Dark/Light Mode

Rumah Sakit dan Bencana Banjir

Jumat, 23 Januari 2026 07:36 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat membawa dampak yang amat luas di bidang kesehatan, termasuk terhadap pelayanan rumah sakit. Seiring berjalannya waktu, rumah sakit di daerah bencana memang mulai kembali berfungsi. Dan kita berharap akan terus dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam hal ini, kita tentu harus belajar dari pengalaman kejadian bencana untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik di masa mendatang, termasuk dalam aspek pelayanan rumah sakit. Apalagi kita mengetahui bahwa bencana banjir masih sangat mungkin terjadi. Data global menunjukkan bahwa setidaknya 23 persen penduduk dunia berpotensi terdampak banjir dalam berbagai bentuknya. Bahkan, adanya perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming) bukan tidak mungkin akan meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir di berbagai belahan dunia.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat bencana banjir di masa mendatang, setidaknya perlu dilakukan lima hal. Pertama, memahami perilaku banjir (flood behaviour) yang berpotensi mengancam. Kedua, menyusun strategi tentang bagaimana respons kegawatdaruratan menghadapi banjir. Ketiga, melakukan persiapan respons terhadap kemungkinan terjadinya banjir. Keempat, membangun sistem peringatan dan notifikasi adanya banjir (flood warning and notification). Kelima, melaksanakan penanganan kegawatdaruratan bencana banjir serta protokol evakuasi bagi para korban.

Baca juga : Riset Kesehatan Dan Tambahan Anggaran Riset Oleh Presiden

Setelah lima hal di atas yang bersifat umum, setidaknya terdapat dua hal yang perlu dilakukan dalam kesiapan pelayanan rumah sakit menghadapi kemungkinan banjir di masa mendatang.

Pertama, terbentuknya tata kelola rumah sakit yang baik, yang mencakup rencana pelayanan rumah sakit saat bencana (Hospital Disaster Plan), sistem komando pelayanan insidental di rumah sakit (Hospital Incident Command System), pemetaan risiko, serta jalur komando yang jelas mulai dari pimpinan atau direksi hingga seluruh unit pelayanan di rumah sakit. Hospital Incident Command System juga harus mampu mengatur pengalihan layanan ke rumah sakit sekitar, pemanfaatan layanan bergerak dan tenda kesehatan, serta koordinasi logistik melalui berbagai jalur. Seperti jalur darat, laut, dan bila memungkinkan udara, untuk menjangkau wilayah yang terisolasi.

Kedua, perlu ditetapkan dan dilaksanakan perencanaan respons pelayanan rumah sakit pada bencana banjir, atau Hospital Flood Emergency Response Plan (HERP), yang mencakup tiga hal.

Baca juga : Super Flu Di Tahun Baru

Pertama, strategi menyeluruh (comprehensive) untuk menjamin keselamatan dan keberlangsungan pelayanan rumah sakit, yang meliputi kewaspadaan dini, aktivasi, serta sistem komando dan pengendalian (command and control). Kedua, berfokus pada perlindungan pasien dan sumber daya manusia (SDM) petugas rumah sakit melalui komunikasi yang jelas, manajemen sumber daya yang baik, serta perancangan rute evakuasi dan pelaksanaan simulasi secara berkala. Ketiga, menjamin agar pelayanan rumah sakit tetap dapat berfungsi saat bencana banjir dan tetap dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan.

Untuk tujuan tersebut, penekanan kesiapan perlu bergeser dari sekadar kesiapan dokumen menuju kemampuan pelayanan yang benar-benar dapat dijalankan (from document compliance to service continuity compliance). Perlu ditata, antara lain, seberapa cepat IGD dapat kembali berfungsi setelah bencana banjir, berapa persen kapasitas tempat tidur yang dapat segera digunakan, bagaimana rantai pasok obat dan bahan kesehatan lainnya, keberlangsungan layanan penunjang seperti listrik, sanitasi, air bersih, serta berfungsinya sistem rujukan.

Terdapat empat elemen utama dalam Hospital Flood Emergency Response Plan (HERP). Pertama, mitigasi melalui penguatan ketahanan sistem pelayanan rumah sakit. Kedua, mewujudkan kesiapan yang baik melalui pelatihan dan simulasi lapangan (training and drills). Ketiga, pelaksanaan respons dengan aktivasi sistem serta alokasi sumber daya. Keempat, proses pemulihan dan restorasi setelah bencana banjir teratasi.

Baca juga : Tonggak Pencapaian Pengendalian Penyakit Menular Dunia 2025

Tentu kita berharap, jika banjir kembali terjadi di masa mendatang, dampaknya tidak akan seberat yang dialami di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat saat ini. Namun di sisi lain, kita tetap harus siap dan mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk mempersiapkan rumah sakit dengan sebaik-baiknya. Berbagai prinsip yang disampaikan dalam artikel ini dapat menjadi salah satu bahan acuan penting bagi kesiapan rumah sakit di Indonesia.

Prof. Tjandra Yoga Aditama
-Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
-Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara;
-Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit;
-Mantan Kepala Balitbangkes
-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
-Penerima Rekor MURI April 2024
-Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
-Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.