Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kematangan Diplomasi Presiden Prabowo Subianto Dalam Perdamaian Dunia Di Gaza
Senin, 20 Oktober 2025 07:55 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Diplomasi bukanlah sekadar permainan kata di ruang rapat internasional; ia adalah seni membaca denyut dunia dan menjahitnya kembali dengan benang kebijaksanaan. Dalam hubungan ini, kiprah Presiden Prabowo Subianto di kancah diplomasi global, khususnya dalam isu perdamaian di Gaza, mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar kehadiran seorang kepala negara di forum internasional.
Bersamaan pula itu merupakan cerminan dari arah baru politik luar negeri Indonesia terhadap keseimbangan antara idealisme Pancasila, kepentingan nasional, dan dinamika global yang penuh gejolak. Sejak Oktober 2023, Gaza kembali menjadi luka terbuka bagi kemanusiaan. Di tengah reruntuhan rumah dan harapan, diplomasi dunia diuji oleh pertanyaan paling mendasar: apakah kemanusiaan masih memiliki tempat di antara kepentingan kekuasaan?
Indonesia, dengan tradisi panjang solidaritasnya terhadap Palestina, tidak dapat berpaling. Kematangan diplomasi dapat diukur dari empat hal: kemampuan menjaga prinsip, kecakapan menggunakan instrumen negara, keahlian membangun koalisi, dan kedewasaan dalam mengelola narasi. Dalam keempatnya, diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan perpaduan antara keberanian dan kehati-hatian, antara idealisme dan realisme.
Baca juga : Bukti Diplomasi Presiden Prabowo Sebagai Pemimpin Dunia
Kematangan diplomasi bukan hanya soal strategi. Ia juga tentang kapasitas moral untuk menjaga agar langkah politik tidak kehilangan jiwa. Di sini, Pancasila menjadi sumber daya lunak (soft power) yang paling luhur bagi Indonesia. Ketika dunia berdebat dengan bahasa kepentingan, Indonesia berbicara dengan bahasa kemanusiaan. Sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab,” menjadi kompas moral dalam setiap pernyataan diplomatik.
Indonesia tidak memiliki ambisi menjadi kekuatan hegemonik. Prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif telah menjadi fondasi sejak era Ir. Soekarno, dan hingga kini tetap relevan. “Bebas” berarti tidak berpihak pada blok kekuasaan mana pun, sedangkan “aktif” berarti tidak pasif dalam memperjuangkan perdamaian. Dalam konteks Gaza, kebijakan bebas aktif ini menemukan aktualisasinya: Indonesia tidak tunduk pada tekanan politik dari kekuatan besar, tetapi juga tidak menutup diri dari diplomasi praktis yang membuka peluang rekonsiliasi.
Kematangan diplomasi juga menuntut kecakapan dalam menggunakan instrumen negara. Indonesia kini tidak hanya berbicara dengan suara moral, tetapi juga menawarkan kontribusi konkret: kesiapan mengirim pasukan penjaga perdamaian, komitmen untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Gaza, serta partisipasi dalam forum multilateral untuk memastikan keamanan sipil. Ini bukan diplomasi simbolik, melainkan bentuk implementasi dari cita-cita “Indonesia aktif berperan dalam perdamaian dunia” sebagaimana tertuang dalam Asta Cita yang diusung pemerintahan Prabowo.
Baca juga : Meritokrasi Dan Politik Dalam Pemerintahan Menuju Indonesia Raya
Diplomasi bukan hanya tentang pernyataan, tetapi juga tindakan; bukan hanya tentang posisi, tetapi tentang partisipasi yang nyata. Di balik kekuatan ini tersimpan pula tantangan yang tidak ringan. Politik global tidak mengenal niat baik tanpa syarat. Indonesia tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mandat perdamaian, seperti pengerahan pasukan penjaga perdamaian, bergantung pada restu PBB dan negara-negara besar.
Dalam kerangka ini, kematangan diplomasi Presiden Prabowo diuji oleh bagaimana ia mengelola persepsi publik dan reputasi negara. Dunia internasional kini sangat sensitif terhadap simbol dan narasi. Sebuah ucapan yang terlepas di ruang pertemuan, atau misinformasi tentang rencana kunjungan, dapat mengubah citra negara di mata dunia. Kematangan diplomasi berarti kemampuan menjaga setiap kata agar tidak kehilangan makna kenegaraan, setiap gestur agar tidak disalahartikan sebagai ambisi personal.
Bagi Indonesia, Gaza bukan hanya persoalan politik internasional, tetapi juga cermin tentang siapa kita sebagai bangsa. Apakah kita masih setia pada nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan sejak kemerdekaan? Apakah diplomasi kita masih berpihak pada mereka yang tertindas, tanpa kehilangan kecerdikan dalam berpolitik? Dalam pertanyaan-pertanyaan itulah diplomasi Presiden Prabowo diuji: apakah ia mampu menggabungkan moralitas dengan efektivitas, nilai dengan strategi, hati nurani dengan kecerdasan real politik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya