Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap tahunnya, tanggal 7 April (seperti hari ini) diperingati sebagai Hari Kesehatan Sedunia, sesuai dengan tanggal berdirinya World Health Organization (WHO) pada 7 April 1948. Saat saya masih menjadi staf dan Direktur di WHO, peringatan ini selalu menjadi agenda besar. Bahkan, kami di WHO Asia Tenggara pernah merencanakan untuk mengundang peraih Hadiah Nobel sebagai pembicara.
Untuk tahun ini, tema yang dipilih adalah “Together for Health: Stand with Science.” Ada tiga hal penting terkait tema ini yang perlu kita lakukan demi kesehatan bangsa Indonesia.
Baca juga : Marshanda, Hargai Keputusan Anak Lepas Hijab
Pertama, masyarakat dunia—termasuk Indonesia—harus selalu mengedepankan ilmu pengetahuan dalam kebijakan kesehatan. Dari sudut pandang individu, kita perlu memastikan bahwa setiap informasi kesehatan memiliki dasar ilmiah yang benar. Informasi yang beredar di grup WhatsApp atau media sosial, misalnya, perlu dikonfirmasi kebenarannya secara ilmiah. Jangan terlalu cepat percaya tanpa dasar yang jelas. Sebaiknya, informasi dikonfirmasi setidaknya kepada tiga sumber: tenaga kesehatan yang berwenang, lembaga resmi seperti WHO, Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, serta media massa yang kredibel. WHO sendiri menegaskan pentingnya hal ini melalui imbauan: “Stand with science by engaging with evidence, facts, and science-based guidance to protect health.”
Kedua, melalui tema ini, sepanjang satu tahun ke depan akan dilakukan kampanye untuk menegaskan pentingnya kerja sama ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan dalam kerangka konsep One Health. Diperlukan tindakan nyata berbasis ilmu pengetahuan serta kolaborasi multisektoral untuk mengimplementasikan kebijakan kesehatan menjadi aksi konkret di masyarakat melalui pendekatan One Health.
Baca juga : Hari TB Sedunia 2026, Indonesia di WPRO
Ketiga, WHO juga menyampaikan dua kegiatan internasional. Pertama, International One Health Summit pada 7 April, yang diselenggarakan di Prancis dalam kapasitas negara tersebut sebagai Presidensi G7. Kedua, inaugurasi Global Forum of WHO Collaborating Centres pada 7–9 April, yang diikuti hampir 800 organisasi ilmiah dari sekitar 80 negara.
Dalam konteks ini, saya juga pernah berperan memfasilitasi kontribusi Indonesia dalam kerangka One Health di tingkat regional dan global. Saya menjadi koordinator dalam penyusunan draf ASEAN Leaders’ Declaration on One Health Initiative untuk memperkuat arsitektur kesehatan kawasan. Deklarasi ini diadopsi pada KTT ke-42 ASEAN di Labuan Bajo pada 10–11 Mei 2023. Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh perhatian Indonesia terhadap dampak multidimensi pandemi COVID-19, serta potensi muncul dan muncul kembali penyakit menular akibat zoonosis, resistensi antimikroba, dan perubahan iklim.
Baca juga : Sekjen KPI: Teror Air Keras Bukan Kejahatan Biasa
Selain itu, saya juga memfasilitasi pembahasan G20 Lombok One Health Policy Brief dalam kerangka Presidensi G20 Indonesia dan pertemuan Menteri Kesehatan G20 yang dilaksanakan di Lombok pada 8 Juni. Terdapat tujuh area yang dibahas dalam policy brief tersebut, yaitu: peningkatan pemahaman dan advokasi One Health; strategi dan kapasitas dalam Pandemic Preparedness, Prevention, and Response (PPR); pengorganisasian multisektor; aspek pembiayaan; implementasi dan kepemimpinan; alih teknologi dan pertukaran pengalaman; serta monitoring dan evaluasi, termasuk pemanfaatan self-assessment questionnaire.
Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2026. Semoga dunia, termasuk bangsa kita, semakin sehat di masa yang akan datang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.