RM.id Rakyat Merdeka - Kawasan Timur Tengah kembali bergolak. Eskalasi konflik Iran–Israel telah mencapai titik kritis sejak pertengahan Juni 2025, mengingatkan dunia bahwa stabilitas regional masih rapuh. Dalam 24 jam terakhir, Iran menetapkan status siaga penuh.
Seluruh matra pertahanan mereka, mulai dari sistem radar, rudal hingga satuan udara, dikerahkan ke berbagai titik strategis. Komando perang di Teheran bekerja tanpa henti memantau pergerakan Israel yang dianggap sangat agresif, bahkan disebut “mampu menyerang siapa saja kapan saja” meskipun kerap tampil seolah menginginkan perdamaian.
Di tengah hiruk-pikuk diplomasi internasional yang cenderung reaktif, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk tampil sebagai mediator kredibel, sesuatu yang selama ini jarang kita manfaatkan secara maksimal.
Titik balik konflik dimulai pada 13 Juni 2025 ketika Israel melancarkan serangan udara masif terhadap fasilitas nuklir Iran di Khorramabad. Serangan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur strategis Iran, tetapi juga menewaskan Hossein Salami, salah satu komandan senior Garda Revolusi.
Dampaknya segera terasa: dunia Islam bereaksi keras, dengan Sekretaris Jenderal OKI, Hissein Brahim Taha, mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Dalam pernyataan resminya, Taha menyampaikan: “grave concern over the recent Israeli attacks against Iran,” serta “condemning the military aggression in the strongest terms.”
Ia menegaskan komitmen OKI untuk “mobilizing international support, in coordination with the UN, to address this blatant violation of international law and prevent the alarming escalation of tension and insecurity in the region.”
Baca juga : Sepakati Tarif Baru 19 Persen Dengan AS, Huge Wins Untuk Industri Padat Karya Indonesia
Taha juga menyerukan agar komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah tegas menghentikan agresi ini, sekaligus menghimbau semua pihak untuk menurunkan ketegangan dan kembali ke jalur diplomasi.
Situasi semakin memanas ketika Ayatollah Ali Khamenei muncul di televisi nasional pada 16 Juni, menegaskan bahwa Israel “bisa melakukan apa saja terhadap siapa saja” dan menyatakan kesiapan Iran menghadapi tidak hanya Israel, tetapi juga Amerika Serikat jika diperlukan.
Pernyataan ini bukan sekadar gertakan; pada 23 Juni Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara Al Udeid di Qatar dalam operasi yang mereka sebut “Glad Tidings of Victory.”
Percobaan pembunuhan terhadap Presiden Iran Masoud Pezeshkian pertengahan Juni semakin memperkeruh suasana. Meski selamat, insiden ini memperkuat posisi keras Tehran.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 23 Juli, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran siap berperang dan tidak ragu menyerang jantung Israel jika mendapat serangan balik. Program nuklir, menurutnya, akan tetap berjalan sesuai koridor hukum internasional, meski peluang gencatan senjata tetap sangat tipis.
"Warisan diplomasi gemilang dan jaringan lintas blok yang kuat mampu menjawab panggilan sejarah ini. Ingat! Dunia menunggu dan waktu terus berjalan.”
Di tengah eskalasi ini, Indonesia sebenarnya memiliki modal diplomatik yang unik dan jarang dimiliki negara lain. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, kita memiliki legitimasi moral yang kuat di mata dunia Islam.
Baca juga : Energi Dari Kalimantan, Asa Untuk Indonesia
Lebih jauh, rekam jejak diplomasi Indonesia bukan sekadar catatan di kertas, tetapi warisan yang telah terbukti: dari Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 hingga kiprah Mohammad Natsir sebagai Wakil Presiden Rabithat Alam Islami dan mentor tokoh-tokoh Asia-Afrika seperti Anwar Ibrahim. Indonesia pernah menjadi pusat gerakan Islam global, bukan sekadar pengikut arus.
Keunggulan ini kini diperkuat oleh jaringan personal Presiden Prabowo Subianto yang telah lama menjalin hubungan erat dengan dunia Arab, jauh sebelum beliau menjabat sebagai presiden. Kedekatan personal tersebut membuka pintu diplomasi yang tidak dimiliki banyak negara: Indonesia dapat berbicara dengan Teheran, Riyadh, bahkan Washington tanpa kehilangan kredibilitas di mata pihak manapun.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia bisa berperan, tetapi apakah kita mau memanfaatkan momentum ini. OKI memang sudah mengeluarkan kecaman, namun pengaruhnya terbatas tanpa inisiatif konkret dari negara anggota besar seperti Indonesia.
Kita memiliki posisi strategis sebagai negara muslim terbesar sekaligus anggota G20, kombinasi yang memungkinkan kita menjembatani komunikasi antar blok yang selama ini sulit dilakukan.
Lebih dari itu, ini bukan hanya soal solidaritas keagamaan atau moral internasional. Ada kepentingan nasional yang nyata di balik stabilitas Timur Tengah. Perang berkepanjangan akan mengguncang harga energi global, merusak rantai pasok internasional, dan pada akhirnya menghantam ekonomi rumah tangga Indonesia.
Inflasi, kenaikan harga bahan bakar, dan ketidakstabilan pasar modal adalah konsekuensi yang akan kita rasakan jika konflik ini terus bereskalasi.
Indonesia memiliki beberapa keunggulan yang bisa dimanfaatkan untuk memainkan peran mediator. Kredibilitas historis kita dalam gerakan non-blok dan diplomasi bebas aktif memberikan ruang manuver yang luas.
Baca juga : Tarif Trump Turun Dinilai Untungkan Indonesia, Tapi Rugikan AS
Hubungan baik dengan semua pihak yang bertikai memungkinkan kita menjadi honest broker yang dipercaya. Pengalaman dalam mengelola keberagaman internal memberikan perspektif unik tentang bagaimana mengelola perbedaan tanpa harus berujung pada konflik.
Langkah konkret yang bisa diambil antara lain memprakarsai konferensi darurat tingkat tinggi, memimpin misi kemanusiaan lintas negara, dan menggunakan forum-forum internasional seperti G20 untuk membangun konsensus global tentang de-eskalasi.
Indonesia juga bisa memanfaatkan jaringan diaspora dan organisasi Islam internasional untuk membangun tekanan moral agar semua pihak kembali ke meja perundingan.
Dunia Islam saat ini tengah menunggu kepemimpinan yang nyata, bukan sekadar retorika kosong. Mereka butuh negara yang mampu berbicara dengan otoritas moral sekaligus memiliki kapasitas diplomatik untuk mewujudkan perubahan nyata. Indonesia, dengan segala modal yang dimiliki, berada dalam posisi ideal untuk mengisi kekosongan kepemimpinan ini.
Pertanyaan krusialnya sederhana: apakah kita siap kembali memimpin seperti saat Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, ketika Indonesia berhasil mengubah peta diplomasi dunia? Ataukah kita akan memilih aman di zona nyaman, membiarkan sejarah ditulis tanpa kontribusi berarti dari kita?
Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Di tengah konflik yang terus membara, hanya negara dengan kombinasi unik seperti Indonesia, populasi muslim terbesar, warisan diplomasi yang gemilang, dan jaringan lintas blok yang kuat, yang mampu menjawab panggilan sejarah ini. Dunia menunggu, dan waktu terus berjalan.
Penulis adalah Ketua DPP Partai Golkar dan Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.