BREAKING NEWS
 

Gejolak Geopolitik Amerika Dan Jalan Stabilitas Menuju Indonesia Raya

Senin, 6 Oktober 2025 07:32 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia hari ini bukan lagi ­sekadar bentangan peta ­dengan garis-garis batas negara. Ia adalah jalinan nasib, simpul kepen­tingan, dan pusaran arus kekuatan yang menembus batas geografis. Amerika Serikat, dengan keperkasaannya ­sebagai kekuatan adidaya, adalah salah satu pusat arus besar itu. ­Setiap kebijakan luar negeri, ­setiap ­gejolak politik domestik, dan setiap langkah militernya ­beresonansi hingga ke Asia, Afrika, bahkan ke tanah air kita.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang ­“mengatasi gejolak geopolitik AS dan ­dampaknya terhadap stabilitas dalam negeri,” sejatinya kita ­sedang membicarakan bagai­mana Indonesia mampu ­menegakkan diri sebagai bangsa tangguh, tidak mudah terguncang oleh badai global, dan tetap berjalan menuju cita-cita Indonesia Raya.

Baca juga : Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian

Dengan begitu membaca Amerika Serikat kini berada dalam pusaran geopolitik yang kian rumit. Rivalitas dengan Tiongkok mengeras, ketegangan di Timur Tengah tak kunjung reda, dan konflik Ukraina masih menjadi luka yang belum sembuh. Semua itu bukan ­hanya ­pertarungan ideologi atau ­perebutan pengaruh, melainkan juga berdampak langsung pada harga energi, rantai pasok global, dan stabilitas pasar keuangan dunia.

Negeri itu, meski berjarak ­ribuan mil dari kita, tetap menjadi pusat gravitasi yang menggerakkan denyut ekonomi ­global. Ketika The Federal ­Reserve menaikkan suku bunga, arus modal global bergeser. ­Ketika Washington menjatuhkan sanksi kepada Rusia atau Iran, harga minyak melonjak. Ketika tensi politik domestik di ­Kongres meningkat, pasar keuangan ­dunia ikut bergetar.

Baca juga : Pemerintahan Dalam Pembangunan Asta Cita Pusat Dan Daerah Untuk Indonesia Raya

Indonesia tentu tidak bisa berpura-pura berada di luar pusaran itu. Sebagai negara menuju negara maju, tentu saja, erat ­terhubung dengan perdagangan dan arus modal global, setiap gejolak di AS segera merembes masuk ke ruang ­domestik. ­Rupiah tertekan, harga pangan naik, biaya energi membengkak, dan stabilitas sosial ikut terancam. Inilah tantangan besar: bagaimana menjaga kete­nangan dalam negeri di tengah dunia yang bergolak –tanpa ke­hilangan arah menuju cita-cita kebangsaan.

Stabilitas bukanlah keadaan statis, melainkan proses dinamis. Ia bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga politik, sosial, bahkan budaya. Gejolak geopolitik AS memberi kita pelajaran bahwa stabilitas domestik harus bertumpu pada fondasi yang kokoh, bukan hanya respons jangka pendek. Pertama, fondasi ekonomi yang berdaulat: memperkuat keta­hanan pangan, energi, dan ­industri dasar agar tak mudah terguncang fluktuasi global. Kedua, fondasi politik yang solid: menghindari perpecahan elite dan polarisasi rakyat yang melemahkan daya tahan bangsa. Dan ketiga, fondasi sosial-­budaya yang menyatukan: persatuan nasional, sebagaimana diamanatkan Pancasila, adalah modal utama menghadapi ­tekanan eksternal.

Adsense

Baca juga : Manajemen Pemerintahan Pusat Dan Daerah Dalam Mewujudkan Asta Cita

Bagi Indonesia, hal ini ­berarti kebijakan ekonomi tak boleh berhenti pada angka-angka ­makro yang indah di atas kertas. Stabilitas sejati, adalah ketika harga pangan terjangkau, ketika anak-anak bersekolah tanpa cemas, ketika rakyat ­merasa aman dari ketidakpastian. Menghadapi guncangan global, negara wajib mengutamakan per­lindungan bagi rakyat kecil, bukan ­se­mata-mata kepentingan pasar.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense