BREAKING NEWS
 

Karakter Pluralitas Masyarakat Indonesia

Rabu, 23 September 2026 06:16 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat plural bisa dipahami sebagai suatu masyarakat yang terdiri atas berbagai unsur dengan subkulturnya masing-masing, lalu menjalin kesepakatan untuk menampilkan diri sebagai suatu komunitas yang utuh. Berbeda dengan masyarakat heterogen yang unsur-unsurnya tidak memiliki komitmen ideologis yang kuat.

Masyarakat plural tidak hanya sebatas mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan masyarakat, tetapi pluralisme harus dipahami sebagai suatu ikatan dan pertalian sejati, sebagaimana disimbolkan dalam Bhinneka Tunggal Ika (bercerai-berai, tetapi tetap satu).

Pluralitas juga harus disertai dengan sikap yang tulus menerima kenyataan kemajemukan itu sebagai hikmah yang positif. Di sini, hadis Nabi Muhammad mempunyai arti yang amat penting, yaitu, “Perbedaan yang muncul di antara umatku adalah rahmat.”

Interaksi dinamis—bukan indoktrinasi aktif dari penguasa—dari realitas budaya yang berbeda melahirkan sintesis dan konfigurasi budaya keindonesiaan yang unik. Budaya keindonesiaan ini kelak menjadi wadah perekat (melting pot) yang efektif. Bilamana interaksi dinamis terjadi dalam masyarakat, maka unsur-unsur lokal dan primordial, seperti suku, bangsa, dan agama, berposisi sebagai kekuatan daya penyatu (centripetal).

Baca juga : Konsep Sains dan Teknologi

Akan tetapi, jika interaksi dinamis tidak terjadi dan sebaliknya yang berlangsung adalah indoktrinasi, maka unsur-unsur tersebut akan muncul sebagai daya pemecah-belah (centrifugal).

Membangun visi yang sama di dalam masyarakat plural bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika agama menjadi unsur terkuat di dalam masyarakat plural tersebut. Indonesia adalah suatu bangsa yang dipadati oleh berbagai ikatan primordial sebagai konsekuensi wilayahnya yang luas dan terdiri atas berbagai pulau besar dan kecil, dengan keunikan bahasa dan budayanya masing-masing.

Adsense

Dalam kondisi objektif seperti ini, semua unsur sebaiknya terlibat secara aktif dalam mewujudkan visi itu. Persoalan yang sering muncul dalam pembentukan visi bangsa yang pluralistik ialah masalah representasi. Biasanya, kekuatan mayoritas memperjuangkan value-nya lebih besar di dalam visi kebangsaan, sementara kelompok-kelompok minoritas memperjuangkan unsur kebersamaan tanpa harus menonjolkan faktor representasi.

Di negara-negara Barat, misalnya, value Kristen dan Yahudi muncul sebagai alternatif dominan di dalam masyarakat civil society mereka. Value Islam di dalam masyarakat mayoritas muslim juga diperjuangkan oleh kaum intelektual komunitas tersebut.

Baca juga : Reartikulasi Konsep Perekonomian

Di Indonesia, pembentukan civil society mempunyai tiga kecenderungan. Pertama, kecenderungan untuk memperjuangkan value Islam lebih dominan sebagai konsekuensi populasi umat Islam yang menduduki posisi mayoritas mutlak. Penampilan civil society atau masyarakat madani diidentikkan dengan masyarakat Islam.

Kedua, kecenderungan untuk mengakomodasi semua unsur yang ada dengan tetap memperhatikan unsur-unsur istimewa di dalam masyarakat. Kelompok inilah yang memopulerkan istilah “masyarakat madani” sebagai wacana dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama lima tahun terakhir ini. Ketiga, kecenderungan untuk mengakui kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat sebagai suatu kenyataan final. Kelompok ini tidak memperjuangkan sebuah alternatif ideologis tertentu, tetapi menyerahkannya kepada dialektika masyarakat itu sendiri yang melahirkan visi secara alamiah. Faktor representasi bukan sesuatu yang mutlak, tetapi keutuhan pluralisme lebih ditekankan.

Masalah agama adalah salah satu faktor yang sangat sensitif di Indonesia. Ini dapat dimaklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang setia.

Solidaritas agama biasanya melampaui ikatan-ikatan primordial lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antarumat beragama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus.

Baca juga : Menghindari Polemik Destruktif

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Rabu, 23 September 2026 dengan judul "Karakter Pluralitas Masyarakat Indonesia"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense