Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah menjadi pemberitaan dalam satu hingga dua minggu terakhir dan memicu kewaspadaan di sejumlah negara, pada 30 Januari 2026 kejadian infeksi Virus Nipah di West Bengal, India, akhirnya masuk dalam Disease Outbreak News (DONs) World Health Organization (WHO).
Ada lima hal penting yang disampaikan dalam Disease Outbreak News WHO berjudul “Nipah virus infection – India” tersebut.
Pertama, Pemerintah India melaporkan kejadian ini ke WHO pada 26 Januari 2026. Disebutkan terdapat dua kasus—satu pria dan satu wanita—berusia antara 20–30 tahun. Keduanya merupakan perawat di sebuah rumah sakit swasta di Barasat.
Kedua perawat ini mulai menunjukkan gejala sakit berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026. Baru pada 13 Januari 2026 keduanya terkonfirmasi terinfeksi Virus Nipah, berdasarkan pemeriksaan di India National Institute of Virology di kota Pune melalui uji Reserve Transcription Polymerase Reaction (RT-PCR) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).
Baca juga : Peningkatan Pemakaian Gas Tertawa (N₂O) Di Dunia
Saat saya masih menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, reputasi India National Institute of Virology memang selalu sangat baik. Pada 27 Januari 2026, satu badan penting lainnya di India, Indian National Centre for Disease Control, secara resmi mengumumkan bahwa tidak ditemukan lagi kasus terkonfirmasi lanjutan dari kejadian di Barasat, West Bengal, ini.
Dalam konteks ini, tentu akan baik bila Indonesia juga memiliki dua badan atau institut kuat untuk menangani berbagai jenis infeksi dalam rangka antisipasi wabah dan epidemi di negara kita.
Kedua, hingga 21 Januari 2026, satu kasus—perawat wanita—masih berada dalam kondisi kritis di ICU dan menggunakan ventilator atau ventilasi mekanik. Sementara, kasus lainnya—perawat pria—juga mengalami gangguan neurologis berat akibat Virus Nipah, namun kemudian kondisinya membaik.
WHO menyebutkan masa inkubasi infeksi Virus Nipah berkisar antara 3 hingga 14 hari, meski ada laporan yang mencapai 45 hari. Gejala infeksi dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah dan nyeri tenggorok.
Baca juga : Penyakit Virus Nipah
Selanjutnya dapat disertai pusing hebat, gangguan kesadaran, dan memberat menjadi gangguan neurologis yang mengarah ke radang otak atau ensefalitis. Bila sudah terjadi ensefalitis dan kejang, pasien dapat jatuh ke dalam koma hanya dalam 24 hingga 48 jam. Pada sebagian pasien juga dapat muncul gangguan paru berupa pneumonia atipikal dan bahkan gagal napas akut.
Ketiga, hingga laporan ini dikeluarkan, sumber penularan Virus Nipah pada kedua perawat tersebut belum diketahui. Secara teoritis, inang alamiah Virus Nipah adalah kelelawar buah atau flying foxes dengan nama ilmiah Pteropus species.
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kelelawar, melalui hewan perantara lain, atau melalui makanan yang terkontaminasi salah satu dari tiga produk kelelawar, yaitu saliva, urin, atau ekskreta. Karena sumber awal penularan belum ditemukan, maka penanganan kasus ini dapat dikatakan belum sepenuhnya tuntas.
Keempat, WHO menyampaikan bahwa risiko kesehatan masyarakat akibat kejadian infeksi Virus Nipah saat ini berada pada tingkat moderate di tingkat subnasional India. Namun demikian, risiko kesehatan masyarakat di tingkat regional dinilai rendah, begitu pula di tingkat global.
Baca juga : WHO Tanpa Amerika Serikat
Kelima, Virus Nipah memiliki nama ilmiah Henipavirus nipahense. WHO telah memasukkan virus ini sebagai patogen prioritas untuk mempercepat penemuan alat dan upaya penanganan (Medical Countermeasures/MCMs) sebagai bagian dari kesiapsiagaan respons terhadap epidemi dan pandemi. Hal ini termasuk dalam kerangka WHO Research and Development Blueprint untuk epidemi.
Semoga lima hal di atas dapat menjadi bahan bagi kita semua dalam mengantisipasi infeksi Virus Nipah, baik pada masa kini maupun kemungkinan di masa yang akan datang.
Oleh: Prof. Tjandara Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI /Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.