Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan penting di negara kita. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada 2025 tercatat 682 ribu kasus dan 99 kematian akibat malaria di Indonesia.
Lebih dari 95 persen kasus malaria di negara kita berada di Papua. Selain Papua, beberapa provinsi lain juga masih melaporkan kasus malaria, termasuk Maluku.
Pada 28 Juli 2026 di Kota Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, saya memberikan presentasi pada seminar tentang pengendalian malaria dan dengue. Saumlaki berjarak sekitar 590 kilometer dari Ambon, tetapi “hanya” sekitar 500 kilometer dari Darwin, sehingga termasuk wilayah terluar Indonesia yang juga dilengkapi stasiun radar dan berbagai fasilitas strategis lainnya.
Seminar Umum Program Pengendalian DBD dan Malaria tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, INPEX Masela Ltd., dan PT Medika Prakarsa Indonesia (MEDSA), dengan mengusung tema “Sinergi Membangun Fondasi Kesehatan untuk Pembangunan yang Berkelanjutan.”
Baca juga : Dokter Internship Kita Kembali Meninggal
Perlu diketahui pula bahwa laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia memberitakan Presiden Prabowo Subianto secara resmi memulai groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela pada Kamis, 16 Juli 2026. Acara tersebut dilaksanakan secara hibrida melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, dan lokasi groundbreaking di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.
Ada lima hal yang saya sampaikan mengenai malaria dalam seminar tersebut. Pertama, penyebab malaria adalah parasit Plasmodium, sedangkan penularannya melalui nyamuk Anopheles. Kedua, diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskop sebagai gold standard. Selain itu, diagnosis juga dapat dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan pemeriksaan PCR. Ketiga, pengobatan malaria menggunakan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) dan dihidroartemisinin-piperakuin. Untuk malaria berat diberikan artesunat dalam bentuk injeksi.
Keempat, pengendalian vektor dan lingkungan merupakan kunci penting pengendalian malaria, antara lain melalui penggunaan kelambu berinsektisida, Indoor Residual Spraying (IRS), pengelolaan genangan air, dan manajemen lingkungan. Kelima, kerja sama dengan masyarakat, termasuk para tokoh masyarakat setempat, merupakan kunci penting keberhasilan program.
Saya juga menyampaikan tiga hal mengenai dengue. Pertama, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Kedua, Indonesia pada 2025 menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus dengue setelah Brazil.
Baca juga : Dokter Kita Kembali Meninggal, Amat Menyedihkan
Ketiga, pengendalian vektor dan lingkungan juga menjadi kunci utama pengendalian dengue, terutama melalui gerakan 3M Plus yang telah dikenal luas dan harus diimplementasikan secara nyata di lapangan.
Setelah seminar, dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) mengenai rencana dan langkah pengendalian malaria di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Beberapa hal dibahas, antara lain penjajakan kemungkinan perluasan program pengendalian malaria yang didukung INPEX Masela Ltd. dan dilaksanakan PT Medika Prakarsa Indonesia (MEDSA), dari empat desa yang saat ini menjadi lokasi program, yaitu Saumlaki, Bomaki, Lermatang dan Latdalam, ke desa-desa lainnya.
FGD juga membahas kemungkinan pelaksanaan skrining di pelabuhan dan bandara, antisipasi penyakit dan masalah kesehatan lainnya seperti tuberkulosis (TB), HIV, serta kesehatan ibu dan anak. Selain itu, dibicarakan pula sistem kesehatan yang tepat untuk diterapkan di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Diharapkan berbagai pembahasan dalam FGD tersebut dapat ditindaklanjuti dan diwujudkan sesuai kebutuhan, demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Baca juga : Buku Dari Warga untuk Warga di HUT ke-499 Jakarta
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan,
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI 2024,
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI, dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.