BREAKING NEWS
 

Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian II-Habis)

Selasa, 13 Januari 2026 07:36 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Di sinilah bayang-bayang Perang Dunia III menemukan konteksnya. Perang besar tidak selalu lahir dari ideologi ekstrem atau sengketa wilayah semata, melainkan dari ke­gagalan ­sebuah sistem ­menerima perubahan ­sejarah. Ketika transisi ­menuju dunia multipolar di­hambat ­dengan paksaan, ketegangan pun menumpuk tanpa katup pelepas. Venezuela menjadi titik api yang memperlihatkan rapuhnya stabilitas global yang selama ini di­anggap mapan. Dunia tidak sedang menuju perang karena ke­bencian semata, melainkan karena ketidak­mampuan tatanan lama untuk melepaskan dominasinya secara damai.

Bagi Indonesia, pesan dari konflik Amerika Serikat dan Venezuela memiliki relevansi yang jauh melampaui jarak geografis. Pancasila mengajarkan keseimbangan antara keterbukaan dan kemandirian, antara kerja sama internasional dan kedaulatan nasional yang tidak boleh dikompromikan. Asta Cita menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak boleh berdiri di atas ketergantungan struktural yang rapuh, terlebih pada satu sistem moneter global yang sarat kepentingan.

Baca juga : Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian I)

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi dan multipolar, ketergantungan berlebihan pada satu poros ekonomi dan keuangan, justru berubah menjadi kerentanan strategis yang mengancam daya tahan bangsa. Konflik Venezuela menunjukkan bahwa stabilitas global bukanlah sesuatu yang given, melainkan konstruksi rapuh yang dapat runtuh ketika ke­pentingan besar ­saling ber­hadapan. Ketergantungan dunia pada satu sistem moneter dan energi menciptakan ilusi keteraturan, padahal di baliknya tersimpan potensi guncangan besar.

Dalam konteks ini, diversifikasi cadangan devisa, ­penguatan kedaulatan energi, serta diplomasi ekonomi yang luwes dan presisi bukan pilihan ideologis, melainkan kebutuhan historis. Indonesia dituntut membaca ­perubahan ini dengan nalar jernih, bukan reaktif, serta ­menempatkan kepentingan nasional sebagai kompas utama di tengah tarik-menarik kekuatan global.

Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Arah Bangsa: BPIP Menjadi Keniscayaan Zaman

Indonesia tidak dituntut memilih kubu secara gegabah, ­melainkan menjaga ruang manuver agar tetap berdaulat di ­tengah ­dunia yang sedang belajar ber­jalan ulang. Kewaspadaan, dalam perspektif Pancasila, adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan politik: sadar akan risiko tanpa terjebak dalam ketakutan.

Jalan kedaulatan memang sunyi, mahal, dan sering kali tidak populer, tetapi kehilangan kedaulatan adalah harga yang jauh lebih berbahaya. Kasus Venezuela menjadi peringatan sunyi bahwa bangsa yang gagal membaca tanda-tanda zaman: berisiko hanya menjadi penonton dalam sejarah yang ditulis oleh kekuatan lain.

Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Penanganan Bencana Alam Untuk Indonesia Raya

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense