Dark/Light Mode

Dengue Dan SBM

Kamis, 10 Juli 2025 19:35 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 10 Juli 2025, saya ada aktivitas langsung ke masyarakat, yaitu pertemuan dengan ibu-ibu kader kesehatan dan tokoh masyarakat (Ketua RT dll) di Puskesmas Kebayoran Lama.

Walaupun cukup banyak terlibat kegiatan internasional, tetapi saya selalu "menikmati" kerja langsung di lapangan dan berdiskusi dengan garda terdepan, yaitu kader kesehatan.

Topik hari ini adalah tentang Demam Berdarah Dengue yang pada umumnya sudah dikuasai oleh para kader, dan tentang Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM).

Tentang Dengue, saya sampaikan lima point yang digalakkan oleh WHO Kawasan Amerika. Pertama adalah mengetahui subtipe virus Dengue apa yang sedang berkecamuk di daerah tertentu.

Kedua, pengendalian dan pemberantasan sarang nyamuk. Ketiga, perlindungan diri dengan baju tangan panjang atau kelambu dll. Keempat adalah kesiapan fasilitas kesehatan, dan ke lima penyuluhan kesehatan.

Baca juga : Kecerdasan Buatan Dan Kesehatan

Empat dari lima hal ini sudah dilakukan oleh Ibu-Ibu Kader, hanya yang pertama yang tentang subtipe virus memang belum mereka ketahui. Saya bahas juga tentang Vaksin Dengue, yang memang masih berbayar dan belum ada di Puskesmas.

Tentang SBM, kita tahu bahwa surveilans adalah  kegiatan pengamatan, pencatatan, pelaporan dan analisanya, yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematis terhadap situasi kesehatan atau faktor risiko yang menjadi tanda munculnya masalah kesehatan di masyarakat.

 

Bersama Ibu-ibu kader kesehatan di Kebayoran Lama.

Kegiatan ini biasa dilakukan oleh petugas kesehatan, tetapi, tadi saya menganjurkan juga untuk dilakukan oleh para kader dan tokoh masyarakat Kebayoran Lama, dan juga masyarakat kita pada umumnya dimanapun berada.

Ada tiga kelebihan kegiatan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) ini. Pertama, mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap masalah kesehatan.

Baca juga : Kusta Di Negara Kita

Kedua, kader dan tokoh masyarakat adalah orang-orang yang di lapangan, yang paling tahu sejak dini tentang masalah kesehatan di lingkungan mereka.

Tinggal hanya diberitahu tentang hal-hal apa yang perlu jadi perhatian, seperti misalnya ada klaster orang dengan gejala yang sama, atau ada pencemaran lingkungan di sekitar kawasan dll.

Ketiga adalah meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan.

Pertanyaan dari peserta pertemuan juga cukup menarik. Seorang Ketua RT misalnya, bertanya bahwa kalau ada klaster penyakit di warganya maka bagaimana mekanisme pelaporannya.

Ibu Kader ada yang bertanya tentang bagaimana "resep" mengajak partisipasi masyarakat dalam pengendalian penyakit, dan bahkan ada Ibu Kader yang minta dijelaskan secara rinci tentang 4 serotipe virus Dengue. 

Baca juga : Peran Serta Warga Kota Jakarta

Antusiasme peserta pertemuan sangat tinggi, semua berpartisipasi penuh karena memang saya meminta mereka yang membaca slide di layar secara bergilir. Ini menunjukkan bahwa potensi dan semangat para kader dan tokoh masyarakat jelas amat tinggi dan merupakan modal besar penanganan kesehatan.

Tinggal petugas kesehatan saja memfasilitasi agar kinerja mereka akan makin penting dalam pengendalian kesehatan masyarakat di Daerah Khusus Jakarta yang menuju Kota Global ini, dan juga daerah lain di Indonesia.

Prof Tjandra Yoga Aditama 
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.