BREAKING NEWS
 

Etika Politik dalam Al-Qur’an (10)

Merintis Toleransi

Senin, 4 Februari 2019 06:48 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Orang-orang yang beragama lain yang tidak memusuhi Nabi, harus diberi perlindungan. Hanya orang-orang non-muslim dan munafiqun yang selalu mengangkat senjata terhadap Nabi yang perlu dihadapi dengan ketegasan.

Itupun Nabi kalau menjalankan misi perang, tidak membolehkan membunuh anak-anak, orang-orang tua (‘ajuz), perempuan, tidak boleh merusak dan membakar rumah ibadah, tidak boleh mencabut atau mematahkan ranting pepohonan mereka, serta menghancurkan benda-benda budaya mereka.

Adsense

Baca juga : Sosiologi Dakwah Walisongo

Kalau mereka sudah angkat tangan, tidak boleh lagi diperangi. Menarik untuk kita kaji, Nabi pernah mengangkat panglima seorang anak muda yang bernama Usamah, relatif masih di bawah 20 tahun.

Suatu ketika, ia menjebak seorang musuh sehingga terpojok. Lalu, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dilaporkan kepada Nabi oleh sahabat tertentu terhadap kejadian ini. Nabi memanggil Usamah dengan marah dan bertanya, kenapa engkau membunuh orang yang sudah bersyahadat?

Baca juga : Belajar Etika Politik Dari Ratu Balqis (1)

Dijawab oleh Usamah dengan mengatakan, ia bersyahadat karena terpaksa. Hanya ingin cari selamat. Nabi menjawab, sebagaimana dikutip di dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik: Nahnu nahkumu bi aldhawahir wa Allahu yatawalla al-sarair. Yang artinya, kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense