Dark/Light Mode

Peringatan PD III Terhadap Kasus Venezuela, Indonesia Harus Waspada (Bagian I)

Senin, 12 Januari 2026 07:34 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, pada awal Januari 2026, tidak dapat di­pahami sebagai letupan geo­politik yang berdiri sendiri, apalagi sekadar respons normatif atas isu narkotika, demo­krasi, atau hak asasi manusia. Ia adalah fragmen dari mosaik besar kekuasaan global yang ­mulai retak, penanda bahwa dunia sedang bergerak di tepi jurang ketegangan sistemik.

Di balik dentum rudal, tekanan diplomatik, dan sanksi ekonomi, berlangsung pertarungan sunyi namun menentukan: perebutan kendali atas energi, mata uang, dan legitimasi tatanan dunia. Dari sudut pandang Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, ­konflik semacam ini seharusnya di­ukur dari dampaknya terhadap ­martabat manusia.

Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Arah Bangsa: BPIP Menjadi Keniscayaan Zaman

Ketika penderitaan rakyat sipil direduksi menjadi “biaya geopolitik”, maka dunia sedang berjalan menjauh dari nilai ­kemanusiaan dan mendekati logika kekuasaan telanjang —sebuah kondisi klasik yang kerap menjadi pintu masuk konflik global berskala besar. Maka ­Venezuela menjadi titik api karena berani menyentuh jantung sistem yang selama ­puluhan tahun menopang dominasi global: petrodollar.

Lantas manakala minyak —urat nadi peradaban ­modern— diperdagangkan hampir secara eksklusif dalam dolar, dunia dipaksa tunduk pada satu bahasa moneter. Upaya ­Venezuela ­menjual minyak di luar dolar ­bukan sekadar kebijakan ­ekonomi, melainkan pembang­kangan politik terhadap tatanan lama yang timpang. Sejarah menunjukkan pola yang konsisten dan mengkhawatirkan: Irak, Libya, dan kini ­Venezuela menghadapi tekanan keras setelah mencoba mendefinisikan ulang kedaulatan energi dan moneter mereka.

Baca juga : Pancasila Sebagai Kompas Penanganan Bencana Alam Untuk Indonesia Raya

Dalam konteks tersebut, kekerasan bukan anomali, melainkan mekanisme penjaga sistem. Karenanya kecen­derungan ­dominasi hanya dapat diper­tahankan melalui paksaan, konflik pun berhenti bersifat regional dan berpotensi menumpuk menjadi eskalasi global —sebuah jalan menuju ke­mungkinan Perang Dunia III, yang lahir bukan dari ideologi semata, melainkan dari kegagalan sistem lama ­menerima perubahan sejarah.

Bagi Indonesia, kasus ­Venezuela adalah peringatan strategis yang tidak boleh diabaikan. Pancasila, dengan semangat persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, menuntut kewaspadaan dalam membaca peta kekuasaan dunia yang kian keras dan terfragmentasi. Asta Cita menegaskan bahwa pembangunan sejati tidak boleh bertumpu pada ketergantungan struktural yang rapuh, terlebih pada satu sistem ekonomi global yang sarat kepentingan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.