Dark/Light Mode
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Egoisme bukan hanya melekat pada individu, tetapi juga dapat melekat pada umat. Dalam Islam, dan mungkin juga dalam agama lain, egoisme tidak pernah berkonotasi positif. Kita perlu berkontemplasi sejenak: betulkah kita sudah menjadi khaira ummah sehingga layak menjadikannya sebagai rujukan untuk menilai orang dan masyarakat lain?
Motivasi apa dan referensi apa yang paling dominan dalam diri kita untuk berjihad mewujudkan khaira ummah? Jangan sampai kriteria yang kita gunakan untuk menyasar orang lain justru lebih menonjolkan subjektivitas kita sendiri yang berbeda dengan orang atau kelompok yang menjadi sasaran. Jangan sampai kita termasuk pihak yang disindir oleh pepatah: “Semut mati di seberang laut kelihatan, gajah mati di pelupuk mata tidak kelihatan.”
Selama namanya manusia, subjektivitas pasti pernah mendominasi dirinya. Dalam keadaan seperti ini, manusia cenderung bukan hanya mengakui dirinya sendiri, tetapi juga berharap orang lain mengakui dirinya.
Baca juga : Kemerdekaan Berkeyakinan
Ada orang yang ingin melihat orang lain seperti keakuan dirinya, bukan sesuai dengan esensi universal yang menjadi inti ajaran agama. Kita sering menjumpai orang yang memaksakan persepsi dan keakuan dirinya untuk diimplementasikan oleh orang lain. Ia kecewa, bahkan marah, jika keinginannya berjarak dengan kenyataan.
Celakanya, terkadang seseorang menggunakan bahasa agama untuk melegitimasi dan menjustifikasi keakuan tersebut, sehingga siapa pun yang berbeda dengan dirinya dianggap salah menurut agama.
Atas nama “kebenaran” itu, seseorang bahkan dapat menghalalkan yang haram, termasuk mengalirkan darah saudaranya sendiri. Kondisi semacam ini bukanlah sesuatu yang ideal dan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang ideal. Kini sudah saatnya kita melakukan internalisasi ajaran agama. Jika nilai-nilai ajaran agama menjadi bagian yang integral, internal, dan inheren dalam diri setiap individu, maka akan tercipta universalitas nilai-nilai ajaran agama dalam lingkungan pacu kehidupan kita. Internalisasi nilai-nilai luhur ajaran agama ke dalam pribadi akan melahirkan kesadaran kolektif dan universal. Betapa tidak, karena kita sudah mampu melihat substansi diri sendiri dalam diri orang lain, bahkan dalam seluruh alam raya.
Baca juga : Deradikalisasi yang Berkeindonesiaan
Setiap kali kita melihat orang lain atau apa pun yang kita lihat, seolah-olah substansi diri kita juga ada di sana. Seolah-olah kata “I”, “You”, dan “He/She/They/It” menjadi tidak relevan lagi. Seolah-olah kata “I”, “You”, dan “He/She/They/It” larut menjadi “We”. Tidak lagi ada kamus “orang lain” di luar diri kita. Kamus aku adalah kamus engkau, dan kamus mereka juga. Dengan demikian, lingkungan sosial akan tercipta sebagai sebuah keindahan. Perbedaan yang ada bukan lagi sesuatu yang menyedot energi, melainkan bagaikan ornamen lukisan yang berwarna-warni, indah, dan menyejukkan hati serta pikiran.
Bukankah alam ini memang sebuah lukisan, lukisan Tuhan (The Painting of God)? Siapa yang menentang realitas pluralis berarti tidak takjub melihat lukisan Tuhan. Orang yang demikian boleh jadi itulah yang dicap dengan ungkapan fi qulubihim maradl (dalam hati mereka ada penyakit). Jika hal ini berlanjut, dikhawatirkan ia berada dalam posisi khatamallahu ‘ala qulubihim (Allah mengunci mati hati mereka), na‘udzu billah.
Sesungguhnya yang ideal ialah bersikap proporsional, yakni melakukan internalisasi yang diiringi dengan eksternalisasi. Kita harus terlebih dahulu menginternalisasikan nilai-nilai ideal itu dalam diri sendiri sebelum menyerukannya kepada orang lain. Nabi bukan hanya mengatakan: Ibda’ bi nafsik (mulailah dari diri sendiri).
Baca juga : Pemerataan Kesempatan Belajar dan Mengajar
Allah SWT juga memperkenalkan nilai-nilai Islam sebagaimana terangkum dalam Al-Qur’an melalui proses internalisasi nilai-nilai substantif (aqidah) yang turun di Mekkah, yang biasa disebut ayat-ayat Makkiyyah, lalu disusul dengan ayat-ayat legal-formalistis untuk kehidupan bermasyarakat di Madinah, yang dikenal sebagai ayat-ayat Madaniyyah.
Sistematisasi penurunan ayat (at-tanzil) berdasarkan kondisi objektif masyarakat tersebut menarik untuk diperhatikan. Sebaiknya kita tidak rancu dalam memperkenalkan ajaran agama.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 22 Agustus 2026 dengan judul "Menghindari Ego Keummatan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.