BREAKING NEWS
 

Esports dan Lahirnya Wajah Baru Gotong Royong Indonesia

Rabu, 22 Juli 2026 13:43 WIB
Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Sosial

RM.id  Rakyat Merdeka - Kita sedang menghadapi ironi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Tidak pernah sebelumnya manusia sedemikian mudah terhubung. Dalam hitungan detik, seorang remaja di Makassar dapat berbincang dengan temannya di Malang, mengikuti turnamen bersama peserta dari Pontianak, bahkan menyaksikan pertandingan langsung dari Amerika Serikat. Dunia tidak pernah sedekat ini.

Namun, pada saat yang sama, dunia juga tidak pernah sesepi ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), OECD, hingga berbagai lembaga riset internasional dalam beberapa tahun terakhir terus mengingatkan meningkatnya loneliness epidemic, epidemi kesepian, terutama pada generasi muda. Ironisnya, fenomena tersebut terjadi justru ketika akses terhadap media sosial, internet, dan teknologi mencapai titik tertinggi dalam sejarah manusia. Paradoks inilah yang sering luput dari diskusi kita.

Kita terlalu sibuk bertanya “berapa lama anak bermain gawai?”, tetapi jarang bertanya “bersama siapa mereka bertumbuh?” Padahal, persoalannya bukan semata-mata layar, namun hilangnya ruang untuk menjadi manusia bersama manusia lain.

Selama bertahun-tahun, diskursus mengenai game digital hampir selalu bergerak di antara dua kutub ekstrem. Di satu sisi, game dipuja sebagai industri bernilai miliaran dolar. Di lain sisi, game dicurigai sebagai sumber kecanduan, kekerasan, bahkan keterasingan sosial. Kedua pandangan tersebut sama-sama terlalu sederhana, mengingat yang menentukan bukanlah gamenya, melainkan ekosistem sosial yang dibangun di sekeliling permainan tersebut.

Sebuah tinjauan sistematis yang menganalisis 66 penelitian empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa esports yang dirancang secara terstruktur mampu mengembangkan keterampilan abad ke-21, mulai dari komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, literasi digital, hingga tanggung jawab sosial. Yang paling konsisten ditemukan bukanlah kemampuan teknis bermain, melainkan kemampuan bekerja bersama orang lain.

Baca juga : Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI

Temuan tersebut menarik karena justru membalik asumsi banyak orang, karena selama ini kita menganggap layar memisahkan manusia. Padahal, penelitian menunjukkan, desain interaksi di balik layar-lah yang menentukan apakah teknologi memperkuat atau justru melemahkan hubungan antarmanusia.

Di sinilah saya melihat sesuatu yang menarik dari American Spaces Indonesia Esports Development (ASIED). Banyak orang mungkin hanya melihat sebuah turnamen esports. Saya melihatnya berbeda yaitu sebuah laboratorium sosial. Di sana, anak-anak muda tidak hanya belajar memenangkan pertandingan. Namun, mereka belajar mendengarkan. Belajar dipercaya, mengelola ego, hingga mengambil keputusan ketika waktu tinggal beberapa detik.

Mereka pun belajar tetap tenang ketika tim sedang tertinggal, hingga menerima kekalahan tanpa menyalahkan orang lain. Tidak hanya itu, yang paling penting, mereka juga belajar bahwa kemenangan hampir tidak pernah lahir dari satu orang.

Adsense

Itulah sebabnya saya lebih tertarik melihat siapa yang berdiri di belakang trofi dibandingkan siapa yang mengangkat trofi. Ketika Muhammad Faiz Mubarrak dari American Corner Malang menjadi juara FC Mobile, ketika Dzakky dan Fathir dari Makassar menjadi juara EA SPORTS FC 26, atau ketika Muhammad Wildan Albi dari Semarang memenangkan Shoutcaster Hunt, publik melihat daftar pemenang.

Saya melihat sesuatu yang berbeda, yaitu ketika anak-anak muda dari Malang, Makassar, Pontianak, Semarang, dan Yogyakarta yang sebelumnya mungkin tidak pernah saling mengenal, kini menjadi bagian dari jejaring pembelajaran yang sama.

Baca juga : Setiap Jam, Jalan Raya “Membunuh” Lebih dari 100 Orang di Dunia

Inilah yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai social connectedness, rasa terhubung dengan orang lain, dan social capital, yaitu modal sosial berupa kepercayaan, jejaring, dan norma kolaborasi yang memungkinkan masyarakat berkembang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunitas permainan yang dirancang dengan baik dapat memperkuat rasa memiliki, membangun identitas komunitas, serta mendorong interaksi sosial yang bermakna. 

Bagi saya, inilah yang membuat ASIED menjadi menarik, karena program ini tidak sedang mencetak gamer, melainkan sedang membangun modal sosial. Lebih jauh lagi, saya melihat sesuatu yang sangat Indonesia. Kita sering mengatakan bahwa gotong royong adalah identitas bangsa.

Namun tanpa sadar, kita masih membayangkan gotong royong sebagai orang-orang yang mengangkat bambu, membangun jembatan, atau membersihkan kampung. Padahal abad telah berubah. Gotong royong abad ke-21 mungkin justru terlihat seperti lima anak muda yang memakai headset, berdiskusi cepat, berbagi peran, menyusun strategi, saling melindungi, lalu menang atau kalah bersama. Medianya boleh berubah, tetapi maknanya tetap sama. Dahulu kita bergotong royong dengan tenaga. Hari ini kita bergotong royong dengan rasa percaya.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi algoritma personal, ruang gema (echo chamber), dan budaya “aku”, gotong royong justru menemukan bentuk barunya melalui kolaborasi digital. Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi “Apakah anak-anak bermain game?” melainkan “Apakah mereka bermain sendirian, atau mereka sedang belajar menjadi manusia bersama manusia lain?”

Esports tidak otomatis mendidik, sebagaimana sekolah tidak otomatis menghasilkan karakter. Keduanya membutuhkan desain, pendampingan, aturan, budaya, dan teladan. Tinjauan akademik juga mengingatkan adanya potensi risiko seperti perilaku toksik, agresivitas, atau kecanduan jika ekosistemnya tidak sehat, sehingga manfaat hanya muncul ketika ada tata kelola, kode etik, dan pembinaan dilakukan dengan baik. Di sinilah pelajaran terbesar dari American Spaces Indonesia Esports Development.

Baca juga : Perempuan, Mobilitas, dan Ilusi Solusi: Membaca Ulang Gerbong KRL di Hari Buruh

Di tengah dunia yang semakin digital, mereka mengingatkan kita bahwa investasi paling penting bukanlah pada teknologi, bukan juga pada permainan, melainkan pada hubungan antarmanusia. Karena pada akhirnya, masa depan tidak dibangun oleh kecerdasan buatan semata. Masa depan akan tetap dibangun oleh manusia yang mampu percaya, bekerja sama, memimpin, dan bergotong royong.

Jika teknologi mampu mengembalikan kemampuan itu kepada generasi muda, maka sesungguhnya yang sedang kita bangun bukan sekadar ekosistem esports, melainkan membangun kembali fondasi peradaban.

Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS
Founder Yayasan Ruang Karya Berdampak (Klinik Digital)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense