Dark/Light Mode

Pemerintahan Dalam Pembangunan Asta Cita Pusat Dan Daerah Untuk Indonesia Raya

Kamis, 25 September 2025 07:11 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto melalui pembangunan nasional Indonesia selalu ber­gerak dari cita-cita luhur menuju implementasi secara jelas. Maka bangsa ini mengusung visi untuk menjadi negara maju, berdaulat, dan sejahtera; karuan saja jalan yang ditempuh sering terjal oleh hambatan sosial, politik, birokrasi, ketimpangan wilayah, dan hubungan diplomasi internasional.

Di sinilah Asta Cita hadir, bukan hanya sebagai ­agenda ­teknokratis pemerintahan, melainkan sebagai penanda arah, kompas kebangsaan yang ­hendak membawa Republik besar ini menapak tegak menuju seratus tahun kemerdekaan pada 2045.

Dari itu Asta Cita tidak akan berdenyut bila hanya berdiam di pusat; ia mesti mengalir ke ­daerah, menubuh dalam desa-desa yang jauh, kota-kota yang hiruk pikuk, hingga pelosok kepulauan yang sering ter­lupa. Barulah “Indonesia Raya” menemukan wujudnya: sebuah ­gerakan bangsa yang ­tidak hanya satu di atas peta, tetapi juga satu dalam rasa, ­martabat, dan ­kesejahteraan bahwa melalui pendidikan maupun makan ­bergizi.

Baca juga : Manajemen Pemerintahan Pusat Dan Daerah Dalam Mewujudkan Asta Cita

Globalisasi menempatkan Indonesia di pusaran arus deras yang tak terhindarkan. Tampilnya Presiden Prabowo di dalam Sidang Umum PBB, 23 September 2025, wujud nyata ke­hadiran Indonesia di mata dunia ­–­seperti yang dilakukan ­Presiden RI ­pertama Ir. ­Soekarno ­tanggal 30 September 1960, jalan ­tengah menghadapi ­perang dingin AS dan Uni ­Sovyet. Saat ini perdagangan lintas benua, ­revolusi digital, krisis iklim, dan persaingan geopolitik menuntut negara untuk tegak berdiri atau hanyut terbawa.

Dalam pusaran inilah Asta Cita tampil sebagai jawaban: memperkokoh swasembada pangan, energi, dan air agar bangsa tidak rapuh ketika pasokan dunia terguncang; ­mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak lagi sekadar menjual nikel dan batu bara, tetapi mengolahnya menjadi kekuatan industri terpadu dengan segman lainnya seperti pendidikan, pemukiman dan lingkungan yang asri, yang berkembang seperti “JABEKA” penyangga Jakarta sebagai kota bisnis dunia menguatkan ekonomi kreatif, ­hijau, dan biru agar bangsa ini tak hanya mengejar pertum­buhan, tetapi juga menjaga harmoni dengan alam dan ­menyalakan daya cipta manusianya.

Semua itu adalah jalan ­menuju kemandirian, sebuah prinsip yang selaras dengan sila Ketiga Pancasila—Per­satuan ­Indonesia—yang menuntut agar ­ketahanan bangsa tidak tercabik oleh ketergantungan luar. ­Indonesia adalah negeri kepulauan, mozaik budaya, ruang sosial yang begitu majemuk, maka kebijakan yang lahir dari pusat tidak selalu bisa menjejak ­mulus di daerah. Desa terpencil di ­Maluku atau Papua, dengan listrik yang terbatas dan internet yang terputus-putus, tentu tidak bisa mengadopsi digitalisasi layanan publik ­secepat Jakarta.

Baca juga : Strategi Modernisasi: Tata Kelola Manajemen Pemerintahan,Kemendagri & Pemerintahan Daerah

Inilah panggilan Pancasila, khususnya sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang mengingatkan bahwa ­pembangunan harus memandang setiap manusia dengan martabat yang sama. Asta ­Cita menghormati perbedaan ­kondisi lokal, memberikan ruang ­adaptasi, tetapi tetap ­menjaga benang merah persatuan. ­Desentralisasi memberi daerah ­kesempatan untuk ­menata dirinya, namun koordinasi dengan pusat tetaplah keharusan agar tidak jatuh pada fragmentasi yang merusak.

Pancasila, melalui sila Kelima—Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia—menjadi dasar moral bahwa birokrasi sejati harus melayani, bukan dilayani; harus menjadi alat keadilan, bukan alat kekuasaan. Birokrasi yang berjiwa Pancasila bukan sekadar manajer program, melainkan pelayan kebangsaan yang mewujudkan visi pusat menjadi kenyataan di desa dan kota.

Persaingan antarbangsa dalam era global menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengelola sumber daya alam. Dunia telah bergerak ke arah ekonomi hijau, energi bersih, dan digitalisasi. ­Jika Indonesia tetap berpijak pada model lama, ia akan tertinggal. Karena itu, Asta Cita menggariskan agenda ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ­ekonomi biru sebagai jalan adaptasi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.