Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tentu kita semua amat bersedih dengan meninggalnya para dokter internship dalam beberapa waktu ini. Forum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) menyebutkan, ada empat orang teman sejawat dokter internship yang wafat sejak Februari sampai Mei 2026. Yaitu, dr. Kartika Ayu Permatasari, dr. Edgar Bezaliel Hartanto, dr. Andito Mohammad Wibisono dan di awal Mei adalah dr. Myta Aprilia Azmi.
Pertama, tentu perlu kita kenali apa yang dimaksud sebagai dokter internship. Laman Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa Program Internship Dokter merupakan program penempatan wajib sementara bagi lulusan baru sebagai tahap transisi dari pendidikan akademik menuju praktik profesional. Melalui program ini, dokter tidak hanya diuji kesiapan klinisnya, tetapi juga dipersiapkan untuk menghadapi dinamika pelayanan kesehatan secara nyata di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sedikitnya ada tiga alasan mendasar yang membuat kita amat bersedih dengan wafatnya para dokter internship ini. Pertama, tentu wafatnya seseorang, apalagi sampai empat orang, membawa kesedihan mendalam. Yang wafat tidak akan bisa kembali, keluarga dan kerabat serta dunia kedokteran Indonesia amat berduka.
Baca juga : Komisi IV Minta KKP Usut Tuntas Kabel Laut Ilegal
Kedua, dalam berbagai kesempatan diberitakan bahwa Indonesia kekurangan dokter. Nah, kita tentu jadi amat bersedih karena di awal kariernya keempat dokter internship ini harus kehilangan nyawa mereka, padahal kalau mereka dilindungi dengan baik maka akan memberi peran dalam pelayanan kesehatan di negara kita.
Ketiga, amat menyedihkan sekali karena wafatnya para teman sejawat ini dihubungkan dengan kerjanya dalam menjalankan program internship, sesuatu program yang seharusnya membuat menjadi dokter profesional di lapangan tetapi malah merenggut nyawanya. Kita perlu menyadari bahwa tugas dokter memang berat, baik secara fisik, keilmuan, dan juga secara moral. Karena itu dokter perlu mendapat perlindungan yang memadai dalam menjalankan tugas kemanusiaannya, termasuk tentunya para dokter yang sedang menjalani program internship ini. Jangan sampai karena beratnya beban tugas dan terbatasnya perlindungan yang diberikan maka para dokter, termasuk internship, malah jatuh sakit dan bahkan berakibat fatal seperti yang terjadi sekarang di negara kita.
Jurnal internasional Medscape pada 24 April 2026 menurunkan artikel berjudul “The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients”, yang sejalan dengan situasi yang sekarang kita hadapi. Di artikel ini disebutkan tantangan para dokter dalam kerjanya sehari-hari, yaitu antara lain jam kerja yang amat panjang, tugas jaga malam, tekanan dalam pekerjaan, dan lain-lain, membuat kerja para dokter dapat berdampak buruk pada kesehatan mereka sendiri. Karena itu, sekali lagi, harus ada sistem kerja yang dapat melindungi para dokter. Penentu kebijakan publik harus membuat sistem kerja yang baik dan manusiawi.
Baca juga : Perindo Desak DPR Segera Bahas RUU Pemilu
Di artikel ini juga ditulis tentang suasana kerja para dokter yang dapat menimbulkan stres yang tinggi dan juga kelelahan berkepanjangan (burnout). Keadaan ini akan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan fisik dan mental serta menurunkan kualitas hidup, apalagi kalau sistem kerja tidak mendukung atau malah sebaliknya menekan para dokter dalam kerjanya.
Khusus untuk para dokter internship kita maka ada satu lagi tantangan yang dihadapi. Mereka masih muda sehingga dianggap junior di lingkungannya. Selain itu, mereka jelas punya beban untuk menyelesaikan program internship sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat berprofesi selanjutnya sebagai dokter di masyarakat. Jadi, mereka jelas memerlukan selesainya program internship walau apa pun tantangan yang dihadapi.
Untuk ini maka para penentu kebijakan perlu memperhatikan tiga aspek penting dalam program. Pertama, program untuk penjaminan mutu dan kesiapan dokter sebelum praktik mandiri. Kedua, penentu kebijakan harus memberikan perlindungan agar para dokter internship dapat melakukan tugasnya dengan baik, tanpa tekanan fisik dan mental yang tidak perlu. Ketiga, selama menjalankan tugas internship maka para dokter ini juga perlu terjamin kehidupannya, jangan sampai telantar.
Baca juga : Orasi Ilmiah Prof Yusril, YARSI 59 tahun dan SPS Naik 5 Kali Lipat
Wafatnya empat orang dokter internship kita harus menjadi momentum untuk membuat program yang lebih baik, lebih bermutu, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Dokter sejak 1980
- Guru Besar Ilmu Kedokteran sejak 2008
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.