BREAKING NEWS
 

Lima Dampak Kesehatan Situasi Perang

Rabu, 11 Maret 2026 10:07 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Eskalasi konflik dan perang di kawasan Timur Tengah hingga saat ini masih terus berlanjut. Setidaknya terdapat lima dampak buruk bagi kesehatan dalam situasi perang seperti sekarang ini.

Pertama tentu adalah dampak langsung berupa kematian, cedera, dan penyakit. Jika melihat data perang Israel dan Iran pada Juni 2025 ketika itu, hingga akhir Juni 2025 tercatat lebih dari 1.900 orang meninggal dunia dan lebih dari 4.000 orang mengalami cedera dalam berbagai kondisi. Data pada perang yang sedang berlangsung saat ini belum sepenuhnya diketahui. Namun sejauh ini skala konflik tampak lebih besar sehingga jumlah korban meninggal maupun cedera kemungkinan juga akan meningkat.

Baca juga : PSG Vs Chelsea: 8 Pemain Absen, Duel Berpotensi Pincang

Kedua adalah dampak buruk akibat serangan terhadap rumah sakit. Setidaknya terdapat lima dampak yang dapat terjadi. Pertama, petugas kesehatan dapat terluka. Kedua, terjadi kerusakan pada fasilitas khusus seperti Intensive Care Unit (ICU), ruang rawat kemoterapi, dan fasilitas medis lainnya. Ketiga, kerusakan rumah sakit memaksa pasien harus dievakuasi. Bahkan, akibat serangan bom, sebagian pasien mungkin harus diungsikan ke bunker bawah tanah dengan fasilitas yang sangat terbatas. Keempat, rumah sakit akan mengalami lonjakan pasien sehingga tindakan pembedahan elektif terpaksa ditunda karena tenaga medis harus memprioritaskan operasi darurat. Kelima, gangguan aliran listrik dapat menyebabkan berbagai peralatan medis tidak dapat berfungsi.

Adsense

Ketiga adalah dampak terhadap sumber daya serta sarana dan prasarana kesehatan di daerah konflik. Hal ini meliputi keterbatasan tenaga kesehatan, kekurangan obat-obatan dan alat kesehatan, sementara jumlah pasien yang harus ditangani meningkat tajam. Selain itu, kondisi sanitasi yang memburuk juga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas akibat berbagai penyakit.

Baca juga : Jelang Lebaran 2026, KAI Cek Kesehatan Petugas LRT Jabodebek

Dampak keempat yang juga sangat penting adalah krisis kesehatan mental. Masyarakat di wilayah konflik tentu mengalami tekanan yang sangat berat, trauma psikologis, serta ketakutan akibat suara ledakan bom atau serangan udara. Belum lagi dampak kejiwaan akibat kehilangan anggota keluarga, kehilangan tempat tinggal, tempat bekerja, bahkan kemungkinan kehilangan kota tempat tinggalnya.

Dampak kelima adalah gangguan kesehatan masyarakat secara luas. Dalam konflik peperangan, sistem sanitasi dapat rusak, begitu pula ketersediaan air bersih dan makanan yang sehat. Program vaksinasi rutin juga kemungkinan tidak dapat berjalan dengan baik, sehingga penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) berpotensi kembali merebak dan menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah. Jika terjadi pengungsian warga dalam jumlah besar, maka berbagai masalah kesehatan lain dapat muncul, seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit saluran cerna, dan penyakit menular lainnya.

Baca juga : Kebijakan Ekonomi Perlu Disesuaikan, Situasi Dunia Memburuk

Sebagai penutup, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) pernah menegaskan bahwa obat terbaik adalah situasi damai, “the best medicine is peace.” Sementara itu, World Medical Association—di mana Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merupakan salah satu anggotanya—menyatakan bahwa serangan terhadap rumah sakit merupakan pelanggaran hukum internasional. Organisasi dokter dunia tersebut juga menyampaikan solidaritas kepada tenaga kesehatan dan organisasi profesi kesehatan di wilayah konflik serta mengutuk serangan terhadap fasilitas kesehatan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense