Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Perubahan sosial tidak bisa dihindari. Kita sekarang berada pada era yang populer disebut sebagai zaman Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Ternyata, dampaknya bukan saja terhadap budaya, tetapi juga terhadap agama. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kini sedang terjadi jarak antara ajaran agama dan lingkungan pacunya. Bahkan, dirasakan bahwa agama juga semakin berjarak dengan pemeluknya. Tidak sedikit orang merasa teralienasi dari ajaran agamanya.
Berbagai kontradiksi sedang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Idealisasi ajaran agama dirasakan tidak lagi simetris dengan realitas kehidupan nyata di dalam masyarakat. Ajaran agama dirasakan semakin dogmatis, normatif, berorientasi pada masa lampau, konservatif, statis, tradisional, tekstual, kualitatif, dan deduktif. Sementara itu, lingkungan pacu kehidupan dirasakan semakin rasional, bahkan liberal; bebas, berorientasi pada masa depan, dinamis, mobil, sophisticated, kontekstual, kuantitatif, dan induktif.
Ajaran agama semakin terasa membebani, membatasi, dan mengikat pemeluknya. Akibatnya, ajaran agama dikesankan kehilangan zona nyaman dan kesyahduannya. Agama tidak banyak lagi menjanjikan ketenangan, kesyahduan, dan kepuasan batin. Sementara itu, lingkungan pacu kehidupan semakin menantang manusia untuk berani melakukan terobosan, memotong jalan untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan, terlepas dari apakah kebahagiaan itu semu atau bukan.
Baca juga : Agama Sebagai Sendi Peradaban
Suasana batin di rumah-rumah ibadah, seperti masjid, gereja, pura, klenteng, dan lain-lain, terasa sangat berbeda dengan suasana di kantor, pasar, dan tempat kerja. Akibatnya, agama bukan saja tidak mampu memberikan tuntunan, tetapi juga terasa tidak connect dengan kehidupan sehari-hari. Padahal, justru ajaran agama diharapkan memberikan tuntunan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Jika jarak ini tidak terselesaikan, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak berupa hipokrisi, kepura-puraan, dan kepribadian ganda (split personality). Bahkan, yang lebih buruk lagi, hal ini bisa melahirkan paham garis keras yang pada akhirnya melahirkan kelompok radikal dan teroris.
Para pemikir dan pemimpin umat diharapkan terus berusaha menyelesaikan persoalan mendasar ini. Langkah pertama yang bisa diambil ialah menjembatani jarak antara teks ajaran dan konteks kehidupan masyarakat. Agama dan realitas kehidupan akhir-akhir ini seolah-olah merupakan dua dunia yang berdiri sendiri. Tidak heran jika kita sering melihat pola hidup yang kontradiktif di dalam masyarakat.
Baca juga : Demokrasi Nabi Muhammad SAW
Di satu sisi, seseorang merupakan praktisi agama, seperti seorang haji, alim, dan rajin menggunakan atribut agama. Namun, di sisi lain, ia tetap lancar mengambil hak orang lain dan hidup dalam bisnis gelap yang tidak beretika.
Ironisnya, masyarakat kelihatannya tidak peduli dengan pola hidup seperti ini. Ini bukan sekadar soal kesalehan individu yang tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial, tetapi di sini terdapat masalah teologis. Seseorang yang saleh secara individual, tetapi tetap kikir dan egois, dianggap lumrah, manusiawi, dan terjadi di mana-mana. Mungkin hal ini bisa diselesaikan melalui penyadaran dan taubat atau istigfar.
Akan tetapi, kepribadian ganda yang seolah-olah mendapatkan legitimasi masyarakat tidaklah sederhana untuk diselesaikan. Sudah pasti ada sesuatu yang salah. Seolah-olah proses dan logika pembumian Al-Qur’an yang selama ini diperkenalkan hanya melegitimasi kelemahan dan subjektivitas manusia, tanpa menunjukkan solusi untuk keluar dari kelemahan tersebut.
Baca juga : Demokrasi Nabi Sulaiman
Kita tidak boleh berhenti hanya pada tataran bagaimana membumikan Al-Qur’an, tetapi juga harus memikirkan bagaimana melangitkan kembali manusia. Kecerdasan Buatan tidak boleh menancapkan manusia hanya di bumi. Tidak ada artinya kita berbicara tentang pembumian Al-Qur’an dengan menggunakan Kecerdasan Buatan tanpa melangitkan kembali manusia.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 7 September 2026 dengan judul "Membaca Arah Perubahan Sosial"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.