Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Sampai dengan penutupan pendaftaran calon Direktur Jenderal WHO pada 24 September 2026, setidaknya ada enam kandidat yang telah disampaikan.
Perlu diketahui bahwa nama-nama kandidat secara resmi baru akan diunggah di laman WHO pada November 2026, setelah pertemuan terakhir WHO Regional Committee.
Seperti diketahui, WHO memiliki enam kantor regional, yaitu Asia Tenggara (South-East Asia, tempat Indonesia dulu tergabung), Pasifik Barat (Western Pacific, tempat Indonesia kini bergabung), Afrika, Eropa, Amerika (Pan American) dan Mediterania Timur (Eastern Mediterranean).
Saya mendapat informasi bahwa setidaknya telah dilakukan pertemuan Regional Committee di Afrika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat. Dalam pertemuan tersebut, empat dari enam kandidat yang kini dibicarakan hadir.
Memang, setiap pertemuan WHO Regional Committee dapat menjadi ajang bagi para kandidat untuk menjelaskan kampanye mereka, baik dalam bentuk rencana program kerja, visi dan misi, platform, manifesto, maupun bentuk lainnya.
Pertemuan WHO Regional Committee Asia Tenggara telah dilaksanakan di Dili, Timor-Leste, sedangkan pertemuan untuk kawasan Pasifik Barat telah dilaksanakan di Manila, Filipina.
Baiklah, kita mengenal keenam kandidat yang ada sejauh ini. Informasi ini sebagaimana disampaikan laman Health Policy Watch pada 25 September 2026, sehari setelah batas akhir pendaftaran kandidat Direktur Jenderal WHO, dalam artikel berjudul “As WHO Nominations For Next Director-General Close, Six Contenders Emerge-But More May Remain Under Seal”.
Baca juga : Hari Paru Sedunia 2026
Disebutkan bahwa kandidat pertama yang terdaftar secara resmi di WHO’s prospective candidate web portal adalah Dr. Hans Henri P. Kluge dari Belgia. Dia terdaftar pada 21 Agustus 2026.
Dr. Hans Kluge merupakan Direktur Regional WHO Eropa. Dia juga menjalani cuti wajib untuk kampanye (mandatory campaign leave). Kluge telah lama berkarier di WHO dan sebelumnya juga pernah bekerja di bidang kemanusiaan bersama Médecins Sans Frontières (MSF).
Kandidat kedua adalah Dr. Hanan H. Balkhy dari Arab Saudi, yang terdaftar secara resmi pada 24 Agustus 2026. Dia merupakan Direktur Regional WHO Mediterania Timur.
Dr. Hanan Balkhy adalah dokter spesialis anak konsultan infeksi. Dia juga pernah menjabat sebagai Asisten Direktur Jenderal WHO bidang Antimicrobial Resistance (AMR). Pada saat yang sama, saya menjadi penanggung jawab AMR di WHO Asia Tenggara pada 2015-2016.
Pada 26 Agustus 2026, terdaftar secara resmi kandidat ketiga, yaitu Dr. Hanan Mohamed Al Kuwari, mantan Menteri Kesehatan Masyarakat Qatar.
Dr. Hanan Al Kuwari juga memiliki pengalaman panjang sebagai Managing Director Hamad Medical Corporation dan pernah menjadi Vice-Chair dalam negosiasi Pandemic Agreement, yang juga pernah saya ikuti dalam pertemuan di kantor pusat WHO di Jenewa.
Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin terdaftar secara resmi pada 31 Agustus 2026 sebagai kandidat keempat.
Baca juga : Klasifikasi Polusi Udara Akibat Kebakaran Hutan
Artikel Health Policy Watch pada 25 September 2026 menyebut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat dari luar bidang medis klinis (unconventional candidacy from outside clinical medicine).
Disebutkan bahwa Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akan mengadvokasi reformasi ekonomi WHO, kedaulatan vaksin bagi negara-negara Selatan (Global South), serta berbagai upaya untuk mengatasi defisit anggaran WHO.
Kandidat kelima adalah Dr. María Neira dari Spanyol, yang resmi terdaftar pada 24 September 2026, atau pada hari terakhir pendaftaran.
Dr. María Neira selama dua dekade memimpin WHO Department of Environment, Climate Change and Health. Program kerjanya menggabungkan kesehatan global, aspek lingkungan bagi kesehatan, serta pentingnya peran pencegahan primer. Dia menyebutnya sebagai ‘massive shift towards primary prevention’.
Kandidat keenam yang ditulis dalam artikel Health Policy Watch tersebut adalah Dr. Gevorg Tamamyan dari Botswana.
Dia merupakan profesor dan pimpinan Pediatric Oncology and Hematology pada Yerevan State Medical University. Dia juga menjabat sebagai CEO Immune Oncology Research Institute dan Presiden POEM Group, yang menaungi 110 institut kanker di 28 negara.
Kita ikuti bersama bagaimana proses selanjutnya dari pemilihan pimpinan tertinggi WHO ini. Semoga proses tersebut memberikan manfaat besar bagi kesehatan dunia.
Baca juga : Erupsi Anak Krakatau Dan Kesehatan
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia.
- Mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan serta Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dari PERSI, serta
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.