Sebelumnya
Di sinilah bayang-bayang Perang Dunia III menemukan konteksnya. Perang besar tidak selalu lahir dari ideologi ekstrem atau sengketa wilayah semata, melainkan dari kegagalan sebuah sistem menerima perubahan sejarah. Ketika transisi menuju dunia multipolar dihambat dengan paksaan, ketegangan pun menumpuk tanpa katup pelepas. Venezuela menjadi titik api yang memperlihatkan rapuhnya stabilitas global yang selama ini dianggap mapan. Dunia tidak sedang menuju perang karena kebencian semata, melainkan karena ketidakmampuan tatanan lama untuk melepaskan dominasinya secara damai.
Bagi Indonesia, pesan dari konflik Amerika Serikat dan Venezuela memiliki relevansi yang jauh melampaui jarak geografis. Pancasila mengajarkan keseimbangan antara keterbukaan dan kemandirian, antara kerja sama internasional dan kedaulatan nasional yang tidak boleh dikompromikan. Asta Cita menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak boleh berdiri di atas ketergantungan struktural yang rapuh, terlebih pada satu sistem moneter global yang sarat kepentingan.
Baca juga : Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian I)
Dalam dunia yang semakin terfragmentasi dan multipolar, ketergantungan berlebihan pada satu poros ekonomi dan keuangan, justru berubah menjadi kerentanan strategis yang mengancam daya tahan bangsa. Konflik Venezuela menunjukkan bahwa stabilitas global bukanlah sesuatu yang given, melainkan konstruksi rapuh yang dapat runtuh ketika kepentingan besar saling berhadapan. Ketergantungan dunia pada satu sistem moneter dan energi menciptakan ilusi keteraturan, padahal di baliknya tersimpan potensi guncangan besar.
Dalam konteks ini, diversifikasi cadangan devisa, penguatan kedaulatan energi, serta diplomasi ekonomi yang luwes dan presisi bukan pilihan ideologis, melainkan kebutuhan historis. Indonesia dituntut membaca perubahan ini dengan nalar jernih, bukan reaktif, serta menempatkan kepentingan nasional sebagai kompas utama di tengah tarik-menarik kekuatan global.
Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Arah Bangsa: BPIP Menjadi Keniscayaan Zaman
Indonesia tidak dituntut memilih kubu secara gegabah, melainkan menjaga ruang manuver agar tetap berdaulat di tengah dunia yang sedang belajar berjalan ulang. Kewaspadaan, dalam perspektif Pancasila, adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan politik: sadar akan risiko tanpa terjebak dalam ketakutan.
Jalan kedaulatan memang sunyi, mahal, dan sering kali tidak populer, tetapi kehilangan kedaulatan adalah harga yang jauh lebih berbahaya. Kasus Venezuela menjadi peringatan sunyi bahwa bangsa yang gagal membaca tanda-tanda zaman: berisiko hanya menjadi penonton dalam sejarah yang ditulis oleh kekuatan lain.
Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Penanganan Bencana Alam Untuk Indonesia Raya
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.