BREAKING NEWS
 

Penguatan Tata Kelola Otonomi Khusus Papua Untuk Pembangunan Inklusif Dan Berkeadilan

Senin, 17 November 2025 07:54 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Otonomi Khusus Papua adalah harapan yang lebih besar daripada sekadar rekayasa administratif; ia membawa janji moral bahwa negara mampu meng­hadirkan keadilan, ­pengakuan, dan ruang hidup yang setara bagi masyarakat adat yang selama puluhan tahun memikul beban ketimpangan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang kemudian diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021, penguatan tata kelola menjadi syarat mutlak agar semangat Otsus tidak berhenti sebagai jargon, tetapi menjelma menjadi perubahan nyata yang terasa di kampung, lembah, dan pesisir Papua.

Transparansi anggaran, ­pe­ningkatan kapasitas birokrasi, serta pengawasan partisipatif harus memastikan bahwa setiap rupiah Dana Otsus tepat sasaran, menjangkau pendidikan, kese­hatan, infrastruktur dasar, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Di tengah tantangan geografis dan keragaman budaya, tata kelola yang efektif menuntut pende­katan adaptif dan selaras dengan struktur sosial adat yang telah hidup jauh sebelum negara hadir.

Baca juga : Pengamat Puji Operasi Zebra 2025 Yang Lebih Humanis Dan Berkeadilan

Maka pembangunan yang inklusif dan berkeadilan tidak cukup hanya dengan memperkuat institusi formal; ia menuntut ­representasi politik yang ­lebih substansial bagi Orang Asli ­Papua sebagai­mana dijamin dalam pasal-pasal ­mengenai keistimewaan politik dan meka­nisme perwakilan adat di DPR dan MPR. Keberhasilan Otsus ditentukan oleh sejauh mana masyarakat Papua menjadi aktor utama dalam menentukan arah pembangunan.

Dalam bingkai Pancasila dan Asta Cita, Otonomi Khusus Papua bukan hanya kerangka ­desentralisasi, tetapi wujud ikhtiar negara menghadirkan kea­dilan sosial, penghormatan martabat manusia, dan peme­rataan pembangunan. Undang-undang Otsus menjadi instrumen konstitusional untuk memastikan pengakuan hak-hak masyarakat adat serta mendorong partisipasi politik mereka sebagai subjek pembangunan.

Baca juga : Kemenhut Perjuangkan Aturan Pasar Karbon Yang Adil Dan Inklusif Di COP30

Papua, dengan kosmologi dan keberagaman budayanya, menantang negara untuk membuktikan bahwa prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab sungguh hidup dalam praktik, bukan hanya dalam teks undang-undang. Di situlah Otsus diuji: apakah ia mampu melahirkan tata kelola yang bermartabat dalam bingkai ­Bhinneka ­Tunggal Ika dan cita-cita Indonesia yang inklusif.

Dua dekade perjalanan Otsus telah menghasilkan sejumlah ­kemajuan—sekolah-sekolah baru, layanan kesehatan yang lebih merata, konektivitas yang perlahan membaik, serta ­peningkatan kapasitas sebagian aparatur lokal. Karena itu, ­representasi politik menjadi elemen yang tidak bisa diabaikan. Efektivitas representasi tidak hanya diukur dari jumlah kursi di DPRD dan DPR, tetapi juga dari kualitas ­aktor lokal dalam memperjuangkan kepentingan ­rakyat, memperkuat pengawasan, menga­rahkan pem­bangunan sesuai konteks kultural, dan menegosiasikan kepentingan Papua dalam ruang nasional.

Adsense

Baca juga : LPKR Perkuat Tata Kelola Lewat Pengadaan Berkelanjutan

Maka dalam konteks peru­bahan struktural, pemekaran provinsi—Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya—sering dibaca sebagai upaya negara memperpendek jarak pe­layanan publik, dan menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat ­dengan masyarakat. Secara teoritis, pemekaran dapat memperluas ruang representasi, membuka lebih banyak kursi politik lokal, dan menciptakan kesempatan baru bagi masyarakat adat untuk memimpin wilayahnya sendiri.

Pemekaran juga membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia memberikan harapan baru bagi percepatan pembangunan; di sisi lain, ia mengandung risiko fragmentasi kelembagaan, ­ketidaksiapan aparatur, serta munculnya patronase politik baru yang justru dapat mengaburkan tujuan Otsus. Pemekaran hanya akan berarti bila mem­perluas ruang yang memungkinkan masyarakat mengartikulasikan suara mereka tanpa tekanan, memperkuat institusi lokal, dan memperbaiki tata kelola, bukan sekadar mem­perbanyak struktur administratif.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense