Sebelumnya
Pemikiran geopolitik memberi kepada para kepala daerah kesadaran bahwa ruang Indonesia bukan entitas tunggal, melainkan mosaik yang memiliki dinamika unik. Di Sumatera, harga cabai mencerminkan ritme hubungan antara lahan, musim, dan logistik antarpulau. Di Nusa Tenggara, inflasi berkelindan dengan ketersediaan kapal, kecukupan pakan ternak, serta perubahan iklim. Di Kalimantan, stabilitas harga makanan pokok bergantung pada jaringan sungai dan kemampuan intervensi logistik pemerintah.
Identifikasi terhadap pola-pola itu mengajarkan para gubernur, bupati, dan wali kota bahwa mengendalikan inflasi adalah upaya mengendalikan dinamika lintas batas administratif. Kebijakan mereka hanya efektif jika mereka mampu merajut koordinasi yang kuat dengan daerah tetangga, sebab jalur distribusi pangan tak mengenal batas politis. Pada titik ini, geostrategi daerah menjadi seni mengolah jejaring kerja sama antardaerah, menciptakan kolaborasi, dan memetakan ulang identitas ruang menjadi satu kesatuan ekonomi nasional.
Baca juga : MGK Serang Jadi Perumahan Subsidi Terbaik Di PropertyGuru Indonesia Awards 2025
Dalam kerangka Pancasila dan Asta Cita pemerintahan nasional saat ini, pengendalian inflasi daerah merupakan bagian dari amanat moral untuk memastikan negara hadir dalam ruang penghidupan masyarakat paling konkret: ketersediaan barang, keterjangkauan harga, dan kepastian masa depan ekonomi rumah tangga. Di tengah dunia yang mudah bising oleh ketidakpastian global—mulai dari perang, krisis energi, hingga perubahan iklim—kepala daerah menjadi garda terdepan yang menjaga agar kegelisahan global tidak merembes terlalu dalam ke kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Geostrategi kepala daerah dalam mengendalikan inflasi juga harus melihat dimensi kemandirian. Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah, meskipun wajar, tidak boleh menjadi pola permanen. Daerah memerlukan strategi jangka panjang untuk memperkuat cadangan pangan lokal, memperluas irigasi, memperbaiki produktivitas pertanian, mengelola air secara berkelanjutan, serta memodernisasi sistem logistik.
Baca juga : Indonesia Harus Menyikapi Perang Global Bahan Baku Tanah Jarang
Pemikiran geopolitik mengajarkan bahwa mereka yang bergantung pada pihak lain, akan dipengaruhi oleh dinamika yang berada di luar kendalinya. Kedaulatan ekonomi lokal, adalah pondasi bagi kestabilan harga. Bila daerah mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan dasarnya sendiri, inflasi dapat ditekan bukan dengan operasi pasar semata, tetapi melalui kekuatan struktur pasok yang mandiri dan berkelanjutan. Pada titik ini, kepala daerah menjadi arsitek ruang hidup yang tidak sekadar bertahan, tetapi tumbuh.
Mengendalikan inflasi juga memerlukan kebijaksanaan dalam memahami psikologi masyarakat. Harga tidak naik hanya karena barang kurang; sering kali inflasi dipicu persepsi, kecemasan, dan spekulasi. Kepala daerah perlu menjadi komunikator publik yang mampu menenangkan, menjelaskan, serta membangun kepercayaan. Dalam tradisi kepemimpinan Indonesia, dari tokoh-tokoh lokal hingga tokoh nasional, kepercayaan merupakan modal yang sering kali lebih kuat daripada instrumen kebijakan apa pun.
Baca juga : Geopolitik Dan Geostrategi Kepala Pemerintahan Daerah Dalam Tata Kelola Keuangan Daerah
Maka ketika rakyat percaya pada pemimpinnya, karuan saja kepanikan berkurang, spekulasi mereda, dan kestabilan ruang sosial terjaga. Pengendalian inflasi tidak pernah berdiri terpisah dari pengendalian persepsi. Geopolitik mengajarkan bahwa kekuasaan tidak hanya terletak pada teritori, tetapi juga pada kemampuan membentuk narasi atas teritori itu.
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah DIRJEN SOSPOL DEPDAGRI RI 1999-2001 DAN GUBERNUR LEMHANNAS RI 2001-2005.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.