Dark/Light Mode

Pengendalian Malaria Di Kepulauan Tanimbar

Sabtu, 1 Agustus 2026 08:06 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Malaria masih menjadi salah satu masalah kese­hatan penting di negara kita. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada 2025 tercatat 682 ribu kasus dan 99 kematian akibat malaria di Indonesia.

Lebih dari 95 persen kasus malaria di negara kita ber­ada di Papua. Selain Papua, ­beberapa provinsi lain juga masih ­melaporkan kasus malaria, termasuk Maluku.

Pada 28 Juli 2026 di Kota Saumlaki, ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, saya memberikan presentasi pada seminar tentang pengendalian malaria dan dengue. Saumlaki berjarak sekitar 590 kilometer dari ­Ambon, tetapi “hanya” sekitar 500 kilometer dari Darwin, sehingga termasuk wilayah terluar Indonesia yang juga dilengkapi stasiun radar dan berbagai fasilitas strategis lainnya.

Seminar Umum Program Pengen­dalian DBD dan Ma­laria tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Kegiatan ini merupakan hasil kolabo­rasi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, INPEX Masela Ltd., dan PT Medika Prakarsa Indonesia (MEDSA), dengan mengusung tema ­“Sinergi Mem­bangun Fondasi Kese­hatan untuk Pembangunan yang Berkelanjutan.”

Baca juga : Dokter Internship Kita Kembali Meninggal

Perlu diketahui pula bahwa laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia memberitakan Presiden Prabowo Subianto secara resmi memulai groundbreaking Proyek Strate­gis Nasional (PSN) Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela pada Kamis, 16 Juli 2026. Acara tersebut dilaksanakan secara hibrida melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, dan lokasi groundbreaking di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Ada lima hal yang saya sampaikan mengenai malaria dalam seminar tersebut. Pertama, penyebab malaria adalah parasit Plasmodium, sedang­kan penularannya melalui nyamuk Anopheles. Kedua, diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan mikroskop seba­gai gold standard. Selain itu, diagnosis juga dapat dilakukan dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan pemeriksaan PCR. Ketiga, pengobatan malaria menggunakan Artemisinin-based Combination Therapy (ACT) dan dihidroartemisi­nin-piperakuin. Untuk malaria berat diberikan artesunat dalam bentuk injeksi.

Ke­empat, pengendalian vektor dan ling­kungan merupakan kunci penting pengendalian malaria, antara lain melalui penggunaan kelambu berinsektisida, Indoor Residual Spraying (IRS), pengelolaan genangan air, dan manajemen lingkungan. Kelima, kerja sama dengan masyarakat, termasuk para tokoh masyarakat setempat, merupakan kunci penting keberhasilan program.

Saya juga menyampaikan tiga hal mengenai dengue. Pertama, penyakit ini disebab­kan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes ­aegypti. Kedua, Indonesia pada 2025 menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus dengue setelah Brazil.

Baca juga : Dokter Kita Kembali Meninggal, Amat Menyedihkan

Ketiga, pengendalian vektor dan lingkungan juga menjadi kunci utama pengen­dalian ­dengue, terutama melalui ­gerakan 3M Plus yang telah dikenal luas dan harus diimplementasikan secara nyata di lapangan.

Setelah seminar, dilaksa­nakan Focus Group Discussion (FGD) mengenai rencana dan langkah pengendalian malaria di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Beberapa hal dibahas, antara lain penjajakan kemungkinan perluasan program pengendalian malaria yang didukung INPEX Masela Ltd. dan dilaksanakan PT Medika Prakarsa Indonesia (MEDSA), dari empat desa yang saat ini menjadi lokasi program, yaitu Saumlaki, Bomaki, Lermatang dan Latdalam, ke desa-desa lainnya.

FGD juga membahas kemungkinan pelaksanaan ­skri­ning di pelabuhan dan ban­dara, antisi­pasi penyakit dan masalah ke­sehatan lainnya seperti tuberkulosis (TB), HIV, serta kesehatan ibu dan anak. Selain itu, di­bicarakan pula sistem kesehatan yang tepat untuk diterapkan di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Diharapkan berbagai pembahasan dalam FGD tersebut dapat ditindaklanjuti dan diwujudkan sesuai kebutuhan, demi me­ningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Baca juga : Buku Dari Warga untuk Warga di HUT ke-499 Jakarta

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana ­Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Dirjen Pengen­dalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian ­Kesehatan,
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kese­hatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI 2024,
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI, dan Penerima Penghargaan ­Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.