Dark/Light Mode
- Atletico Madrid Tekuk Sevilla 3-1, Baena Borong 2 Gol
- Ini 23 Pemain Timnas U-20 Buat Kualifikasi Piala Asia 2027
- Hasil Liga Inggris: Suprs dan Liverpool Gagal Menang, Everton Imbang
- Juventus Atasi Parma, Bianconeri Tempel Napoli di Puncak Klasemen
- Ini Jurus Kementerian UMKM lahirkan 10 juta Wirausaha Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Jika yang dimaksud dengan demokrasi ialah memberikan hak bicara dan hak memilih kepada masyarakat sipil secara luas, maka sesungguhnya Bapak Demokrasi ialah Nabi Muhammad SAW. Masyarakat madani (civil society) yang dibangun di Madinah mengesankan para ilmuwan modern. Tidak kurang dari M Hart yang menempatkan Nabi Muhammad sebagai the best di antara 100 tokoh yang pernah lahir di muka bumi ini.
Thomas Carlyle membatasi hanya 13 tokoh dunia dalam lintasan sejarah dan tetap menempatkan Nabi Muhammad pada peringkat teratas. Beberapa tokoh manajemen juga menempatkan Nabi Muhammad sebagai the best leader dan the best manager.
Banyak sekali contoh yang ditampilkan para orientalis tersebut dalam mendukung kesimpulannya. Suatu ketika, tawanan Perang Badar dalam jumlah besar ditahan di Masjid Nabi. Mereka tentu perlu makan dan minum serta memenuhi kebutuhan asasi mereka, seperti buang hajat dan lain-lain. Nabi mengundang para sahabatnya untuk rapat membicarakan hal ini.
Baca juga : Demokrasi Nabi Sulaiman
Umar berpendapat sebaiknya kita menggunakan hukum perang dalam tradisi Arab: laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak. Abu Bakar tidak setuju karena di antara mereka banyak sekali yang memiliki keahlian dan keterampilan. Abu Bakar mengusulkan agar mereka tidak perlu dibunuh, tetapi diminta mengajarkan keahlian dan keterampilan mereka kepada masyarakat Madinah yang masih banyak kekurangan dalam hal keterampilan.
Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar dan meminta para sahabat untuk mengidentifikasi tawanan perang berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya. Kemudian Nabi meminta dikumpulkan kelompok belajar dengan jumlah maksimum 20 orang dalam setiap kelas dari warga Madinah, baik laki-laki maupun perempuan, untuk diajar oleh mereka.
Tawanan perempuan yang memiliki keahlian salon kecantikan dan keterampilan menyamak kulit segera dibebaskan dengan syarat mengajarkan keterampilan mereka kepada kelompok belajar perempuan. Sedangkan tawanan laki-laki yang memiliki keterampilan membuat senjata canggih, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan keahlian lainnya dibebaskan dengan syarat mengajarkan keterampilan mereka kepada kelompok-kelompok belajar laki-laki.
Baca juga : Demokrasi Ratu Balqis
Efeknya ialah masyarakat Madinah, laki-laki dan perempuan, mendapatkan pembelajaran secara gratis dan dengan sendirinya menghasilkan SDM Madinah yang andal sehingga memberikan daya tahan secara ekonomi. Tawanan perang yang pintar-pintar itu juga diselamatkan dari kematian dan perbudakan.
Para tawanan perang terperangah dengan keputusan Nabi yang mau memaafkan mereka dan selalu memperlakukan mereka secara manusiawi sepanjang menjalani penahanan. Akhirnya, mereka dengan penuh kesadaran dan keikhlasan bersyahadat serta berterima kasih kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka baru sadar bahwa Islam sebagai agama yang diperkenalkan Nabi Muhammad SAW adalah agama kemanusiaan dan penuh kasih sayang.
Dalam kesempatan lain, Nabi pernah mengajak para petani kurma untuk tidak melakukan teknik okulasi, yakni perkawinan antarjenis kurma. Namun, para petani menolak karena dengan cara itu akan lebih produktif. Kemudian Nabi “mengalah” dengan mengatakan: Antum a’lamu bi umuri dunyakum (Kalian lebih tahu urusan dunia kalian).
Baca juga : Makna Esoterik Ummat (2)
Bisa dibayangkan, seorang petani sederhana mendapatkan hak untuk mengubah pendapat orang nomor satu di negerinya. Sebagian muhaddits menceritakan bahwa bahasa Nabi yang sama pernah juga disampaikan ketika pendapatnya disanggah oleh petani dalam kasus pemanfaatan pengairan.
Masih banyak lagi contoh lainnya. Namun, dengan dua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad adalah figur demokrat, bukan figur otoriter. Meskipun beliau Nabi, Rasul, dan Kepala Negara atau pemerintahan, beliau tetap tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada masyarakatnya.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 30 Agustus 2026 dengan judul "Demokrasi Nabi Muhammad SAW"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.