Dark/Light Mode

Kajian Teosofi (2)

Apa Itu Alam?

Rabu, 4 Maret 2026 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kata “alam” berasal dari Bahasa Arab, dari akar kata ‘alima–ya'lamu yang berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata ‘alam yang berarti “tanda”, yaitu sesuatu yang dengannya kita dapat mengetahui Tuhan (ma yu‘lam bihi al-syai’). Dari akar kata yang sama juga lahir kata ‘alamah yang berarti alamat.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam alam ini—termasuk seluruh wujud yang ada—merupakan alamat akan adanya Allah SWT. Dalam perspektif Islam, alam adalah tanda keberadaan Allah SWT. Di mana ada alam, di situ ada Dia. Alam itu sendiri dapat dimaknai sebagai alamat Sang Maha Pencipta.

Dalam pandangan teologi Islam (ilmu kalam), alam ini adalah ciptaan (makhluk) Tuhan (al-Khaliq). Dengan demikian, di mana ada alam tentu di situ tidak ada Tuhan, karena makhluk dan Khalik tidak mungkin menyatu.

Baca juga : Apa Itu Kajian Teosofi?

Tuhan dipersepsikan sebagai Zat Maha Tinggi yang terpisah secara diametrik dari makhluk-Nya. Dia bersemayam di puncak ketinggian ‘Arasy, sebagai simbol keagungan-Nya, sementara alam sebagai makhluk berada di bawah.

Dalam pandangan sufistik, terutama yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi, alam (al-khalq) merupakan manifestasi (tajalli) Tuhan Yang Maha Benar (al-Haqq). Alam sebagai tajalli Tuhan tidak mungkin terpisah dari-Nya. Di mana ada alam maka di situ ada Tuhan, karena dalam pandangan Ibn ‘Arabi, alam semesta ini tidak lain adalah penampakan-Nya. Dia Yang Esa tampil dalam keragaman (al-katsrah fi al-wahdah—The Many in the One), dan yang banyak itu menampilkan Yang Maha Esa (al-wahdah fi al-katsrah—The One in the Many).

Dalam pandangan panteisme, alam adalah pancaran atau emanasi Tuhan. Dia tampil sebagai alam. Ibarat Tuhan itu air, limpahan-Nya mewujud dalam bentuk alam semesta, seperti planet-planet dengan berbagai isi dan dinamika perkembangannya masing-masing.

Baca juga : Sosiologi Korupsi (39) Mujahadah Hakim

Dalam agama Hindu terdapat dua asumsi besar. Pertama, pandangan yang menganggap alam sebagai ciptaan Brahma, Sang Pencipta, yang terpisah dari ciptaan-Nya.

Pandangan ini terdapat dalam aliran Vedanta tertentu yang membedakan secara tegas antara Sang Pencipta dan alam. Kedua, pandangan yang melihat alam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Pandangan ini dikenal dalam aliran Advaita Vedanta.

Kalangan saintis pada umumnya memandang alam sebagai suatu keberadaan yang hadir melalui hukum-hukum alam yang bekerja secara independen, tanpa banyak melibatkan diskursus tentang Tuhan (creatio ex nihilo). Mereka lebih menekankan pada prinsip sebab-akibat dalam menjelaskan fenomena alam, sebagaimana dikemukakan oleh Einstein dan para ilmuwan lainnya. Dalam perspektif ini, pembicaraan tentang Tuhan sering kali dianggap berada di luar wilayah sains.

Baca juga : Penyelesaian Secara Politik

Apa pun pandangannya, alam semesta selalu menarik untuk dikaji karena menyimpan begitu banyak misteri. Menafikan keberadaan Tuhan dalam alam semesta memunculkan perdebatan teologis dalam dunia keagamaan.

Ada kelompok yang memandang manusia sebagai makhluk otonom dalam mengelola alam semesta, sementara kelompok lain berpendapat bahwa manusia dan Tuhan berbagi peran dalam pengelolaannya. Allahu a‘lam.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 4 Maret 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (2) Apa Itu Alam?"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.