BREAKING NEWS
 

Kajian Teosofi (4)

Konsep Al-A’yan al-Tsabitah

Jumat, 6 Maret 2026 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Meskipun al-A’yan al-Tsabitah tidak lagi masuk dalam kategori alam, pembahasan ini juga belum mencapai puncaknya. Masih terdapat tingkat yang lebih tinggi, yaitu level Ahadiyyah dan Wahidiyyah (yang akan dibahas dalam artikel mendatang). Bahkan, terdapat sisi dari level al-a’yan yang masih berada dalam kategori maqam al-khalq atau level alam, yang disebut al-a’yan al-kharijiyyah, yakni sesuatu yang berwujud pada level konkret melalui proses emanasi agung (al-faidh al-muqaddas). Disebut al-a’yan al-kharijiyyah karena berada di lingkaran luar dari al-A’yan al-Tsabitah.

Al-A’yan al-Tsabitah berada pada level Wahidiyyah, atau yang disebut sebagai Pengetahuan Tuhan (‘Ilmiyyah al-Haq). Al-A’yan al-Tsabitah berada pada level pertama dan utama (the principal level) dan tidak pernah berada pada level kedua (the relative level). Keberadaan al-a’yan ini merupakan hasil dari proses tajalli pertama (al-tajalli al-awwal), yang juga disebut emanasi awal (al-faidh al-aqdas).

Proses emanasi berikutnya, yaitu al-faidh al-muqaddas, melahirkan al-a’yan al-kharijiyyah, yaitu keberadaan yang telah aktual, bukan lagi keberadaan potensial. Al-a’yan al-kharijiyyah inilah yang masuk ke dalam the relative level. Dengan kata lain, yang masuk ke level aktual atau relatif hanyalah manifestasinya (madhahir), bukan hakikatnya. Hakikat al-a’yan al-kharijiyyah tidak lain adalah al-A’yan al-Tsabitah itu sendiri, yang tetap berada pada the principal level.

Baca juga : Al-A’yan al-Tsabitah

Dari sinilah kemudian muncul konsep al-mumtani‘at dan al-mumkinat. Potensi wujud (al-a’yan al-tsabitah) yang tidak mungkin termanifestasi menjadi wujud aktual (al-a’yan al-kharijiyyah) disebut al-mumtani‘at. Sebaliknya, potensi wujud yang mungkin atau telah termanifestasi menjadi wujud aktual disebut al-mumkinat.

Dalam konsep al-mumtani‘at, tidak mungkin dijumpai pertentangan atau paradoks antara satu sifat dengan sifat lainnya, misalnya antara al-Zhahir dan al-Bathin, al-Awwal dan al-Akhir, atau al-Jalal dan al-Jamal. Hal ini karena semua sifat tersebut merupakan sifat hakikat ketuhanan (haqaiq al-Ilahiyyah/Divine Realities) yang tidak mungkin berada pada level aktual (al-kharijiyyat).

Adsense

Sebagai entitas yang berada pada level Wahidiyyah, maka al-A’yan al-Tsabitah merupakan sesuatu yang tidak terciptakan (uncreatable). Semua ciptaan (maj‘ul), seperti seluruh jenis alam termasuk para malaikat, adalah wujud yang sudah aktual (kharijiyyah). Oleh karena itu, segala sesuatu yang diciptakan (maj‘ul) tidak dapat disebut sebagai al-A’yan al-Tsabitah.

Baca juga : Apa Itu Alam?

Konsep al-A’yan al-Tsabitah memiliki beberapa tingkatan. Ia bermula dari ta‘ayyun pertama (al-ta‘ayyun al-awwal), yaitu level Wahidiyyah, yang merupakan manifestasi dari Ahadiyyah. Dari kesadaran diri al-Haq pada level Ahadiyyah kemudian lahir level Wahidiyyah. Pada level inilah dikenal konsep al-A’yan al-Tsabitah, yang sebenarnya banyak berbicara tentang bentuk-bentuk ilmu Tuhan (‘Ilmiyyah al-Haq), yang juga disebut al-shuwar al-‘aqliyyah, serta bentuk-bentuk nama-nama Tuhan (al-Asma’ al-Haq).

Memahami konsep al-A’yan al-Tsabitah diharapkan dapat memudahkan kita memahami alam dan diri kemanusiaan kita yang dikenal sebagai makhluk termulia (ahsan taqwim). Pengenalan diri secara komprehensif dengan sendirinya memungkinkan kita memahami Tuhan secara komprehensif pula.

Rasulullah pernah memberi sugesti kepada kita dengan mengatakan: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya). Dalam hadis ini Rasulullah menggunakan fi‘il madhi atau bentuk lampau, yang mengisyaratkan bahwa pada saat manusia memahami dirinya, pada saat itu pula ia memahami Tuhannya. Jadi bukan bersifat sekuensial—memahami diri terlebih dahulu, baru kemudian memahami Tuhan.

Baca juga : Apa Itu Kajian Teosofi?

Semoga Allah SWT. memudahkan kita memahami diri sendiri, sehingga dengan itu kita dapat memahami-Nya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1  & 6, edisi Jumat, 6 Maret 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (4) Konsep Al-A’yan al-Tsabitah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense