Pengamat Kebijakan Publik
RM.id Rakyat Merdeka - Saat jutaan rakyat berkemas mempersiapkan mudik Lebaran 2026, jutaan mata dunia lainnya tertuju pada Selat Hormuz; jalur perlintasan minyak dunia. Kawasan tersebut mulai terseret dalam arena perang Iran-Israel yang disokong Amerika Serikat, mengancam peta kebijakan fiskal semua negara secara radikal.
Harga minyak mentah dunia menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel. Angka ini melampaui asumsi dasar makro APBN 2026 yang dipatok pada kisaran 80 dolar AS per barel, serta menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan mata uang dapat menciptakan efek double-hit bagi ketahanan anggaran suatu negara.
Ketahanan Indonesia
Kita memang menghadapi kecemasan itu, tetapi dalam kalkulasi matang, Indonesia telah menciptakan kedaulatan energi nasional untuk dapat melakukan mitigasi dalam situasi apa pun.
Presiden Prabowo Subianto sejak tahun lalu telah mengambil langkah strategis: memutus rantai ketergantungan tunggal melalui diversifikasi pemasok ke 13 negara.
Nigeria di Samudra Atlantik menjadi pemasok terbesar. Secara geografis, negara tersebut steril dari pengaruh perang Timur Tengah.
Pasokan minyak melalui Selat Hormuz hanya mencakup 20 persen dari total impor. Artinya, 80 persen jalur energi luar negeri berada di zona aman. Benteng geopolitik ini dibangun jauh sebelum krisis meledak, sehingga optimisme kian menguat didorong catatan sejarah hulu migas.
Baca juga : Telkomsel Borong 5 Penghargaan Ookla Speedtest Awards 2026
Untuk pertama kali dalam sembilan tahun, realisasi lifting minyak bumi nasional melampaui target APBN, yakni sebesar 605.300 barel per hari. Angka ini memberikan ruang bernapas bagi produksi domestik dari tekanan impor yang mahal.
Pertamina melalui Satgas Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) mengunci stok nasional di level 21–25 hari dalam skema rolling stock. Artinya, stok terus bergerak, diisi ulang setiap detik, dan dipantau secara real-time.
Infrastruktur distribusi mencakup 7.885 SPBU, 6.777 Pertashop, serta 2.074 SPBU Siaga 24 jam di jalur lintas utama arus mudik dan balik. Ketahanan stok Pertalite berada di kisaran 19 hari, Solar 21 hari, dan Avtur mencapai 28 hari.
Menghadapi Mudik Lebaran
Angka-angka ini menjamin pergerakan pemudik tetap lancar tanpa kendala suplai. Distribusi laut diperkuat armada raksasa Pertamina International Shipping (PIS) sebanyak 326 kapal, dengan 179 kapal di antaranya khusus mengangkut BBM domestik. Secara data, kekhawatiran akan kelangkaan menjadi tidak relevan.
Fokus sebaiknya bergeser pada ketahanan fiskal sebagai benteng terakhir. Pemerintah dapat memproyeksikan tambahan beban subsidi dan kompensasi energi mencapai puluhan triliun rupiah akibat deviasi harga minyak dunia dari asumsi awal. Secara teori pasar, minyak seharga 100 dolar AS per barel mengharuskan penyesuaian harga retail.
Dalam hal ini, pemerintah mengambil posisi sebagai social buffer (bantalan sosial), sehingga harga Pertalite dan Solar subsidi tidak akan mengalami perubahan.
Kebijakan tidak menaikkan harga BBM subsidi menjelang Idul Fitri menjadi perwujudan prinsip "ekonomi moral".
Baca juga : Penutupan Selat Hormuz Kerek Harga Minyak, Ini Saran Indef Buat Pemerintah
Pemerintah memilih menanggung guncangan harga global melalui mekanisme fiskal demi menjaga daya beli masyarakat. Bagi pemerintah, kedaulatan energi bukan sekadar soal nilai per barel, melainkan soal menjaga ketenangan psikologis rakyat.
Diversifikasi ini menjadi benteng pertama menghadapi volatilitas global. Kekuatan cadangan devisa yang berada di atas 140 miliar dolar AS memberikan kekuatan tambahan bagi pemerintah untuk mengintervensi pasar valas guna menjaga stabilitas rupiah agar tidak memperburuk beban impor.
Mudik; Mobilisasi Manusia Terbesar
Di balik kegembiraan silaturahmi, mesin logistik harus berputar tanpa henti. Produksi domestik 605 ribu barel per hari menjadi pilar utama di tengah badai impor.
Sinkronisasi data antara hulu (produksi) dan hilir (distribusi SPBU) harus berjalan presisi untuk menjamin mobilitas jutaan orang. Di sinilah letak filosofi kebijakan publik bagi pemerintah. Seperti sering dinyatakan bahwa ekonomi bukan sekadar hitungan angka di atas kertas, melainkan menyangkut bagaimana mengamankan nasib rakyat.
Kebijakan publik untuk menahan harga BBM di tengah tekanan inflasi pangan dan ketidakpastian global menjadi bantalan sosial yang krusial. Pemerintah memikul beban fluktuasi harga dampak gejolak Selat Hormuz melalui mekanisme APBN. Dengan realokasi belanja kementerian yang tidak mendesak, dana dialihkan untuk mempertebal perlindungan sosial.
Bagi Presiden Prabowo, rakyat harus merayakan kemenangan Ramadan dengan tenang. Inilah keberpihakan negara: memastikan krisis di belahan dunia lain tidak merampas kegembiraan Lebaran. Publik harus memahami hal ini sehingga dapat membedakan antara ancaman nyata dan bayangan kepanikan.
Krisis Selat Hormuz harus diwaspadai dengan mata terbuka, bukan dengan kepanikan massal. Mitigasi teknis harus mencakup pengamanan jalur pasokan, optimalisasi kilang domestik, dan penguncian harga subsidi.
Baca juga : Pemkab Bekasi Kebut Perbaikan Jalan Jelang Arus Mudik Lebaran
Walaupun tekanan fiskal meningkat, pemerintah masih memiliki ruang dari sisa anggaran tahun lalu serta kenaikan pendapatan negara dari sektor komoditas lain seperti nikel dan batu bara, yang nilainya ikut terkerek naik akibat krisis geopolitik.
Jika pemerintah sudah memberikan jaminan, maka publik dipersilakan beribadah dengan khusyuk dan mudik dengan hati lapang. Penyelenggara negara hadir melalui teknokrat ESDM dan Pertamina yang bekerja dalam perencanaan matang jauh sebelum perang Timur Tengah meledak. Data menunjukkan arus mudik 2026 melibatkan lebih dari 150 juta pergerakan manusia, dan kesiapan energi menjadi tulang punggung keberhasilan ritual nasional ini.
Lebaran Momentum Kemenangan
Lebaran tahun ini mungkin dibayangi mendung geopolitik Timur Tengah. Namun, dengan sistem energi yang tangguh dan keberpihakan kebijakan, kita semua berharap cahaya Idul Fitri di Indonesia tetap benderang.
Keberanian mengambil beban fiskal demi kestabilan sosial membuktikan bahwa Indonesia memiliki kemandirian politik dan kematangan ekonomi.
Publik diharapkan ikut berpartisipasi menjaga situasi di lapangan, terutama dari pihak-pihak yang ingin "memancing di air keruh" dengan isu-isu kepanikan. Aparat disiagakan di setiap SPBU dan terminal pengisian BBM untuk menjamin pasokan dan prosedur berjalan lancar. Dengan demikian, Lebaran menjadi momentum kemenangan spiritual sekaligus wujud nyata hadirnya negara dalam menjaga ketenangan batin rakyat.
Oleh: Dr. Eko Wahyuanto, Pengamat Kebijakan Publik
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.