Dark/Light Mode
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Substansi Islam sesungguhnya adalah “Bhinneka Tunggal Ika”, yang sering diartikan sebagai bercerai-berai tetapi tetap satu, atau kesatuan dalam keberagaman. Istilah ini digunakan para founding fathers kita dalam memperkenalkan Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Keberagaman sendiri adalah sunnatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunnatullah. Dalam al-Qur’an ditegaskan: Wa lau sya’a Rabbuka laja’alnakum ummatan wahidah (Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat).
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata atau huruf lau, bukan in atau idza. Dalam kaidah tafsir dijelaskan bahwa apabila Allah menggunakan kata lau (“jika”), sesungguhnya kenyataan yang digambarkan hampir mustahil terjadi. Sementara itu, jika digunakan kata in (“jika”), kemungkinan kenyataan tersebut terjadi atau tidak masih terbuka. Adapun kata idza (“jika/ apabila”) menunjukkan sesuatu yang pasti atau sangat mungkin terjadi.
Masalahnya sekarang, bahasa Indonesia tidak memiliki kosakata yang sepenuhnya sepadan dengan bahasa Arab, sehingga ketiganya kerap diterjemahkan dengan kata “jika” tanpa kualifikasi makna yang memadai. Konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak jarang dipicu oleh sentimen perbedaan penafsiran terhadap kitab suci.
Ada segolongan orang yang mengatasnamakan suatu penafsiran lalu menyerang kelompok lain karena mengklaim dirinya paling benar. Ironisnya, tidak jarang justru kelompok minoritas yang menyatakan kelompok mayoritas atau mainstream sebagai kelompok sesat.
Baca juga : Menghindari Ego Keummatan
Kelompok pemurni ajaran (puritanisme) sering kali mengklaim diri paling benar dan merasa perlu membersihkan ajaran agama dari berbagai khurafat dan bid’ah. Namun, kelompok mayoritas yang menjadi sasaran sering kali tidak menerima serangan pembid’ahan tersebut karena merasa memiliki dasar ajaran yang kuat dan dipandu oleh ulama-ulama besar.
Akibatnya, kelompok mayoritas pun dapat melakukan penyerangan terhadap kelompok minoritas. Sesungguhnya, kasus seperti tersebut di atas bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga kerap ditemukan di negara-negara mayoritas Muslim lainnya.
Penyerangan terhadap aliran yang dianggap “sesat” oleh majelis ulama sering kali menjadikan kelompok tersebut sebagai target. Di antara berbagai golongan terjadi saling pengkafiran, saling mengusir, bahkan saling membunuh karena dipicu oleh perbedaan penafsiran terhadap sumber ajaran agama.
Tentu saja, kenyataan ini sangat disesalkan karena mereka sama-sama berpegang pada kitab suci yang sama, tetapi justru saling bermusuhan satu sama lain. Di Indonesia, yang mengenal motto Bhinneka Tunggal Ika, seharusnya konflik horizontal tidak perlu terjadi.
Baca juga : Kemerdekaan Berkeyakinan
Meskipun suku, etnik, dan agama, dengan berbagai aliran dan mazhabnya, berbeda-beda, persamaan historis sebagai satu bangsa yang pernah mengalami pahit getirnya perjuangan melawan penjajah semestinya dapat menjadi perekat.
Perbedaan-perbedaan tersebut ibarat warna-warni dalam sebuah lukisan; justru keberagaman warna itulah yang membuat lukisan menjadi lebih indah. Nuansa keindonesiaan ini seharusnya mampu melenturkan perbedaan kelompok etnik dan ajaran agama di Indonesia.
Sudah sekian lama konflik horizontal yang serius dan masif tidak terjadi di Indonesia, terutama pada masa proto-Indonesia. Belakangan, setelah Indonesia bersentuhan dengan nilai-nilai kemasyarakatan baru sebagai pengaruh globalisasi, bangsa Indonesia mulai berkenalan dengan konflik horizontal yang bertema keagamaan, meskipun dalam banyak kasus dapat segera diselesaikan secara adat.
Kristalisasi nilai-nilai keindonesiaan telah berhasil mengantarkan bangsa ini menjadi satu kesatuan wilayah geografis dan kultural yang kuat, sehingga mampu mengusir kekuatan penjajah.
Baca juga : Deradikalisasi yang Berkeindonesiaan
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 23 Agustus 2026 dengan judul "Bhinneka Tunggal Ika: Islam (?)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.