Dark/Light Mode

Nimbus, Varian Terbaru Covid-19

Kamis, 12 Juni 2025 07:05 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus Covid-19 di berbagai negara nampaknya masih terus berkembang. India misalnya, yang pada 8 Juni melaporkan 6133 kasus, maka data terbaru 10 Juni 2025 menunjukkan peningkatan menjadi 6815 orang dengan 68 kematian.

Koran Bangkok Post 10 Juni 2025 memberitakan situasi di Thailand, dalam minggu se­belumnya dilaporkan ada 111.472 kasus baru dan 31 kematian. Peningkatan kasus berbagai negara ini tentu oleh banyak pihak dihubungan ­dengan varian yang beredar.

Laporan Disease Outbreak News WHO terbaru pada ­tanggal 28 Mei 2025 menyebutkan bahwa varian virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 memang terus berubah dari waktu ke waktu.

Pada awal tahun 2025 ­varian yang paling banyak dideteksi dan dilaporkan ke WHO adalah XEC, diikuti oleh ­varian KP.3.1.1.

Baca juga : Lima Langkah India Dalam Hadapi Peningkatan Kasus Covid-19

Pada Februari 2025, sirkulasi varian XEC mulai menurun dan mulai ada peningkatan varian LP.8.1 yang kemudian mendominasi keadaan pada pertengahan Maret 2025.

Kemudian, mulai pertengahan April maka sirkulasi varian LP.8.1 mulai berkurang dan varian baru NB.1.8.1 mulai meningkat dan kini mendapat perhatian penting dunia dan diberi nama varian Nimbus.

Karena perkembangannya, maka WHO lalu memasukkan varian Nimbus NB.1.8.1 se­bagai “Variant Under Moni­toring (VUM)”.

Kita ingat waktu Covid-19 sedang tinggi-tingginya maka WHO menetapkan tiga klasifikasi varian ini, yang ­paling berat adalah "Variants Of ­Concern (VOC)" seperti Delta dan lain-lain.

Baca juga : Lima Antisipasi Cuaca Amat Panas Di Arafah Dan Mina

Lalu ada “Variants Of Inte­rest (VOI)” dan “Variants Under Monitoring (VUM”). Ketika itu situasi amat dinamis, yang VUM bisa berubah menjadi VOI dan yang VOI bisa berubah menjadi VOC, dan demikian juga sebaliknya.

Secara genomik varian Nimbus ini berhubungan ­dengan XDV.1.5.1 dan kemudian ­dengan varian JN.1.

Bila dibandingkan dengan varian dominan lainnya yaitu, LP.8.1 maka varian Nimbus NB.1.8.1 punya berbagai mutasi “spike” pada T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I.

Yang penting, mutasi “spike” pada posisi 445 menunjukkan peningkatan keterikatan (enhance binding affinity) terhadap reseptor hACE2, dan hal inilah yang menyebabkan varian ini jadi lebih mudah menular, yang bukan tidak mungkin terkait dengan ­peningkatan kasus di beberapa negara sekarang ini.

Baca juga : Istana, Covid-19 Global Dan WHO

Dampak lain, mutasi varian Nimbus pada posisi 435 juga mengakibatkan penurunan potensi netralisasi antibodi, sementara mutasi pada posisi 478 menunjukkan evasi antibodi pula.

Sampai pada 18 Mei 2025, sudah ada 518 sekuen NB.1.8.1 dilaporkan oleh 22 negara ke GISAID from 22 countries, dan datanya menunjukkan 10,7 persen data global pada pekan epidemiologi (epidemiological week-EW) ke 17 tahun 2025 (21-27 April 2025).

Walaupun angka persentase ini nampaknya masih kecil tetapi ini jauh meningkat dari angka empat minggu se­belumnya (31 Maret sampai 6 April 2025) yang masih 2.5%. Peningkatan ini terjadi di Asia, Eropa dan Amerika.

Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor Griffith University – Australia
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018 - 2020
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.