Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap 21 April kita peringati sebagai Hari Kartini. Dari berbagai dimensi kehidupan perempuan, aspek kesehatan perlu menjadi perhatian penting. World Health Organization (WHO) banyak memaparkan data tentang kesehatan perempuan di dunia yang patut menjadi perhatian, termasuk di Indonesia, khususnya pada momentum Hari Kartini ini.
Data WHO per 7 April 2025 menunjukkan, pada 2023 setiap hari lebih dari 700 perempuan meninggal akibat penyebab yang sebenarnya dapat dicegah (preventable causes) terkait kehamilan dan persalinan. Kematian maternal terjadi hampir setiap dua menit di dunia.
Di sisi lain, dalam periode 2000–2023 terjadi penurunan rasio kematian maternal (maternal mortality ratio/MMR) sebesar 40 persen. MMR adalah jumlah kematian maternal per 100.000 kelahiran hidup. Sekitar 90 persen kematian maternal terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah (low- and middle-income countries/LMICs).
Karena itu, pelayanan oleh tenaga kesehatan profesional sejak masa kehamilan hingga persalinan sangat penting untuk menyelamatkan ibu dan bayi.
Peran tenaga kesehatan di lapangan menjadi krusial. Di sisi lain, kesejahteraan dan keamanan kerja tenaga kesehatan beserta keluarganya juga perlu mendapat perhatian pemerintah.
Baca juga : Mutu Pendidikan Kedokteran
Data global 2023 menunjukkan angka kelahiran pada remaja usia 10–14 tahun diperkirakan mencapai 1,5 per 1.000 perempuan, dengan angka tertinggi di Sub-Sahara Afrika, Amerika Latin dan Karibia.
Pada April 2024, WHO menyebutkan bahwa pada 2019 terjadi sekitar 21 juta kehamilan pada remaja perempuan usia 15–19 tahun, terutama di negara LMICs. Sekitar 50 persen kehamilan tidak direncanakan, dan sekitar 55 persen berakhir dengan aborsi.
Secara kesehatan, remaja perempuan usia 10–19 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan, seperti eklampsia, puerperal endometritis, dan infeksi sistemik, dibandingkan perempuan usia 20–24 tahun. Bayi yang dilahirkan juga berisiko mengalami berat badan lahir rendah dan kondisi neonatal yang kurang sehat.
WHO pada Maret 2024 juga menyoroti kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan oleh pasangan maupun kekerasan seksual merupakan masalah kesehatan masyarakat dan pelanggaran hak asasi manusia.
Diperkirakan, sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Kondisi ini berdampak buruk terhadap kesehatan fisik, mental, seksual dan reproduktif perempuan.
Baca juga : Networking, Kesejawatan, dan Silaturahmi
Sebagai penutup, terdapat lima area penting dalam kesehatan perempuan yang perlu diwujudkan bersama.
Pertama, peningkatan kesehatan perempuan menjadi dasar untuk mencapai universal health coverage, kesetaraan kesehatan, dan kesetaraan gender.
Kedua, status kesehatan berhubungan langsung dengan kualitas hidup perempuan serta mendukung peran mereka dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan politik.
Ketiga, kesehatan seksual dan reproduktif memang penting, namun kesehatan perempuan mencakup aspek yang lebih luas, termasuk kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus hidup.
Keempat, kesehatan perempuan merupakan hasil interaksi faktor biologis dan gender. Norma gender yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidaksetaraan dalam kehidupan sehari-hari maupun akses layanan kesehatan.
Baca juga : Pandemi, Campak, CNN, BPJS, Kanker, TB, dan Halal Bi Halal
Kelima, penanganan kesehatan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh, berbasis kesetaraan, mempertimbangkan seluruh aspek kehidupan, serta berlangsung sepanjang siklus hidup, mulai dari bayi, anak perempuan, remaja, dewasa hingga lansia.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 (PERSI)
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.