Tausiah Politik
Sebelumnya
Ilmu-ilmu astrologi mungkin bisa dianalogikan dengan ketersingkapan rahasia Tuhan (mukasyafah), seperti Nabi Yusuf mampu memprediksi dua musim ekstrim yang akan terjadi di negerinya, Mesir, yaitu 7 tahun masa panen produktif dan 7 tahun akan terjadi masa paceklik. Khidhir mampu menggunakan ilmu ladunninya untuk memprediksi masa depan seorang anak yang penuh problem dan karena itu ia membunuhnya.
Baca juga : Karya Peradaban Islam: Kimiya al-Sa’adah
Pendeta Bahira memprediksi Muhammad yunior akan menjadi nabi dan orang besar. Para petani membaca letak bintang tujuh di langit sebagai tanda untuk menyemai benih padi, nelayan tradisional Bugis menurunkan kaki selutut ke dalam air laut untuk memprediksi cuaca yang akan terjadi sepanjang hari (Disertasi Dr Baharuddin Lopa, SH). Kesemuanya ini dianggap sebagai fenomena astrologis.
Baca juga : Karya Peradaban Islam: Dari Alkimia Ke Kimia
Sayang sekali ilmuan Barat menganggap disiplin Alkimia dan Astrologi sebagai tahyul yang tidak bisa dijadikan dasar pertimbangan. Selain ontology, epistimologi keilmuannya pun tidak jelas. Para mujaddin Islam seperti Ibnu Taimiyyah, menganggap astrologi sebagai bid’ah dan dikafirkan oleh golongan Wahabiyah. Padahal, dunia astrologi ilmuan Islam di abad pertengahan tidak seperti astrologi Yunani dan Cina yang memang majhul.
Baca juga : Karya Peradaban Islam: Dari Alkimia Ke Kimia
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 28 September 2025 dengan judul "Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (46), Karya Peradaban Islam: Antara Astronomi Dan Astrologi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.