Dark/Light Mode

Penyakit Virus Nipah

Selasa, 27 Januari 2026 07:55 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Media massa dalam dan luar negeri dalam beberapa hari terakhir memberitakan letusan kasus akibat virus Nipah di ­India. Yang menyedihkan, kasus ini bermula dari dua orang perawat di Kota Barasat, Negara Bagian West Bengal, India.

Satu perawat pria dilaporkan telah membaik, sementara perawat wanita masih dalam kondisi kritis dan dirawat di ICCU. Dari dua kasus awal tersebut, penyakit kemudian menyebar ke sedikitnya tiga orang lainnya, sebagaimana dilaporkan pada 19 Januari 2026, yakni seorang dokter, ­perawat, dan petugas kese­hatan di rumah sakit yang sama. Hal ini menegaskan telah terjadi penularan antar­manusia.

Otoritas kesehatan setempat menyebutkan setidaknya terdapat sekitar 100 orang kontak erat dari kasus-kasus tersebut yang kini menjalani karantina dan pengawasan ketat, guna mencegah penyebaran lebih lanjut dari kota yang berde­katan dengan Kalkuta itu.

Penyakit akibat virus Nipah bersifat zoonotik, yakni ­awalnya menular dari hewan ­(seperti kelelawar dan babi) ke manusia. Meski kemudian dapat terjadi penularan ­antar­manusia, sebagai­mana kasus di India saat ini. ­Penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang terkontaminasi. Virus Nipah sangat patogenik dan merupakan virus RNA dari famili Paramyxoviridae.

Baca juga : WHO Tanpa Amerika Serikat

Sejak pertama kali muncul pada 1998–1999 di Malaysia, letusan kasus virus Nipah telah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura—negara-negara yang juga bertetangga dengan Indonesia. Saat saya bertugas sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia ­Tenggara, pernah pula dilaporkan letusan kasus di India dengan kecurigaan adanya kasus di Bangladesh. Hingga kini, tercatat lebih dari 750 kasus infeksi virus Nipah di dunia.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, masa inku­basi berkisar antara 4 hingga 21 hari, meskipun ada laporan yang menyebutkan masa inkubasi bisa lebih panjang.

Gejala penyakit ini sering bermula menyerupai flu (flu-like illness), seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemah. Dua komplikasi utama yang kemudian muncul adalah gangguan paru dan gangguan otak. Pada paru, gejala dapat diawali dengan batuk dan sesak napas, berkembang menjadi pneumonia, dan bila tidak tertangani dapat berujung pada gagal napas.

Gangguan otak dapat berupa ensefalitis, dan pada sebagian kasus disertai meningitis. Pada ensefalitis, pasien dapat menga­lami berbagai gejala neurologis, seperti ke­bingungan, gangguan kesa­daran, kejang, bahkan koma. Pada kondisi berat, angka kematian dapat mencapai 40–75 persen. Perlu disampaikan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah, dan juga belum ada obat spesifik untuk pengobatannya.

Baca juga : 3 Peran Universitas dalam Bencana

Dengan munculnya kasus di India ini, sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan. Thailand, misalnya, melakukan skrining di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang, khususnya bagi pendatang dari Negara Bagian West Bengal. Thailand juga memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan (Health Beware Card) bagi mereka yang datang dari daerah berisiko.

Nepal melakukan ­skrining di Bandara Internasional ­Tribhuvan. Sementara, Taiwan pada 16 Januari 2026 memasukkan penyakit akibat virus Nipah ke dalam kategori 5, yakni penyakit langka yang bersifat emer­ging, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang besar, serta memerlukan deteksi, pelaporan, dan penanganan khusus. Taiwan juga mengeluarkan peringatan ­Level 2 ­(kuning) bagi ­warga­nya yang berencana ­bepergian ke daerah Kerala. Patut dicatat, pada 2018 WHO telah memasukkan ­penyakit akibat virus Nipah ke dalam prioritas penelitian dan pengembangan melalui WHO R&D Blueprint.

Indonesia juga sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memantau secara ketat perkembangan penularan, baik di India maupun di negara-negara tetangga. Koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO) dan Pasifik Barat (WPRO) perlu ditingkatkan, demikian pula pengaktifan ­peran ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases). Terlebih, Indonesia memegang peran penting dalam deteksi dan asesmen risiko (Detection and Risk ­Assessment) di ACPHEED.

Dengan tingginya mobilitas dan kunjungan warga India ke Indonesia, diperlukan penga­matan khusus, setidaknya bagi mereka yang datang dari wilayah Kalkuta dan West Bengal.

Baca juga : Rumah Sakit dan Bencana Banjir

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
-,Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.