BREAKING NEWS
 

Agama dan Negara Harus Saling Mengontrol

Minggu, 13 September 2026 06:05 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Agama dan negara bisa, bahkan harus, saling mengontrol satu sama lain. Agama dapat mengontrol negara agar tidak jatuh menjadi negara sekuler.

Namun, negara juga perlu mengontrol penerapan ajaran agama agar tidak berubah menjadi negara agama. Idealnya, kontrol antara keduanya harus terukur dengan mengacu pada kondisi objektif bangsa.

Jika negara berada dalam kontrol ketat agama, negara dapat menjadi subordinasi dari kekuatan agama dan berubah menjadi negara agama, seperti yang pernah ditampilkan oleh sejumlah negara, antara lain Republik Islam Iran, Pakistan, Afganistan, dan negara-negara lainnya. Sebaliknya, jika negara mengontrol agama secara ketat, agama akan menjadi subordinasi dari kekuatan negara yang diwakili oleh pemerintah.

Jika hal ini terjadi, dikhawatirkan akan muncul dua kemungkinan. Pertama, agama dirangkul dan dijadikan kekuatan legitimasi oleh penguasa untuk meraih loyalitas dan dukungan masyarakat. Kedua, agama dijadikan target atau sasaran kebijakan dan sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh eksistensi serta pengaruh yang luas di dalam masyarakat karena agama dianggap sebagai rival yang juga menuntut loyalitas masyarakat.

Baca juga : Konsep Negara Dalam Agama

Ketika sebuah rezim memperalat agama sebagai kekuatan legitimasi untuk mengukuhkan kekuasaan, pada saat itu agama dapat tampil dengan wajah garang. Hal ini mengingatkan kita pada paruh pertama rezim Orde Baru yang mengontrol agama sedemikian kuat. Seolah-olah agama merupakan bagian dari ancaman strategis terhadap nasionalisme yang perlu diawasi dan dicurigai.

Berbagai akronim menakutkan ikut mengambil bagian, seperti Komando Jihad, kelompok fundamentalis, aliran sesat, NII, dan berbagai istilah lainnya. Aktivis agama sering kali diperhadapkan dengan institusi negara yang menakutkan, seperti Kopkamtib yang pada masa itu memiliki kewenangan amat luas.

Yang ideal sebenarnya ialah agama menjadi partner aktif pemerintah dalam mewujudkan cita-cita NKRI.

Adsense

Sebaliknya, jika sebuah rezim memperalat negara sebagai kekuatan legitimasi guna mengukuhkan kekuasaan, pada saat itu agama dapat ditekan sehingga dianggap sebagai ancaman terhadap nasionalisme yang amat berbahaya.

Baca juga : Bahasa Agama tentang Negara

Negara bisa jatuh ke dalam bentuk totalitarianisme yang menganggap nilai dan ajaran agama sebagai rival bagi nilai-nilai negara yang harus selalu dicurigai. Akibatnya, negara bisa jatuh menjadi negara sekuler.

Sejarah sering kali berulang. Ketika penguasa memegang kendali atas agama dan menggunakannya sebagai kekuatan ekstra untuk melegitimasi kekuasaan, di situ dapat terjadi bencana kemanusiaan yang mengerikan.

Betapa tidak, manusia akan dipaksa tunduk di bawah otoritas penguasa. Siapa pun yang berusaha membangkang dari otoritas tersebut dapat menghadapi malapetaka.

Peristiwa yang menimpa Galileo, yang harus menjadi korban kekuasaan pada zamannya, sering dijadikan contoh akan bahayanya ketika agama menjadi stempel legitimasi penguasa.

Baca juga : Tentang Piagam Jakarta

Idealnya, agama dan negara saling mengontrol dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan luhur bangsa. Jika hal ini dapat dicapai, cita-cita dan tujuan agama serta negara dapat diwujudkan secara paralel. Satu sama lain saling mendukung dan tidak terkesan berada dalam persaingan.

Agama dan negara memang berpotensi berhadap-hadapan satu sama lain karena keduanya menuntut loyalitas penuh dari objek yang sama.

Namun, kita sangat yakin bahwa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dapat berjalan secara serasi dan saling mendukung satu sama lain menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 12 September 2026 dengan judul "Agama dan Negara Harus Saling Mengontrol"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense