BREAKING NEWS
 

Agama Sebagai Sendi Peradaban

Senin, 31 Agustus 2026 06:20 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Peradaban dunia semakin cepat berubah. Perubahan peradaban dunia dalam satu abad terakhir setara dengan perubahan yang terjadi selama dua milenium sebelumnya. Menghadapi perubahan budaya dan peradaban ini, harus ada tata nilai yang tetap memandu arah dan kiblat peradaban.

Peradaban baru terbentuk di atas kebebasan nilai serta kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika kedua hal ini bertemu dan sama-sama mengisi peradaban masa depan tanpa mengintroduksi unsur agama, dapat diprediksi seperti apa wujud peradaban masa depan itu. Apakah masih menempatkan manusia sebagai subjek?

Bagaimana dengan nilai-nilai agama yang cenderung memberikan pembatasan terhadap progresivitas keinginan manusia? Apakah agama masih mempunyai tempat di dalam peradaban baru itu atau justru agama akan tampil sebagai protektor terhadap ekspresi kebebasan manusia?

Bagaimana kita sebagai suatu bangsa besar menghadapi gelombang peradaban baru?

Baca juga : Demokrasi Nabi Muhammad SAW

Sebagai bangsa yang berada dalam posisi silang seperti Indonesia, agama harus menjadi sendi peradaban bangsa sebagaimana diamanatkan oleh The Founding Fathers kita, sebagaimana tertera di dalam Pancasila dan Mukadimah UUD 1945.

Jika bangsa Indonesia diharapkan tetap eksis di masa depan, agama harus dipertahankan sebagai pilar peradaban bangsa. Jumlah penduduk yang besar, wilayah yang amat luas dengan kondisi ribuan pulau, letak geografis di posisi silang, serta bahasa dan kebudayaan lokal yang beragam semakin mendesak bangsa ini untuk memiliki strategi kebudayaan dan peradaban yang tepat.

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, selayaknya Indonesia tampil sebagai trendsetter atau imam dalam perkembangan peradaban dunia modern. Hal ini sangat beralasan mengingat Indonesia memiliki banyak potensi strategis yang tidak dimiliki negara dan bangsa lain.

Adsense

Jika pada masa lampau Islam lahir di Timur Tengah (Arab Saudi) dan sekaligus menjadi kiblat dalam peribadatan, maka pada masa depan Indonesia lebih berpotensi untuk menjadi kiblat peradaban dunia Islam.

Baca juga : Demokrasi Nabi Sulaiman

Potensi strategis bangsa Indonesia untuk mendukung gagasan besar ini antara lain adalah besarnya jumlah penduduk sekaligus bonus populasi produktif; wilayahnya yang terluas jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Islam lainnya; letak geografisnya yang berada di posisi silang; serta umat Islamnya yang didukung oleh kebudayaan lembut (soft culture).

Seperti kita ketahui, wilayah Indonesia sangat memungkinkan terbentuknya soft culture karena alamnya yang begitu bersahabat. Sebelum Islam datang, sudah dikenal pula ajaran agama yang tergolong soft culture, seperti Hindu dan Buddha. Hal ini berbeda dengan kultur Timur Tengah yang dibentuk oleh alam yang ganas, seperti wilayah padang pasir, serta budaya penduduk nomaden.

Di samping itu, wilayah Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang sangat cantik dan kaya. Lautnya jauh lebih luas dibandingkan dengan daratannya. Kebudayaan maritim (kelautan) cenderung lebih terbuka dibandingkan dengan kultur kontinental, seperti yang dapat kita saksikan di wilayah Eropa dan Timur Tengah.

Kebudayaan maritim cenderung lebih terbuka, demokratis, dan egaliter dibandingkan dengan wilayah yang berkultur kontinental, meskipun hal ini tidak berlaku secara otomatis.

Baca juga : Demokrasi Ratu Balqis

Indonesia juga relatif lebih aman dari pusat konflik regional Timur Tengah, khususnya Israel. Dengan demikian, Indonesia bisa memegang peran yang lebih besar dalam upaya mewujudkan hegemoni dan kawasan yang lebih damai, terutama dalam upaya menciptakan perdamaian di tengah berbagai konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Mazhab yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia relatif lebih homogen, yaitu Sunni. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Mazhab Sunni sangat membantu meringankan beban pemerintah dalam menyatukan bangsa ini. Pandangan politik Sunni juga sangat akomodatif terhadap pemerintah. Indonesia juga menganut sistem demokrasi yang sangat kondusif.

Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim pertama yang melakukan pemilihan presiden secara langsung. 

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 31 Agustus 2026 dengan judul "Agama Sebagai Sendi Peradaban"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense