Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kapal Pertamina Tertahan Di Selat Hormuz, Bahlil: Sedang Cari Jalur Alternatif
Kamis, 5 Maret 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada aktivitas pengiriman minyak yang dilakukan PT Pertamina (Persero). Sejumlah kapal tanker pengangkut minyak dilaporkan tertahan di kawasan tersebut. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turun tangan untuk memastikan kapal-kapal Pertamina dapat keluar dari wilayah konflik.
Iran resmi menutup Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia, pada Minggu (1/3/2026). Penutupan ini terjadi seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Garda Revolusi Iran bahkan mengancam akan menenggelamkan kapal yang memaksakan diri melintas di jalur tersebut. Kapal tanker yang ngotot lewat langsung di bom Iran. Akibatnya, ratusan kapal tanker dari berbagai negara tertahan di sekitar perairan Selat Hormuz.
Baca juga : Lily Pujiati: Yang Kami Butuhkan Itu THR, Bukan BHR
Di antara kapal-kapal yang terjebak, terdapat dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang tengah mengangkut minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri Indonesia.
Bahlil mengatakan, pemerintah bersama Pertamina tengah menempuh jalur diplomasi guna mengeluarkan kapal tersebut.
“Agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Baca juga : Sudjatmiko: Saya Harap Aplikator Jalankan Aturan Ini
Apabila upaya tersebut tidak membuahkan hasil, pemerintah akan mengambil langkah alternatif dengan membeli minyak dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz. Ia juga meminta masyarakat tidak khawatir karena Indonesia hanya mengimpor sekitar 25 persen minyak mentah dari Timur Tengah.
Menurut Bahlil, sekitar 75 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Amerika Serikat, Brasil, dan Angola. Pemerintah pun membuka peluang memperbesar porsi impor dari Amerika Serikat sebagai alternatif untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional.
Pengalihan impor tersebut, lanjutnya, juga sejalan dengan kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS. Dalam perjanjian itu, Indonesia berkomitmen membeli produk energi senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 253 triliun.
Baca juga : DPR Minta Jadwal Ulang Tak Kena Biaya Tambahan
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, pihaknya terus memantau posisi kapal-kapal tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan awak kapal serta keamanan aset perusahaan di kawasan konflik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya