Dark/Light Mode

SBY Dan Eliminasi Malaria

Selasa, 17 Juni 2025 07:49 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Rakyat Merdeka dalam RM.id edisi 21 September 2024 memuat berita berjudul “Bertemu Jokowi di Istana, SBY Lapor Bakal Jadi Pena­sihat Khusus Pengentasan ­Malaria.” Disebutkan ­bahwa Presiden ke-6 RI Susilo Bambang ­Yudhoyono (SBY) menginformasikan kepada Presiden Joko Widodo ­bahwa dirinya ditunjuk ­sebagai ­Penasihat Khusus Aliansi ­Sedunia untuk Membasmi Malaria.

Dalam pertemuan itu, SBY juga menyampaikan rencana kepergiannya ke New York untuk menghadiri forum Asia Pacific Leaders Malaria ­Alliance (APLMA). Selan­jutnya, RM.id edisi 22 September 2024 memuat berita berjudul “Lapor ke Jokowi Jadi Penasihat Khusus Kasus Malaria Dunia. SBY: Ini Etika Politik.”

Pada Oktober 2024, laman Radio Republik Indonesia (RRI) menulis bahwa SBY telah menemui Presiden Terpilih 2024–2029, Prabowo Subianto. SBY menuturkan, pertemuannya dengan Prabowo bertujuan membahas langkah-langkah strategis dalam penanganan malaria di Indonesia.

Laman Kementerian Ke­sehatan, tertanggal 11 Oktober 2024, menyebutkan bahwa Penasihat Khusus APLMA, Prof. Susilo Bambang Yudhoyono, mengapresiasi peluncuran peta jalan eliminasi malaria. Menurutnya, timeline dan target yang ditetapkan sangat realistis.

Baca juga : APLMA Dan Eliminasi Malaria 2030

“Saya sudah baca intisari dari peta jalan ini. Beautiful, good initiative. Saya yakin Indonesia bisa menjadi model di kawasan Asia-Pasifik dalam upaya memberantas malaria ini,” ujar SBY.

Presiden ke-6 RI itu juga menyatakan, dengan adanya peta jalan ini, 50 persen dari target yang ditetapkan sudah hampir tercapai. Namun, ia menekankan bahwa perencanaan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah aksi nyata di lapangan, terutama di daerah endemis malaria seperti Papua, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.

“Kalau semua melakukan langkah bersama, bukan ­hanya Kementerian Kesehatan, tapi utamanya para pemimpin: gubernur, bupati, wali kota, menteri, dan presiden, semua­nya bertanggung jawab dan melakukan sesuatu secara nyata,” katanya.

Pada Juni 2025 ini, Pak SBY berkenan menghadiri 9th Asia Pacific Leaders’ ­Summit on Malaria Elimination, yang diselenggarakan oleh APLMA dan Kementerian Kesehatan di kawasan Nusa Dua, Bali, pada 16 dan 17 Juni 2025. Beliau menyampaikan Keynote Address dalam High-Level Session di pertemuan para ­pemimpin Asia-Pasifik tersebut.

Baca juga : Wakil Gubernur Banten Beri Kuliah Umum Di Universitas YARSI

Saya merasa berbesar hati turut hadir dalam acara ini. Saat menjabat sebagai Direk­tur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Ling­kungan Kementerian Kese­hatan, Indonesia turut aktif dalam pembentukan APLMA pada tahun 2013.

Dalam acara APLMA di Bali ini, turut ditayangkan sambutan video dari Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO). Ia menyampaikan bahwa eliminasi malaria di Indonesia bisa tercapai—disebutnya, “national elimination is within reach.

Tedros juga menekankan bahwa malaria merupakan salah satu masalah kesehatan penting di kawasan Asia-­Pasifik, dan secara umum, proses eliminasi malaria memang kompleks.

Dalam Technical Session pertemuan ini, dibahas ­lima ­aspek penting. Pertama, gambaran umum (setting the scene), termasuk proses Indonesia menuju eliminasi ­malaria. Kedua, penanganan lintas batas (cross-border), termasuk pengalaman kerja sama Indonesia dengan ­negara tetangga. Ketiga, pengen­dalian vektor, terutama karena nyamuk adalah vektor utama malaria. Keempat, Peran serta masyarakat, di mana penga­laman Indonesia menjadi rujukan penting. Kelima, inovasi dan pendekatan integratif untuk mempercepat eliminasi malaria di Asia-Pasifik.

Baca juga : Nimbus, Varian Terbaru Covid-19

Kita semua berharap, pertemuan 9th Asia Pacific Leaders’ Summit on Malaria Elimi­nation ini akan memberi kontribusi besar bagi eliminasi malaria, di Asia Pasifik, di Indonesia, dan di dunia. Dari Bali, untuk Asia Pasifik dan dunia.

Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
- Adjunct Professor Griffith University
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara 2018–2020
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.