akut berat (severe acute respiratory infections – SARI) dan gejala serupa influenza (influenza-like illness – ILI), beserta data pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (intensive care unit – ICU) dan kematian akibat penyakit paru akut berat. Semua data ini memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana gejala klinis (clinical presentation) penyakit akibat virus respirasi yang beredar di kawasan.

Adsense

Yang ketiga adalah data masing-masing negara di kawasan itu, dalam hal ini di Amerika. Nah, dengan gabungan ketiga sektor di dashboard ini, penggunanya dapat melihat keterkaitan data virologi dan gejala penyakit secara spesifik dan integratif untuk satu negara, sekaligus perkembangan di tingkat kawasan.

Baca juga : Kecerdasan Buatan Dan Kesehatan

Ini tentu hal yang amat baik. Jika Kementerian Kesehatan kita bisa membawa ide ini ke WHO WPRO, akan ada tiga manfaat penting.

Pertama, semua negara di kawasan ini akan dapat memantau perkembangan virus penyebab penyakit paru dan mengambil langkah segera bila diperlukan. Kedua, data di kawasan Pasifik Barat tentu juga akan berdampak penting bagi dunia secara keseluruhan.

Kita tahu bahwa negara-negara kawasan Pasifik Barat selain Indonesia adalah Tiongkok, Australia, Jepang, Korea, beberapa negara ASEAN, dan negara-negara Pasifik lainnya.

Ketiga, jika Indonesia yang memelopori ide ini, maka itu akan menjadi bukti peran penting kita dalam menjaga kesehatan masyarakat kawasan Pasifik Barat dan menunjukkan kontribusi kita di lingkungan WHO Western Pacific Regional Office (WPRO).

Prof Tjandra Yoga Aditama

Baca juga : Kusta Di Negara Kita

 -Direktur Pascasarjana Universitas YARSI

-Adjunct Professor, Griffith University – Brisbane, Australia

-Direktur Penyakit Menular WHO SEARO 2018–2020

-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

-Penerima Rekor MURI April 2024 sebagai penulis artikel Covid-19 terbanyak di media massa

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense